Meta dilaporkan membayar influencer untuk mempromosikan Teen Accounts di tengah meningkatnya regulasi pembatasan media sosial bagi remaja.
Meta dilaporkan membayar influencer untuk mempromosikan Teen Accounts di tengah meningkatnya regulasi pembatasan media sosial bagi remaja.

Meta Bayar Influencer Lawan Larangan Medsos Remaja

Lufthi Anggraeni • 19 Agustus 2026 10:21
Ringkasnya gini..
  • Meta dilaporkan membayar influencer untuk mempromosikan Teen Accounts di tengah meningkatnya larangan medsos bagi remaja.
  • Kampanye menyasar orang tua dengan menonjolkan fitur keamanan dan kontrol bagi akun remaja.
  • Strategi Meta muncul saat Australia dan sejumlah negara lain memperketat aturan penggunaan media sosial oleh anak.
Jakarta: Meta dilaporkan menggunakan influencer berbayar untuk mempromosikan fitur keamanan bagi pengguna remaja di tengah meningkatnya tekanan pemerintah berbagai negara untuk membatasi akses anak ke media sosial.
 
Laporan tersebut diungkap Tech Transparency Project (TTP), dan kampanye Meta itu disebut bertujuan memperkenalkan fitur Teen Accounts kepada orang tua dan masyarakat ketika sejumlah pemerintah mempertimbangkan atau menerapkan pembatasan usia minimum untuk penggunaan media sosial.
 
Mengutip Digital Trends, strategi tersebut menempatkan influencer, khususnya kreator konten parenting dan gaya hidup, sebagai bagian dari upaya komunikasi Meta. Mereka digunakan untuk menyampaikan pesan mengenai fitur keamanan platform sekaligus menanggapi kekhawatiran publik terhadap penggunaan media sosial oleh anak dan remaja.

Langkah Meta muncul ketika perusahaan menghadapi tekanan regulasi yang semakin kuat. Australia telah memberlakukan pembatasan media sosial bagi pengguna di bawah 16 tahun, sementara negara lain juga mempertimbangkan aturan serupa atau bentuk pembatasan berbeda.

Meta Promosikan Teen Accounts

Salah satu fokus kampanye Meta adalah Teen Accounts, fitur yang dirancang untuk memberikan perlindungan tambahan bagi pengguna remaja di Instagram dan platform Meta lainnya. Melalui sistem tersebut, akun remaja memperoleh pengaturan privasi dan konten lebih ketat. 
 
Orang tua juga mendapatkan sejumlah alat pengawasan sehingga dapat membantu mengatur pengalaman anak saat menggunakan platform. Meta dilaporkan menggelar kegiatan seperti acara bertema keselamatan digital untuk memperkenalkan fitur tersebut. 
 
Influencer parenting dan gaya hidup kemudian membantu menyebarkan informasi mengenai kemampuan perlindungan bagi akun remaja kepada audiens mereka. Meta menyatakan kerja sama dengan influencer bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai fitur keamanan dan kontrol orang tua. 
 
Namun, laporan TTP menilai strategi tersebut perlu dilihat dalam konteks tekanan regulasi yang sedang dihadapi Meta. Perdebatan mengenai efektivitas pendekatan ini berkaitan dengan pertanyaan lebih besar tentang fitur keamanan bawaan platform cukup untuk melindungi anak. 
 
Sejumlah kritikus menilai berbagai alat tersebut belum mampu mengatasi seluruh risiko, termasuk paparan terhadap konten berbahaya. Penggunaan influencer juga membuat komunikasi mengenai keamanan platform menjadi lebih dekat dengan audiens. 
 
Pesan tentang perlindungan remaja dapat disampaikan melalui figur yang sudah memiliki hubungan dengan pengikutnya, terutama orang tua dan keluarga. Namun, pendekatan tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi promosi. 
 
Ketika influencer menerima bayaran dari perusahaan, hubungan komersial tersebut perlu dipahami audiens agar mereka dapat membedakan promosi berbayar dari rekomendasi pribadi.
 
Meta Bayar Influencer Lawan Larangan Medsos Remaja

Tekanan Regulasi Meningkat

Kampanye Meta berlangsung ketika pemerintah di berbagai negara meningkatkan perhatian terhadap dampak media sosial terhadap anak dan remaja. Australia menjadi salah satu negara yang menjadi contoh paling signifikan. 
 
Australia memberlakukan aturan yang melarang pengguna berusia di bawah 16 tahun memiliki akun pada platform media sosial tertentu sejak bulan Desember 2025. Meta kemudian melakukan penindakan terhadap akun yang diduga milik pengguna di bawah batas usia tersebut.
 
Menurut Meta, hingga tanggal 30 Juni 2026 perusahaannya telah menghapus akses terhadap lebih dari 750.000 akun Facebook dan Instagram di Australia yang dinilai dimiliki pengguna berusia di bawah 16 tahun. 
 
Angka tersebut mencakup akun yang ditindak sebelum dan setelah aturan mulai berlaku. Meta menggunakan teknologi untuk membantu mengidentifikasi pengguna yang kemungkinan masih berada di bawah batas usia. 
 
Meta mengatakan penegakan aturan tersebut masih berlangsung dan jumlah akun yang ditindak dapat terus bertambah. Sebagai informasi, Australia bukan satu-satunya negara yang memperketat aturan. 
 
Indonesia juga menerapkan kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun pada 2026. Negara lain, termasuk sejumlah negara Eropa, turut membahas pendekatan serupa dengan batas usia dan mekanisme berbeda.
 
Perkembangan tersebut meningkatkan tekanan terhadap perusahaan teknologi untuk membuktikan bahwa mereka mampu memberikan perlindungan memadai bagi pengguna anak tanpa menunggu pemerintah memberlakukan larangan lebih ketat.

Perdebatan soal Efektivitas Fitur Keamanan

Di tengah tekanan tersebut, keberadaan Teen Accounts menjadi bagian penting dari argumen Meta bahwa perlindungan anak dapat dilakukan melalui fitur keamanan, pengaturan privasi, dan kontrol orang tua tanpa harus menerapkan larangan menyeluruh.
 
Meta dapat menunjukkan bahwa perusahaan telah mengambil langkah untuk membatasi pengalaman pengguna remaja. Namun, efektivitas fitur tersebut tetap menjadi bagian dari perdebatan lebih luas.
 
Sejumlah pakar dan kelompok pemerhati keselamatan anak menilai fitur keamanan tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan. Anak dan remaja masih dapat berusaha menghindari pembatasan, sementara penentuan usia pengguna juga menjadi tantangan teknis bagi platform.
 
Situasi di Australia menunjukkan persoalan tersebut secara nyata. Meta telah menindak ratusan ribu akun yang dinilai memenuhi kriteria usia, tetapi laporan mengenai masih adanya pengguna di bawah 16 tahun di berbagai platform menunjukkan bahwa penerapan pembatasan usia tidak sederhana.
 
Di sisi lain, penerapan larangan juga menghadirkan persoalan tersendiri. Pemerintah harus mempertimbangkan privasi, kebebasan berekspresi, mekanisme verifikasi usia, serta kemungkinan anak mencari cara untuk melewati pembatasan.
 
Perdebatan ini semakin kompleks karena setiap negara memiliki pendekatan regulasi berbeda. Sebagian pemerintah mendorong larangan berdasarkan usia, sementara lainnya mempertimbangkan kewajiban verifikasi usia, kontrol orang tua, atau tanggung jawab lebih besar bagi perusahaan teknologi.

Meta Hadapi Pilihan Strategis

Penggunaan influencer untuk mempromosikan Teen Accounts memperlihatkan bagaimana Meta tidak hanya mengandalkan teknologi untuk menghadapi tekanan tersebut. Perusahaan juga berusaha membangun komunikasi publik mengenai fitur perlindungan yang telah tersedia.
 
Strategi ini dapat membantu Meta menjangkau orang tua secara lebih langsung. Namun, kampanye tersebut juga menghadapi tantangan kepercayaan publik terhadap perusahaan teknologi, terutama ketika isu perlindungan anak menjadi perhatian regulator dan masyarakat.
 
Pada akhirnya, perdebatan tidak hanya berkaitan dengan apakah Meta memiliki fitur keamanan bagi remaja, tetapi juga apakah fitur tersebut cukup efektif untuk memenuhi standar perlindungan anak yang diharapkan pemerintah dan masyarakat.
 
Untuk saat ini, Teen Accounts tetap menjadi salah satu instrumen utama Meta dalam menghadapi meningkatnya tuntutan perlindungan pengguna muda. Sementara itu, penggunaan influencer berbayar menunjukkan perusahaan semakin aktif mengomunikasikan pendekatan tersebut kepada publik ketika tekanan terhadap industri media sosial terus meningkat.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA