Penggemar Bobol dan Curi Data Sensitif Apple
Remaja Australia mencuri data sensitif Apple sebesar 90GB. (AFP PHOTO / Emmanuel DUNAND)
Jakarta: Seorang remaja asal Melbourne, Australia menembus sistem keamanan jaringan internal Apple lebih dari satu kali dan mengunduh data sebesar 90GB selama satu tahun. Data yang dia curi ini seharusnya aman.

Dia meretas jaringan Apple dari rumahnya menggunakan alat-alat dan instruksi yang tersimpan dalam PC miliknya dalam folder bernama "hacky hack hack", lapor The Age. Dia juga sempat mengakses akun-akun milik pelanggan Apple.

Sayangnya, tidak banyak informasi yang muncul tentang bagaimana sang remaja meretas sistem Apple. Namun, dikabarkan, dia menggunakan Virtual Private Networking (VPN), menurut laporan Digital Trends.


VPN pada dasarnya berfungsi untuk menciptakan "jalan" yang aman di internet, meniru perilaku koneksi jaringan privat lokal. Perusahaan biasanya menggunakan VPN untuk mengakses jaringan pusat dari tempat lain. Ini penting karena VPN mengenkripsi semua data yang ditransfer dan biasanya tidak bisa ditembus oleh hacker.

VPN juga bisa digunakan untuk kepentingan individu. VPN tidak hanya menyembunyikan alamat IP Anda yang sebenarnya, tapi juga memungkinkan Anda untuk memilih negara asal dari IP palsu Anda. Ini memungkinkan mengakses konten yang tidak tersedia di negara Anda.

Dalam kasus ini, sang remaja menggunakan VPN untuk menyembunyikan identitas, alamat IP dan alamatnya yang sebenarnya.

Selama satu tahun, dia mengakses sistem internal Apple dan mendapatkan "kunci otorisasi" untuk masuk ke akun pelanggan. Dia membanggakan pencapaiannya melalui WhatsApp.

Peretasan yang dia lakukan ini menyebar begitu luas sehingga informasi tentang kasus itu harus dibatasi. Apple bahkan mengaku bahwa mereka sangat hati-hati dalam hal publisitas kasus ini.

Setelah Apple sadar apa yang terjadi, mereka memblokir akses sang remaja dan menghubungi FBI. Karena sang hacker ada di Australia, FBI kemudian menghubungi Polisi Federal Australia (AFP) yang mendapatkan izin penggeledahan pada 2017.

Menurut penuntut, polisi menemukan dua laptop Apple yang berisi nomor serial untuk mengakses sistem internal Apple dan akun pelanggan. Mereka juga menyita hard drive dan ponsel ketika melakukan penggeledeahan.

Satu hal yang menarik dari kasus ini adalah sang remaja meretas Apple karena dia adalah "fan" dari perusahaan itu. Dia bahkan mengaku bahwa dia ingin bekerja di Apple.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.