Aik Jin Tan, Vertical Solutions Lead, Zebra Technologies Asia Pacific.
Aik Jin Tan, Vertical Solutions Lead, Zebra Technologies Asia Pacific.

4 dari 10 Pasien Khawatir Masalah Supply Chain di Industri Farmasi

Teknologi teknologi corporate transformasi digital zebra technologies
Mohammad Mamduh • 17 Desember 2021 10:32
Jakarta: Zebra Technologies merilis temuan-temuan menarik dari Pharmaceutical Supply Chain Vision Study.
 
Penelitian ini mendapati adanya ketidakpercayaan pasien terhadap obat yang mereka terima dan segmentasi di dalam supply chain farmasi, termasuk pihak yang memproduksi, mendistribusikan, meresepkan dan mengeluarkan obat-obatan tersebut.
 
Sebanyak 43 persen pasien mengatakan takut akan timbulnya penyakit lain dan/atau kematian yang disebabkan oleh obat yang sudah terkontaminasi atau tercemar, tanpa adanya upaya untuk memperbaiki supply chain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Efikasi dan keamanan obat ada di urutan pertama bagi pasien, dengan tiga dari empat pasien menyatakan mereka agak atau sangat khawatir terhadap ketidakefektifan obat dalam mengobati kondisi atau penyakit mereka.
 
Sebanyak tujuh dari 10 pasien khawatir saat menerima dosis obat yang tidak sesuai karena kesalahan dalam pelabelan; obat hasil pencurian, terkontaminasi, tercemar, kadaluarsa, atau palsu; obat yang tidak ditangani/disimpan dengan benar selama masa transit dan kemungkinan mengalami kerusakan atau efikasinya hilang.
 
Pasien tahu bahwa supply chain yang di bawah standar akan berisiko pada kualitas obat dan efikasinya. Pasien ingin lebih diyakinkan bahwa obat yang mereka konsumsi aman dan asli.
 
Sebanyak sembilan dari 10 pasien mengatakan akan cukup atau sangat penting jika mereka bisa memverifikasi keaslian obat yang diberikan kepada mereka, memastikan bahwa obat tidak dirusak dan memastikan bahwa obat yang sensitif terhadap suhu tetap disimpan di kisaran suhu yang disarankan.
 
Menurut survei ini, pasien juga mengharapkan produsen obat menunjukkan cara mereka memproduksi/menangani obat (81 persen) dan pengangkutan/penyimpanan obat (82 persen). Sebanyak 80 persen mengatakan penting untuk memverifikasi sumber bahan-bahan obat, termasuk negara asal dan standar lokal obat itu sendiri.
 
Selain itu, 79 persen dari responden mengatakan ingin tahu obat mereka berasal dari sumber yang berkelanjutan dan mengkonfirmasi bahwa produsennya menggunakan teknik yang memperhatikan kelestarian lingkungan, perlindungan hewan dan komunitas manusia, serta kesehatan masyarakat.
 
“Meskipun pemenuhan standar regulasi adalah fokus para pemimpin industri farmasi, perubahan demand pasien ini menunjukkan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan,” ucap Christanto Suryadarma, Southeast Asia (SEA) Sales Vice President, Zebra Technologies Asia Pacific.
 
“Penting sekali adanya kerja sama dari manufaktur, instansi pemerintah, farmasi, dan layanan kesehatan, untuk meraih kepercayaan konsumen terhadap supply chain.”
 
Penelitian ini menunjukkan bahwa industri farmasi harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa mereka menempatkan kepentingan pasien di urutan teratas, apabila mereka ingin mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan konsumen dalam skala besar.
 
Lebih dari 8 dari 10 pasien setuju bahwa pemerintah/regulator dan perusahaan farmasi harus bekerja sama dengan lebih baik lagi untuk melindungi pasien dan memastikan obat yang mereka terima aman dan efektif.
 
Lebih dari 40 persen pasien serta pembuat keputusan dalam industri farmasi mengatakan bahwa regulator, perusahaan farmasi dan produsen memiliki tanggung jawab paling besar untuk memerangi obat palsu, pencurian obat dan obat terkontaminasi.
 
Namun, tanggung jawab untuk menerapkan protokol keamanan yang terpercaya ada di pundak mereka yang memproduksi, merilis, dan mengedarkan obat, dengan 57 persen pasien menganggap beban terbesar ada di pundak rumah sakit.
 
“Sangat penting bagi industri farmasi di Asia Pasifik untuk memastikan ada peningkatan dalam traceability dan transparansi di seluruh supply chain,” kata Aik Jin Tan, Vertical Solutions Lead, Zebra Technologies Asia Pacific.
 
“Dengan bantuan transparansi yang technology-driven, kekhawatiran mengenai kualitas dan kontrol temperatur, obat yang tepat maupun obat yang di bawah standar, bisa diatasi dan hasilnya adalah terciptanya kepercayaan dalam jangka panjang.”
 
Mayoritas dari pembuat keputusan dalam industri farmasi (84 persen) merasa bahwa mereka siap mematuhi mandat traceability dan transparansi.
 
Sebanyak tiga perempat menegaskan mereka sudah menggunakan teknologi location service atau berencana untuk menggunakannya pada tahun depan – langkah yang akan meningkatkan workflow produksi dan tracking obat, mengurangi penyusutan maupun perubahan, serta memberikan visilibilitas dan informasi yang diinginkan oleh pasien.
 
“Zebra memiliki portofolio solusi yang dapat membantu mentransformasi supply chain di industri farmasi, seperti TC52ax, TC52ax-HC, L10ax, VC8300, RFD40, dan ZD621,” kata Tan menambahkan.
 
(MMI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif