Chief Technology Officer (CTO) for Cloud Computing Akamai, Jay Jenkins, mengungkapkan bahwa kebutuhan infrastruktur cloud saat ini telah berkembang jauh melampaui sekadar penyediaan daya komputasi. Memasuki era integrasi AI, dunia usaha membutuhkan ekosistem komprehensif yang mengintegrasikan komputasi, jaringan berkecepatan tinggi, penyimpanan data yang aman, pengelolaan beban kerja otomatis, hingga sistem pemantauan secara real-time.
“Memperluas infrastruktur cloud tidak lagi sekadar menyediakan daya komputasi yang lebih besar. Ketika perusahaan memindahkan AI dan aplikasi modern dari tahap pengujian ke operasional bisnis sehari-hari, mereka membutuhkan fondasi yang lengkap dan andal agar semuanya dapat berjalan lancar,” ujar Jay dalam wawancara tertulis bersama Medcom.id.
Ia menjelaskan bahwa adopsi AI mendorong pemrosesan komputasi berpindah melampaui pusat data tunggal menuju ekosistem terdistribusi. “Selama 28 tahun terakhir, Akamai telah membangun jaringan komputasi global untuk mendukung layanan distribusi edge dan keamanan, guna mendekatkan aplikasi kepada pelanggan sekaligus menjauhkan ancaman. Saat ini, kami menawarkan kesinambungan komputasi dan jaringan dari pusat data hingga ke edge,” tambahnya.
Infrastruktur Terintegrasi Jadi Kunci Agentic AI
Tantangan penerapan AI dalam skala produksi terasa jauh lebih kompleks dibandingkan pengujian di laboratorium, terutama bagi agentic AI atau asisten AI otonom. Sistem cerdas ini bekerja tidak hanya untuk menjawab pertanyaan, tetapi juga secara mandiri mencari data, mengakses antarmuka pemrograman aplikasi (API), dan mengeksekusi rangkaian tugas bisnis bertahap secara real-time.Menurut Jay, penyediaan perangkat keras canggih seperti Graphics Processing Unit (GPU) tercanggih saja tidak akan cukup. Tanpa dukungan jaringan yang cepat dan penyimpanan yang terintegrasi, kemacetan lalu lintas data digital tidak dapat dihindari.
“Hardware yang bertenaga, seperti GPU tercanggih, memberikan kemampuan pemrosesan bagi AI. Namun, hardware hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem. Jika jaringan yang mendasarinya lambat, penyimpanan tidak terhubung, atau visibilitas sistem terfragmentasi, kemacetan digital akan terjadi. Akibatnya, waktu respons menjadi lebih lambat, biaya meningkat, dan sistem menjadi tidak stabil,” tegas Jay.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Akamai mengusung pendekatan cloud terdistribusi yang menyatukan komputasi, jaringan, penyimpanan, dan manajemen sistem ke dalam satu platform global. Langkah ini memungkinkan beban kerja AI dijalankan lebih dekat dengan lokasi pengguna dan sumber data.
Banyak perusahaan di Indonesia telah memiliki arsitektur teknologi informasi (TI), konfigurasi jaringan, dan kebijakan keamanan yang sedang berjalan. Memaksa perusahaan merombak total sistem tersebut dapat memicu penundaan operasional, risiko keamanan, serta pembengkakan biaya.
Akamai Cloud dirancang untuk beradaptasi dengan infrastruktur yang ada, baik secara arsitektural maupun finansial, melalui ruang cloud privat yang fleksibel dan firewall digital bawaan. Pendekatan ini juga memberikan kepastian biaya melalui tarif transfer data keluar yang rendah dan terprediksi, sehingga lingkungan hybrid dan multi-cloud dapat berkembang tanpa terbeban biaya penalti yang tinggi.
Dari aspek keamanan, Akamai Cloud menerapkan prinsip Zero Trust sejak awal peluncuran server virtual melalui mekanisme passwordless deployment. Pengelolaan akses pengguna juga diperkuat lewat integrasi Single Sign-On (SSO) dan Role-Based Access Control (RBAC).
“Keamanan siber harus dibangun ke dalam infrastruktur cloud sejak pertama kali diaktifkan, bukan ditambahkan sebagai langkah belakangan. Setiap server virtual baru yang diluncurkan berpotensi menjadi titik masuk ke jaringan perusahaan, sehingga mengamankannya sejak awal sangatlah penting,” jelas Jay.
Visibilitas Sistem dan Tiga Prioritas Infrastruktur AI
Guna menjaga keandalan operasional, Akamai menghadirkan Akamai Cloud Pulse yang menyediakan rekam jejak digital (audit trail) dan peringatan real-time. “Dengan menggabungkan peringatan real-time dan catatan aktivitas yang jelas, kami membantu perusahaan beralih dari penanganan masalah secara reaktif menuju pengelolaan yang proaktif,” ujar Jay.Selain itu, Akamai menyediakan Linode Kubernetes Engine (LKE) Enterprise untuk mengamankan sistem saat terjadi lonjakan trafik, Akamai Managed PostgreSQL berbasis PgBouncer, serta Valkey Managed Database yang kompatibel dengan Redis guna mendukung semantic caching, RAG context caching, dan memori percakapan.
Sebagai panduan bagi pimpinan bisnis di Indonesia, Jay menekankan tiga prioritas utama:
1. Melihat Lebih dari Sekadar Compute: Memastikan jaringan, penyimpanan, pengelolaan database, dan keamanan bekerja secara terpadu.
2. Menghargai Investasi TI yang Ada: Memilih infrastruktur yang mendukung sistem hybrid tanpa biaya transfer data tak terduga.
3. Fokus pada Kinerja AI yang Nyata: Memprioritaskan latensi rendah dan visibilitas operasional.
“Pada akhirnya, tujuan perusahaan di Indonesia bukan sekadar mengadopsi teknologi baru, melainkan membangun fondasi yang tangguh untuk mengubah AI menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Jay.