Tuyul dan Order Fiktif, Musuh Bersama Ojek Online

Cahyandaru Kuncorojati 06 Juni 2018 14:08 WIB
ojek online
Tuyul dan Order Fiktif, Musuh Bersama Ojek Online
Diksusi bertajuk
Jakarta: Heboh kehadiran bisnis moda transportasi online atau yang lebih dikenal sebagai ojek online di Indonesia memang sudah berlalu setahun yang lalu. Beragam pihak menerima kehadiran bentuk bisnis sekaligus layanan yang cukup distruptif ini.

Dalam diksusi bertajuk "Fenomena Tuyul , Ojek Fiktif dan Nasib Transportasi Online" yang digelar Indonesia Technology Forum kemarin, Ketua Presidium Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Muslih Zainal Asikin mengakui bahwa lima tahun belakangan dampak ojek online sangat positif berkontribusi terhadap sektor perekonomian di Indonesia.

"Sektor perekonomian terasa positif di kalangan masyarakat karena mereka bisa memanfaatkan layanan ojek online untuk mata pencaharian sampingan, sektor logistik dan distribusi barang memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh penghasilan lewat profesi sebagai kurir di layanan ojek online," ungkap Muslih.


Tentunya hal yang cukup positif ini menurut Muslih patut dipertahankan sayangnya masyarakat Indonesia menurut dia juga memiliki sifat "nakal" dengan mengakali sistem yang ada, kasus aplikasi "tuyul" dan order fiktif menjadi sesuatu yang bisa membahayakan karena merugikan banyak pihak.

"Bukan hanya penyedia layanan ojek online saja yang dirugikan tapi juga driver dan penumpang serta negara yang kini sektor transportasi di posisi kedua penyumbang sektor ekonomi Indonesia. Misalnya, persaingan yang tidak sehat antara driver, konsumen yang dirugikan, serta perusahaan penyedia layanan yang tidak bisa sustain lebih lama," ungkap Muslih.

Aplikasi "tuyul" dikenal sebagai metode curang yang dilakoni sebagian driver ojek online menggunakan semacam aplikasi fake GPS untuk membuat order fiktif. Jadi mereka seakan-akan menerima pennumpang dan mengantarkannya padahal mereka hanya mengecoh GPS dan aplikasi ojek online.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Bhima Yudhisitra menilai fenomena aplikasi "tuyul" memiliki banyak tujuan. Pertama adalah merusak pasar atau persaingan antar driver di sebuah titik lokasi yang ramai penumpang, driver dibuat tertipu dengan orderan fiktif.

"Kedua adalah driver yang menggunakan aplikasi tuyul yang mengecoh lokasi GPS sebenarnya merugikan konsumen yang memesan dan mendapatkan driver dalam waktu yang cepat tapi justru ternyata lokasi asli driver sangat jauh. Ketiga, perusahaan penyedia layanan ojek online dirugikan karena mereka memberikan insentif pada driver yang membuat order fiktif karena tercatat bahwa mereka berhasil menangkut banyak penumpang atau order," beber Bhima.

Jadi, order fiktif membuat driver "nakal" tidak perlu repot mencari penumpang serta repot-repot mengantarnya. Pelaku tidak lagi mengandalkan pemasukan dari hasil mengangkut penumpan melainkan uang insetif yang diberikan perusahaan. Alhasil perusahaan penyedia layanan merugi.

Pengamat siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Prasadha menuturkan bahwa pengguaan aplikasi "tuyul' saat mudah, pelaku hanya cukup membuat order fiktif dan mereka mengendalikan GPS dengan jemari mereka. Layanan ojek online yang sudah terkecoh melihat bahwa pelaku driver benar-benar mengantarkan penumpang.

"Permasalahannya perusahaan penyedia layanan berpikir dengan memiliki sistem yang canggih maka layanan mereka akan aman padahal seiring teknologi yang semakin canggih juga selalu ada yang mengakali," ungkap Pratama. Dia menuturkan bahwa aplikasi tuyul bisa dengan mudah dibeli dan kini tidak perlu melakukan rooting pada smartphone untuk menggunakannya.

Menurutnya solusi menangani masalah ini adalah dengan terus berinvestasi ke pengembangan teknologi terutama location based service yang sebisa mungkin tidak bisa dikecoh. Lebih dari itu, Pratama menekankan bahwa seharusnya regulasi yang jelas juga ada untuk menentukan siapa yang dirugikan apabila kasus ini terjadi dan perlindungan kepada mereka untuk menciptakan bisnis yang sehat.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.