Ilustrasi: PANDI
Ilustrasi: PANDI

Menyongsong Digitalisasi Aksara Pegon

Teknologi teknologi internet pandi
Lufthi Anggraeni • 24 November 2020 09:15
Gresik: Menyusul beberapa aksara nusantara, Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) segera melakukan digitalisasi aksara Pegon demi tak punah digilas oleh perkembangan dunia digital selama ini.
 
Aksara Pegon adalah huruf Arab yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu untuk menuliskan bahasa selain Arab. Selama ini, aksara Pegon digunakan dalam penulisan naskah-naskah kuno di kalangan pesantren dalam bahasa Jawa. Penggunaan aksara Pegon juga tersebar di berbagai daerah di nusantara hingga semenanjung Melayu.
 
Gagasan ini tercetus dalam sebuah pertemuan antara tim PANDI dan pengasuh Pondok Pesantren Al Ikhlash, Mulyorejo, Dalegan, Kec Panceng, Kab. Gresik, Jawa Timur.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hadir dalam pertemuan itu Ketua PANDI Yudho Giri Sucahyo, Heru Nugroho, dan dua staf PANDI Chika Hayuningtyas dan Alicia Nabilla Wardhani. Sementara pihak Pondok Pesantren diwakili oleh ketuanya, K.H. Alfin Sunhaji, M.Pd dan pegiat aksara nusantara, Diaz Nawaksara.
 
Yudho mengatakan, gagasan ini merupakan bagian dari program “Merajut Indonesia melalui Digitalisasi Aksara Nusantara” yang selama ini sudah dijalankan dengan melakukan digitalisasi aksara Jawa, Bali, Sunda, Rejang, Batak, dan Bugis.
 
PANDI melakukan hal ini untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah sebagai wujud nasionalisme yang dituangkan dalam bentuk upaya digitalisasi aksara nusantara warisan leluhur, agar generasi muda dapat mengenal dan memahami aksara-aksara asli daerah terdahulu yang kini kian terkikis zaman.
 
Digitalisasi ini nantinya akan memudahkan proses pembinaan dan pengembangan aksara Pegon karena bisa diakses dan tersedia di perangkat mobile dan merupakan bentuk pelestarian budaya lokal agar bisa tetap hidup dan mengikuti zaman.
 
Menurut Yudho, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Lebih dari 700 (tujuh ratus) bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri, yang masing-masing memiliki aksaranya sendiri.
 
Gagasan digitalisasi ini sengaja dimulai dari bawah agar memunculkan semangat memiliki dari komunitas pendukung aksara yang bersangkutan. Pondok Pesantren Al Ikhlas yang berlokasi persis di pantai utara Kabupaten Gresik ini dibangun tahun 2007.
 
Ia bukan merupakan pesantren warisan, melainkan pertama kali didirikan oleh K.H. Alfin Sunhaji (52 tahun) yang merupakan warga asli desa Mukyorejo, Dalegan.
 
KH. Alfin selain memimpin pondok pesantren juga dikenal sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Cabang Gresik, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa Dalegan dan juga memimpin Orkes Melayu. Kompleks pesantren tanpa dinding pembatas ini menyatu dengan rumah-rumah warga di desa pantai ini.
 
“Ibarat gayung bersambut, kami mendukung penuh gagasan ini (digitalisasi aksara) karena bisa melestarikan budaya pesantren di era digitalisasi, yang penting arahnya kemana (positif) kita mengikuti, yang penting jangan kemana-mana,” ucap K,H Alfin Sunhaji.
 
Makna lafal Pegon itu sendiri berasal dari lafal Jawa pego, yang berarti menyimpang, karena memang menyimpang dari literatur Arab dan Jawa. Oleh karena itu, dalam perbincangan soal gagasan tersebut mengemuka persoalan bahwa aksara Pegon, belum ada standarisasi.
 
Ada sejumlah perbedaan antara pengguna di komunitas tertentu dengan pengguna di komunitas lainnya dalam menerapkan aksara Pegon sesuai dengan yang dimaksud. Namun, mereka sama-sama memahami aspek keterbacaan aksara Pegon yang digunakan karena yang penting mereka dapat memahami apa yang dimaksudkan dalam bacaan beraksara Pegon tersebut.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif