Penipuan Digital ASEAN
Penipuan Digital ASEAN

GSMA Ungkap 45% Kasus Penipuan di ASEAN Belum Terselesaikan

Mohamad Mamduh • 12 September 2026 10:04
Ringkasnya gini..
  • GSMA menemukan 45% kasus penipuan yang dilaporkan di enam negara Asia Tenggara masih belum terselesaikan.
  • Sebanyak 8% konsumen yang disurvei mengaku menjadi korban penipuan dalam 12 bulan terakhir.
  • AI, deepfake, kloning suara, dan pemalsuan identitas membuat ancaman penipuan digital semakin kompleks.
Jakarta: GSMA mengungkap hampir separuh kasus penipuan yang dilaporkan konsumen di Asia Tenggara masih belum menemukan penyelesaian. Temuan tersebut menjadi sorotan karena meningkatnya ancaman penipuan digital dinilai dapat mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap layanan dan ekosistem digital.

Dua laporan terbaru GSMA yang diperkenalkan dalam M360 ASEAN Digital Trust Summit menyoroti pentingnya kepercayaan digital bagi masa depan transformasi digital di kawasan ASEAN. Seiring perkembangan ekonomi digital, kecerdasan buatan atau AI, hingga layanan pemerintahan digital, masyarakat membutuhkan rasa aman saat menggunakan berbagai layanan berbasis teknologi.

Laporan GSMA ASEAN Consumer Scam Report 2026 menemukan bahwa 45% kasus penipuan yang dilaporkan di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam masih belum terselesaikan.

Kondisi tersebut turut memengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap berbagai saluran komunikasi, platform digital, serta aktivitas berbagi data. Sejumlah konsumen yang mengalami kasus penipuan juga mulai mengubah cara mereka menggunakan layanan digital dan merespons komunikasi yang diterima.
 

Hampir 1 dari 10 Konsumen ASEAN Pernah Jadi Korban Penipuan

GSMA mencatat sekitar 8% konsumen yang disurvei mengaku menjadi korban penipuan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Dari kelompok korban tersebut, sebanyak 68% mengalami kerugian secara finansial.

Namun, sebagian besar korban yang mengalami kerugian belum berhasil mendapatkan kembali uang mereka. Sebanyak 82% korban tidak dapat memulihkan kerugian finansial, sementara hanya 10% yang berhasil mendapatkan kembali seluruh kerugian yang dialami.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pengalaman menjadi korban penipuan dapat memengaruhi perilaku konsumen. Mereka yang pernah terdampak memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat untuk berpindah ke rekening atau penyedia layanan lain dibandingkan konsumen yang belum pernah menjadi korban.

Kekhawatiran terhadap penipuan digital juga cukup tinggi di kawasan Asia Tenggara. Sebanyak 96% konsumen mengaku khawatir menjadi korban penipuan atau peretasan.

Selain itu, hampir sembilan dari 10 konsumen telah mengenali setidaknya satu bentuk pemanfaatan AI dalam aksi penipuan. Aplikasi messaging menjadi salah satu saluran yang paling sering dikaitkan dengan pengalaman penipuan, dengan 41% kasus terjadi melalui platform komunikasi tersebut.
 

AI dan Deepfake Jadi Tantangan Baru Kepercayaan Digital

Perkembangan teknologi turut membuat bentuk penipuan digital semakin kompleks. GSMA menyoroti penggunaan AI yang memungkinkan pelaku membuat phishing, deepfake, kloning suara, hingga pemalsuan identitas digital dengan cara yang semakin meyakinkan.

Situasi tersebut membuat masyarakat maupun organisasi semakin sulit membedakan interaksi digital yang asli dengan aktivitas yang bertujuan melakukan penipuan. Karena itu, kemampuan untuk memverifikasi identitas dan mengautentikasi komunikasi menjadi semakin penting.

Dalam laporan Digital Nations 2026: Building Trusted Digital Ecosystems in ASEAN, GSMA mengidentifikasi empat fondasi utama untuk membangun kepercayaan digital. Keempatnya meliputi identitas, komunikasi, jaringan yang tangguh, dan intelijen kolektif.

Penguatan keempat fondasi tersebut membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, regulator, operator seluler, institusi keuangan, hingga platform digital.

Kolaborasi juga dinilai penting untuk mencegah fraud sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar. Dengan ekosistem digital yang lebih aman dan tepercaya, transformasi digital di kawasan ASEAN diharapkan dapat terus berkembang sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia usaha.

(Zalsabila Natasya)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA