Dalam ajang NetApp Insight Xtra 2026 di Singapura, Michael Thiotrisno, Country Manager NetApp Indonesia, mengungkapkan bahwa dunia kini sedang bersiap menghadapi tantangan besar yang disebutnya sebagai era kiamat enkripsi.
Saat ini, perlindungan data umumnya mengandalkan tingkat enkripsi dan kata sandi yang kompleks. Namun, Michael memperingatkan bahwa seberapa pun hebatnya proteksi enkripsi saat ini, hal tersebut dapat dengan mudah dipecahkan oleh quantum computing. Sebagai gambaran, kata sandi rumit yang saat ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibobol, nantinya dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit saja.
Mengantisipasi risiko tersebut, Michael menekankan pentingnya adopsi teknologi Post-Quantum Cryptography (PQC). Berbeda dengan metode keamanan tradisional, PQC dirancang untuk tetap tangguh bahkan ketika komputer kuantum telah tersedia secara luas di pasar. "Kita tidak cuma menggunakan encryption level, tapi menggunakan teknologi PQC untuk memastikan informasi yang kami simpan tetap aman, bukan untuk saat ini saja, tapi untuk nanti," tegas Michael.
Strategi ini menjadi krusial bagi perusahaan di Indonesia yang kini mulai menyadari bahwa target utama serangan siber bukanlah jaringan, melainkan data sebagai aset paling berharga. Michael menjelaskan bahwa edukasi mengenai keamanan data di Indonesia sudah semakin tinggi, di mana korporasi mulai memahami bahwa hilangnya atau terenkripsinya data oleh pihak luar dapat melumpuhkan seluruh operasional perusahaan.
Selain teknologi PQC, NetApp mendorong implementasi Zero Trust berbasis data melalui teknologi Write Once, Read Many (WORM). Pendekatan ini membuat data bersifat tamper-proof atau anti-modifikasi. Dengan prinsip ini, data hanya bisa ditulis sekali dan dibaca berulang kali, sehingga tidak ada celah bagi pihak asing untuk melakukan enkripsi ilegal atau mengubah isi data tersebut.
Tantangan bagi perusahaan di Indonesia saat ini bukan hanya pada aspek teknologi, melainkan juga kebijakan. Michael menyebutkan kesalahan terbesar sering kali terletak pada kurangnya ketelitian dalam memilah hak akses data. "Policy siapa yang bisa baca, siapa yang bisa tulis, dan siapa yang bisa edit itu harus ditepatkan dua arah antara teknologi dan kebijakan," tambahnya.
Adopsi teknologi canggih ini hadir di tengah tantangan ekonomi global yang cukup berat di tahun 2026. Michael menyoroti adanya keterbatasan suku cadang semikonduktor yang memicu lonjakan harga memori secara signifikan, bahkan hingga lima kali lipat.
Meski biaya investasi perangkat keras meningkat, Michael meyakini bahwa perlindungan data melalui infrastruktur cerdas adalah investasi yang jauh lebih efisien dibandingkan risiko kehilangan reputasi atau kegagalan produksi akibat serangan siber.
Bagi perusahaan Indonesia, memilih teknologi yang mumpuni sejak dini adalah langkah strategis untuk memastikan keberlangsungan bisnis di tengah badai ancaman kuantum yang kian nyata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News