Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr. Laksana Tri Handoko.
Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr. Laksana Tri Handoko.

LIPI: Ilmuwan Juga Butuh Regenerasi

Teknologi indonesia teknologi
Lufthi Anggraeni • 11 Maret 2019 17:46
Jakarta: Mengumumkan kesiapan penyelenggaraan ajang tahunan ISE 2019, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutnya sebagai salah satu bentuk dorongan bagi kaum muda untuk tertarik menekuni dan mendalami bidang ilmu pengetahuan sebagai ilmuwan atau peneliti.
 
“Peneliti hingga saat ini belum menjadi bidang pekerjaan yang diminati oleh generasi muda, terutama generasi Z yang kini lebih menyukai bidang pekerjaan kreatif lainnya. Padahal ilmuwan juga butuh regenerasi,” ujar Kepala LIPI Laksana Tri Handoko.
 
Selain melalui pameran ilmu pengetahuan ISE ini, salah satu upaya lain yang dilakukan LIPI dalam mendorong regenerasi ilmuwan di Indonesia adalah dengan merekrut ilmuwan tanah air di luar negeri untuk kembali dan berkarya di negeri sendiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Handoko menyebut bahwa LIPI telah melakukan perekrutan diaspora dalam tiga tahun terakhir. Setiap tahunnya, lanjut Handoko, jumlah peneliti Indonesia yang bekerja di luar negeri dan kembali ke tanah air mengalami peningkatan.
 
LIPI berharap dapat merekrut kembali sebanyak 100 peneliti Indonesia di luar negeri setiap tahunnya, mulai dari 2019. Sementara itu, upaya perekrutan yang dilakukan LIPI selama tiga tahun terakhir baru dapat memboyong kembali sebanyak sekitar 30 peneliti Indonesia.
 
Disinggung soal kendala, Handoko mengakui masalah teknis memegang peran besar dalam menghambat proses perekrutan peneliti diaspora tersebut. Salah satunya kurangnya signifikansi antara skema khusus perekrutan yang diterapkan LIPI dengan regulasi pemerintah.
 
Saat ini, LIPI memperkirakan jumlah peneliti Indonesia yang bekerja di luar negeri mencapai ribuan orang. Perkiraan ini mengacu pada jumlah peneliti yang lolos beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LDDP) pada dua tahun lalu, dengan total sebanyak 13 ribu orang.
 
Dengan batas pendidikan minimal S3 atau bergelar Doktor, LIPI menyakini jumlah peneliti diaspora yang dapat direkrutnya dapat berjumlah sekitar dua ribu orang. Namun, LIPI berharap dapat merekrut lebih banyak peneliti diaspora lainnya.
 
Regenerasi ilmuwan ini juga diamini oleh dua peneliti Indonesia, yaitu Puji Rahmadi, peneliti Oseanografi Ekologi Lingkungan LIPI dan Eddwi Hesky Hasdeo, peneliti Fisika Komputasi Material LIPI. Keduanya menyebut Indonesia menawarkan lebih banyak peluang untuk mengembangkan diri ketimbang di luar negeri.
 
Puji mengaku Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki lahan penelitian yang luas, dengan banyak bidang yang belum diteliti oleh pihak lain. Sedangkan Hesky menyebut, Indonesia memberikan kebebasan lebih besar untuk meneliti bidang dan material, yang hanya bisa diteliti ilmuwan bergelar profesor di luar negeri.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif