Melihat fenomena tersebut, AgriG8, sebuah perusahaan data dan kecerdasan buatan (AI) asal Singapura, memilih strategi yang berbeda secara fundamental. Alih-alih merilis aplikasi mandiri baru, AgriG8 menghadirkan solusi AI agronomist langsung ke dalam platform pesan instan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari petani: WhatsApp dan Telegram.
"Ketika kami menggunakan aplikasi buatan kami sendiri, tidak ada yang menggunakannya. Namun ketika kami memberikan pendekatan ini melalui platform pesan instan, kami bahkan tidak perlu meminta mereka untuk membuka aplikasi; mereka terus kembali," ujar Chief Technology Officer (CTO) AgriG8, Aries Fajar Dwiputera, dalam paparannya di ajang Asia Pacific AgriFood Singapore.
Menjawab Tantangan Lapangan Tanpa Sensor Mahal
Dalam praktiknya, digitalisasi sektor pertanian kerap terbentur oleh mahalnya investasi perangkat keras seperti sensor kelembapan tanah, stasiun pemantau cuaca mandiri, maupun analisis citra satelit resolusi tinggi. AgriG8 menyiasati keterbatasan ini dengan mengandalkan pendekatan conversational AI yang menempatkan petani sebagai sumber data utama di lapangan (ground-truth data).Petani cukup mengirimkan pesan teks, foto, maupun rekaman suara untuk berkonsultasi mengenai persoalan budidaya mereka. Jika tanaman terserang hama atau penyakit, petani hanya perlu memotret daun atau rumpun padi yang rusak, mengirimkannya ke ruang obrolan, dan sistem AI akan menganalisis gejala serta memberikan solusi penanganan secara instan.
Tidak berhenti di situ, sistem ini juga mampu merangkum keluhan petani di suatu kawasan secara near real-time. Ketika banyak petani dalam satu wilayah melaporkan ketiadaan air, sistem dapat secara otomatis memetakan area tersebut menjadi peta panas (heat map) kekeringan.
Peta data ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh pengurus koperasi pertanian maupun otoritas setempat untuk segera mengalirkan bantuan irigasi atau mendistribusikan sarana mitigasi iklim lainnya tanpa harus menunggu survei lapangan berkepanjangan.
Model Bahasa Global Riset Agronomi Lokal
Kemampuan asisten cerdas ini tidak dibangun secara sembarangan. Aries menjelaskan bahwa AgriG8 memadukan model kecerdasan buatan fondasi (foundation models) seperti OpenAI dan model sumber terbuka lainnya dengan augmentasi data riset agronomi lokal."Jika kami hanya memberikan model generik, jawabannya akan terlalu umum bagi petani. Oleh karena itu, kami melakukan augmentasi data mandiri dengan memasukkan riset lokal, varietas benih setempat, serta produk-produk saprotan yang tersedia di daerah tersebut," jelas Aries.
Dengan penyesuaian tersebut, sistem mampu memberikan rekomendasi yang sangat spesifik, mulai dari takaran dan waktu pemupukan yang ideal berdasarkan kondisi cuaca, hingga karakteristik varietas padi lokal tertentu. Respons yang diberikan pun disesuaikan dengan bahasa ibu para petani.
Di Kamboja, platform beroperasi menggunakan bahasa Khmer melalui Telegram, sedangkan untuk pasar Vietnam dan Indonesia, sistem beroperasi penuh lewat WhatsApp dengan dukungan Bahasa Vietnam serta Bahasa Indonesia.
Retensi Tinggi dan Dampak Finansial Nyata
Hasil dari pendekatan ramah pengguna ini terbukti nyata dalam proyek percontohan AgriG8 di Kamboja. Melibatkan sekitar 570 hingga 600 petani padi di lahan seluas lebih dari 5.000 hektare, platform ini mencatatkan tingkat retensi bulanan mencapai 40 persen. Angka keterlibatan aktif ini terbilang sangat tinggi untuk adopsi teknologi digital di kalangan petani gurem.Tingginya retensi tersebut didorong oleh sifat layanan yang selalu siaga selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, serta gaya komunikasi AI yang sopan dan tidak menghakimi. Petani merasa memiliki tempat bertanya kapan saja tanpa sungkan, bahkan saat dini hari sekalipun.
Dampak finansial dari bimbingan agronomis ini pun mulai terasa. Aries mencontohkan salah satu testimoni petani di Kamboja yang mengelola lahan seluas 7 hektare berhasil memangkas biaya input dan operasional hingga 40 persen dibandingkan musim tanam sebelumnya berkat panduan dosis pupuk dan jadwal perawatan yang presisi dari sistem AI. Di samping itu, riwayat pencatatan aktivitas tani di platform juga membantu memfasilitasi pinjaman permodalan hingga USD500.000 yang kini pembayarannya berjalan lancar.
Siap Masuk ke Pasar Indonesia
Menyusul keberhasilan implementasi di Kamboja yang kini bersiap ditingkatkan hingga 36.000 hektare, AgriG8 mulai mengarahkan pandangannya ke pasar Asia Tenggara lainnya, dengan Indonesia dan Vietnam sebagai destinasi utama berikutnya.Karakteristik petani Indonesia yang sangat lekat dengan aplikasi WhatsApp dinilai menjadi modal besar bagi implementasi solusi ini di tanah air. Sistem asisten cerdas AgriG8 pun saat ini telah rampung dikonfigurasi untuk merespons secara otomatis dalam Bahasa Indonesia saat diakses menggunakan nomor seluler dengan kode negara +62.
"Kami siap untuk berkolaborasi di Indonesia. Petani cukup memindai kode dan langsung bisa menggunakan asisten ini melalui WhatsApp. Kami membuka pintu kerja sama seluas-luasnya dengan koperasi, perusahaan pertanian, hingga kementerian dan lembaga terkait," pungkas Aries.