Senior Lecturer Law Resources Monash University memberikan tanggapan soal insiden robot mematahkan jari anak.
Senior Lecturer Law Resources Monash University memberikan tanggapan soal insiden robot mematahkan jari anak.

Robot Patahkan Jari Anak 7 Tahun Jadi Pelajaran untuk Regulator

Lufthi Anggraeni • 06 Agustus 2022 12:20
Jakarta: Beberapa pekan lalu, beredar pemberitaan terkait robot yang mematahkan jari anak berusia tujuh tahun dalam turnamen catur di Rusia. Hal ini memicu berbagai komentar dari pengguna internet, mereferensikan insiden ini dengan film Terminator.
 
Selain itu, komentar publik terkait insiden ini juga menegaskan kekhawatiran dalam komunitas soal peningkatan penggunaan robot di masyarakat. Sejumlah pengguna internet bergurau bahwa robot tersebut memiliki tingkat kesabaran yang buruk.
 
Senior Lecturer Law Resources Monash University Maria O’Sullivan menegaskan bahwa robot tidak dapat mengekspresikan karakteristik yang dimiliki oleh manusia pada umumnya seperti kemarahan, setidaknya untuk saat ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


O’Sullivan menyepakati bahwa komentar tersebut mewakili peningkatan kekhawatiran dalam komunitas terkait humanisasi dari robot. Komentar lain mewakili bahwa insiden ini menjadi awal mula revolusi robot, membangkitkan gambaran robot tersebut serupa pada sejumlah film populer, seperti RoboCop dan The Terminator.
 
Berdasarkan insiden di Rusia, O’Sullivan berpendapat bahwa robot dirancang untuk beroperasi dalam situasi yang pasti. Dengan kata lain, robot tidak dapat mengambil keputusan terkait tindakan yang tepat saat berhadapan dengan insiden yang tidak terduga.
 
Sehingga dalam kasus anak dengan jari patah ini, lanjut O’Sullivan, pejabat catur Rusia menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi akibat korban melanggar regulasi keamanan dengan mengambil gilirannya terlalu cepat.
 
Satu penjelasan dari insiden ini adalah bahwa saat sang anak bergerak dengan cepat, robot salah mengira jari anak sebagai bagian dari bidak catur. Terlepas dari alasan teknis terkait tindakan robot, O’Sullivan menyebut hal ini mendemonstrasikan adanya bahaya tertentu yang memungkinkan robot untuk berinteraksi secara langsung dengan manusia.
 
Komunikasi manusia, jelas O’Sullivan, memang rumit dan membutuhkan perhatian terhadap suara dan bahasa tubuh. Sementara itu, robot belum cukup canggih untuk memproses petunjuk tersebut dan bertindak sesuai dengan kondisi yang terjadi.
 
Terlepas dari bahaya interaksi manusia dan robot yang didemonstrasikan via insiden catur ini, kerumitan tersebut belum dipertimbangkan secara memadai dalam hukum dan kebijakan di Australia, negara pusat Monash University.
 
Karenanya, pemerintah di berbagai negara disebut O’Sullivan perlu mempertimbangkan untuk melakukan perubahan dalam hukum dan kebijakan terkait dengan robot berteknologi kecerdasan buatan (AI).
 
Pemerintah diimbau untuk menetapkan persyaratan kuat terkait keamanan produk untuk benda yang dipasarkan di negara mereka. Hal ini termasuk ketentuan untuk standar keselamatan, pemberitahuan peringatan keselamatan, dan tanggung jawab produsen atas cacat produk.
 
Dengan menggunakan undang-undang ini, jelas O’Sullivan, pembuat robot dalam insiden catur akan bertanggung jawab atas dampak yang dialami oleh anak tersebut.
 
(MMI)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif