Jakarta: Dalam lanskap teknologi global saat ini, kawasan Asia Tenggara, sering kali muncul pertanyaan apakah kawasan ini hanya akan selamanya menjadi konsumen dari teknologi kecerdasan buatan, atau justru bangkit menjadi pencipta AI itu sendiri. Tantangan ini ditegaskan secara lugas oleh VP Startup Ecosystem NVIDIA, Howard Wright, dalam ajang SWITCH 2026. Menurutnya, kawasan regional memiliki potensi luar biasa untuk melangkah lebih jauh.
"Apakah kalian akan menjadi konsumen AI? Atau kalian akan menjadi pencipta AI? Di kawasan ini khususnya, dengan talenta, ketekunan, para periset, modal, dan perangkat yang ada, saya pikir Singapura memiliki peluang unik untuk melampaui kelas beratnya dan mengambil kepemilikan atas AI mereka sendiri serta mengekspornya ke seluruh dunia," ujar Howard.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi sebuah optimisme bahwa kawasan ini memiliki modal yang lengkap. Kombinasi antara talenta lokal, ketekunan para pengembang, keberadaan para periset handal, dukungan finansial, hingga ketersediaan perangkat penunjang menciptakan peluang emas.
Selama ini, negara-negara berkembang di Asia Tenggara sering kali terjebak dalam posisi sebagai pasar hilir produk teknologi raksasa global. Namun, dengan ekosistem yang semakin matang, kawasan ini memiliki kapasitas untuk melawan di atas kelas beratnya (punch above its weight class), menciptakan inovasi mandiri, dan mengekspor solusi berbasis kecerdasan buatan ke kancah internasional.
Transformasi ini tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan infrastruktur dan ekosistem yang inklusif. Howard Wright menjelaskan bagaimana NVIDIA melihat ekosistem AI layaknya sebuah kue lima lapis yang tersusun dari energi di bagian paling bawah, chip, infrastruktur, model, hingga lapisan aplikasi di puncak. Di level terbawah, kebutuhan fisik seperti lahan dan daya listrik diubah menjadi apa yang disebut sebagai pabrik AI, sebuah pergeseran paradigma dari pusat data konvensional yang kaku menjadi pusat generator kecerdasan.
Selain infrastruktur, hambatan terbesar bagi startup rintisan biasanya terletak pada tingginya biaya riset dan pengembangan awal. Terkait hal ini, NVIDIA berkomitmen membuka jalan bagi inovator skala kecil agar tidak harus merogoh kocek hingga miliaran dolar hanya untuk membuat model mereka beroperasi di atas perangkat keras berskala industri.
Melalui ekosistem model terbuka dan berbagai pustaka perangkat lunak yang disediakan gratis—seperti Clara untuk kesehatan, Earth2 untuk fisika AI, hingga Cosmos untuk robotika—para pengembang muda dapat berdiri di atas pundak para raksasa teknologi yang telah merintisnya selama bertahun-tahun.
Lebih lanjut, inisiatif seperti program Inception hadir tanpa memungut biaya sepeser pun bagi startup yang ingin bergabung. Tujuannya jelas: menyaring talenta terbaik dan paling cerdas di berbagai belahan dunia, termasuk kawasan Asia Pasifik, dan membantu mereka terhubung dengan permintaan korporasi besar serta jaringan modal ventura global.
Ketika korporasi besar membutuhkan inovasi dan startup lokal membutuhkan akses pasar serta pendanaan, titik temu inilah yang digerakkan oleh NVIDIA untuk memutar roda ekonomi digital secara siklikal.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan