Ilustrasi: Pinterest
Ilustrasi: Pinterest

Red Hat OpenShift 4.2 Ingin Mudahkan Penggunaan Cloud-Native

Teknologi teknologi red hat corporate transformasi digital
Lufthi Anggraeni • 19 November 2019 10:05
Jakarta:Penyedia solusi open sourceRed Hat mengumumkan Red Hat OpenShift 4.2, versi terbaru dari platform Kubernetes.
 
Red Hat OpenShift 4.2 diklaim bisa menyederhanakan dan mengotomatisasi layanan kelas enterprise di seluruh lingkungan cloud hybrid sekaligus memberdayakan pengembang untuk meningkatkan nilai bisnis melalui aplikasi cloud-native.
 
Red Hat OpenShift 4.2 bertujuan membuat teknologi cloud-native menjadi lebih mudah digunakan dan lebih mudah diakses oleh para pengembang melalui kemampuan yang mengotomatisasi pengaturan dan pengelolaan lingkungan Kubernetes.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal ini memungkinkan para pengembang fokus membangun aplikasi enterprise generasi mendatang tanpa memerlukan keahlian Kubernetes yang mendalam.
 
Versi terbaru dari OpenShift juga menambahkan layanan pengembang siap pakai yang mengatasi kebutuhan seputar service mesh, eksekusi tanpa server dan pipeline continuous integration/continuous delivery (CI/CD) cloud-native.
 
Rilis ini diklaim membawa OpenShift lebih dekat ke pengembang melalui Red Hat CodeReady Containers, yang memungkinkan pengembang menginstal lingkungan OpenShift yang telah dibangun sebelumnya pada sebuah laptop untuk pengembangan lokal.
 
Hal ini memberikan kerangka kerja yang menyatukan tool pengembangan container dengan kluster lokal sehingga memudahkan untuk membangun aplikasi cloud-native secara lokal dan, jika siap, dikerahkan ke lingkungan OpenShift penuh.
 
Industri TI enterprise bukanlah serangkaian penyebaran statis yang homogen, dan komputasi modern pun tidak terkecuali. Penyebaran hybrid yang menggunakan komponen infrastruktur on-premise dan layanan berbasis cloud sering diupayakan oleh para pembuat keputusan TI.
 
Seiring perusahaan berupaya menggunakan Kubernetes enterprise untuk mendorong transformasi digital, halangan dapat muncul karena standar keamanan internal dan peraturan yang ketat.
 
Persyaratan ini sering membatasi konektivitas data sensitif dan beban kerja, yang membutuhkan “air gap” atau terputus dari jaringan enterprise yang lebih luas. Meskipun bagus untuk keamanan, hal ini membuat migrasi dan pembaruan aplikasi dan layanan yang digunakan oleh sistem tersebut menjadi proses manual yang menantang dengan puluhan langkah.
 
“OpenShift 4.2 menghadirkan fitur-fitur untuk membantu pelanggan dalam mempercepat pengembangan dan penyampaian aplikasi,” kataAshesh Badani, Senior Vice President, Cloud Platforms, Red Hat.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif