Uni Eropa telah menyetujui sanksi untuk penyerang siber di masa mendatang.
Uni Eropa telah menyetujui sanksi untuk penyerang siber di masa mendatang.

EU Setujui Sanksi Serangan Siber

Teknologi teknologi
Lufthi Anggraeni • 21 Mei 2019 08:10
Jakarta: Uni Eropa (EU) dilaporkan telah menyetujui rangkaian sanksi otomatis untuk menghukum penyerang siber di masa depan. Beberapa minggu sebelum pemilihan EU Parliament, pemerintah di Brussel menyetujui sanksi untuk serangan siber.
 
Sanksi ini akan mengenakan sanksi berupa pembekuan aset dan pelarangan perjalanan untuk individu. Engadget melaporkan sanksi ini tidak menyebutkan target secara spesifik, namun EU berharap sistem baru ini akan mempermudah 28 anggota negara untuk bertindak lebih cepat terkait serangan siber.
 
UK Foreign Secretary Jeremy Hunt menyebut langkah ini sebagai langkah penentu untuk menghalangi serangan siber di masa mendatang. Sebab, sejumlah pelaku disebut telah bertahun-tahun mengancam keamanan EU melalui serangan infrastruktur penting.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Serangan ini disebut Hunt juga berupaya untuk mempengaruhi demokrasi dan mencuri rahasia komersial dan uang yang bernilai sebesar miliaran Euro. Rusia dan Tiongkok secara reguler terlibat dalam perang siber melawan EU dan negara lain.
 
Kedua negara ini juga dilaporkan menjadi dalang di balik sejumlah serangan berprofil tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Pada awal tahun ini, peretas yang disponsori Tiongkok terungkap sebagai dalang dari serangan pada perusahaan software Norwegia, Visma, dan perusahaan pesawat Airbus.
 
Peretas ini mencuri email pribadi dari ratusan politisi Jerman pada bulan Desember lalu. Pada bulan September, dua mata-mata Rusia tertangkap menggunakan alat siber untuk menyabotase laboratorium pertahanan Swiss, bertugas untuk menganalisa agen saraf yang digunakan untuk meracuni mantan Agen Rusia Sergei Skripal.
 
Pemimpin EU telah menyuarakan kekhawatiran mereka bahwa Rusia akan mengintervensi pemilihan European Parliament, yang dilaksanakan pada 23 Mei hingga 26 Mei mendatang.
 
Dilaksanakan setiap lima tahun sekali, pemilihan EU Parliament ini akan menjadi yang pertama sejak kampanye disinformasi Rusia menyasar pada pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2016.
 
Kampanye ini menyebabkan negara lain meningkatkan kewaspadaan mereka pada perilaku serupa, dan sebanyak total 751 kursi tersedia untuk pemilihan EU Parliament ini.
 
Perusahaan keamanan FireEye melaporkan pada awal tahun ini, peretas Rusia telah menargetkan badan pemerintahan Eropa, serta outlet media di Prancis dan Jerman.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif