Memang, kedua aplikasi itu menyasar pasar yang tidak terlalu besar, tapi, fitur keamanan mereka menarik bagi orang-orang yang peduli akan kerahasiaan pesannya, atau mereka yang tinggal di bawah rezim yang memata-matai masyarakatnya sendiri.
Perusahaan analisis aplikasi asal Boston, Apptopia memerhatikan pertumbuhan pengguna Telegram dan Signal di negara-negara yang disebutkan sebagai negara paling korup.
Perusahaan itu juga membandingkan pertumbuhan pengguna kedua aplikasi itu di negara-negara yang paling korup dan yang paling baik menurut Transparency International.

Pertumbuhan pengguna Telegram, WhatsApp dan Signal di negara-negara yang korup dan negara paling tidak korup.
Di negara-negara yang dianggap korup, Apptopia menemukan bahwa pertumbuhan pengguna aktif bulanan Telegram dan Signal jauh lebih tinggi dari pertumbuhan di negara-negara yang dianggap memiliki pemerintahan yang baik.
Di negara-negara korup, pertumbuhan pengguna Signal mencapai 147 persen. Sementara di negara-negara yang dianggap baik, pertumbuhan penggunanya hanya mencapai 11 persen. Pertumbuhan pengguna Telegram juga menunjukkan tren serupa.
Pada 2017, pengguna mereka tumbuh 118 persen di negara korup, sementara di negara-negara yang dianggap paling baik, pertumbuhan pengguna mereka hanya mencapai 99 persen. Memang, perbedaan pertumbuhan pengguna Telegram tidak sebesar Signal, meski perbedaan itu tetap cukup tinggi.
Negara-negara yang dianggap korup adalah Venezuela, Nigeria, Kenya, Rusia dan Ukraina. Sementara negara yang dianggap yang paling baik adalah Denmark, Swedia, Swiss dan Selandia Baru.