NEWSTICKER
Ilustrasi: Bitsrc
Ilustrasi: Bitsrc

Belanja Iklan di Aplikasi Indonesia Capai Rp10 Triliun

Teknologi teknologi aplikasi
Cahyandaru Kuncorojati • 18 Februari 2020 07:55
Jakarta: Perusahaan atribusi mobile AppsFlyer merilis laporan proyeksi tiga tahunan global terkait Belanja Iklan di Aplikasi.
 
Laporan ini diklaim sejalan dengan melesatnya pertumbuhan belanja iklan di kawasan Asia Pasifik yang meningkat dua kali lipat (104 persen) dari USD29,9 miliar pada tahun lalu menjadi USD61,1 miliar pada tahun 2022.
 
Tren kenaikan itu akan didorong oleh pertumbuhan tingkat penginstalan aplikasi, yang diproyeksikan meningkat dari USD204 miliar pada tahun 2019 menjadi USD258 miliar pada tahun 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Laporan State of Mobile 2019 tersebut juga menyebutkan Indonesia, Tiongkok, India dan sejumlah negara di Afrika mengalami lonjakan pengguna aplikasi yang signifikan sehingga berimbas terhadap angka pembelanjaan konsumen mencapai USD120 miliar secara global pada tahun 2019.
 
Secara global, AppsFlyer memproyeksikan lonjakan belanja iklan di aplikasi yang akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2020 dengan nilai yang mencapai USD118 miliar.
 
Proyeksi tersebut berdasarkan pada model prediktif, yang mengambil sampel data selama periode 2017-2019 dengan cakupan lebih dari 30 miliar instal non-organik, USD48 miliar belanja iklan, dan 72 ribu aplikasi.
 
Indonesia merupakan pasar yang mengalami pertumbuhan sangat pesat, dengan 106 juta pengguna internet seluler pada tahun 2019 dan diprediksi akan mencapai angka 126 juta pada tahun 2022.
 
Pada tahun 2019, nilai belanja iklan di aplikasi Indonesia mencapai USD800 juta. Untuk wilayah yang lebih luas, Laporan e-Conomy SEA 2019 menyebut bahwa masyarakat Asia Tenggara adalah pengguna internetmobile tersibuk di dunia.
 
Hal ini menunjukkan bahwa pengguna internet seluler di Indonesia, Filipina dan Malaysia merupakan bagian dari 10 besar negara-negara pengguna internet mobile terbesar di dunia. Tren terkini bagi pengguna seluler Indonesia di antaranya adalah pembayaran digital, menonton video dan game, dan lainnya.
 
"Sebagai pasar dengan prinsip mobile-first, bahkan mobile-only, tidak dapat diragukan bahwa kawasan Asia Pasifik menjadi yang terdepan dalam ekosistem teknologi global," kata Managing Director & President APAC AppsFlyer Ronen Mense.
 
"Jika Tiongkok dan India telah lama menjadi pemain ekosistem utama, ekonomi seluler yang berkembang pesat khususnya di Indonesia, akan terus mendorong pertumbuhan eksponensial kawasan ini. Hal inilah menjadikan alasan AppsFlyer untuk membuka kantor di Indonesia.”
 
Kehadiran negara dengan pasar yang besar seperti Tiongkok, India, Indonesia, dan Jepang menjadikan Asia Pasifik pemegang porsi terbesar dalam nilai belanja iklan di aplikasi, dengan lebih dari separuh anggaran belanja dunia hingga tahun 2022.
 
Sebagai perbandingan, pertumbuhan pengguna internet seluler di Amerika Utara hanya akan mencapai angka 5 persen pada tahun 2022, sementara Eropa mewakili lanskap yang lebih beragam dari belanja iklan.
 
Eropa akan menambah 16 juta pengguna internet pada tahun 2022 (tumbuh 6 persen), sedangkan kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menambah sekitar 60 juta pengguna seluler atau tumbuh 20 persen, sementara kawasan Sub-Sahara Afrika bisa tumbuh dua kali lebih cepat.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif