Meluncur pada 2006, layanan ini awalnya menggunakan statistical machine learning sebelum beralih ke neural networks pada 2016. Kini, Google Translate memanfaatkan kecanggihan model AI Gemini untuk menghadirkan terjemahan yang lebih natural dan kontekstual.
Selama dua dekade, Google Translate berkembang pesat hingga mendukung hampir 250 bahasa, mencakup 95% populasi dunia. Lebih dari 1 miliar orang menggunakan layanan ini setiap bulan, dengan sekitar 1 triliun kata diterjemahkan. Pasangan bahasa Inggris–Spanyol tetap menjadi yang paling populer, diikuti oleh Inggris–Indonesia, Portugis, Arab, Turki, serta beberapa bahasa India.
Dalam perayaan ini, Google memperkenalkan sejumlah fitur baru berbasis AI. Salah satunya adalah latihan pelafalan yang memungkinkan pengguna berlatih mengucapkan kata dengan benar dan menerima umpan balik instan.
Ada pula percakapan real-time dengan teknologi audio-to-audio Gemini yang membuat komunikasi lintas bahasa lebih alami. Selain itu, headphone kini dapat berfungsi sebagai penerjemah pribadi dengan tetap mempertahankan nada dan emosi pembicara.
Google Translate juga memperluas pengalaman visual melalui Google Lens, yang memungkinkan terjemahan langsung dari kamera ponsel. Fitur Circle to Search di Android semakin memudahkan pengguna menerjemahkan teks atau lirik lagu. Untuk mendukung mobilitas, tersedia mode offline sehingga bahasa dapat diunduh dan digunakan tanpa koneksi internet.
Menariknya, sekitar sepertiga pengguna memanfaatkan Google Translate untuk belajar bahasa baru. AI juga membantu memahami bahasa gaul generasi muda, emoji, hingga bahasa isyarat seperti ASL.
Meski begitu, frasa yang paling sering diterjemahkan tetap berkisar pada ungkapan universal seperti “Halo” dan “Aku mencintaimu”. Ini menegaskan bahwa inti komunikasi manusia adalah rasa syukur dan cinta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News