Co-Chief Executive Officer Team Liquid, Steve Arhancet, dalam ajang SAP Now AI Tour Southeast Asia 2026 di Singapura. (Mamduh/Medcom)
Co-Chief Executive Officer Team Liquid, Steve Arhancet, dalam ajang SAP Now AI Tour Southeast Asia 2026 di Singapura. (Mamduh/Medcom)

SAP Now AI Tour Southeast Asia 2026

Belajar dari Esports, Pemimpin Bisnis Harus Paham Konsep Meta

Mohamad Mamduh • 04 Agustus 2026 12:46
Ringkasnya gini..
  • Meta adalah jantung dari kompetisi game modern.
  • Bersama SAP, Team Liquid mengumpulkan lebih dari 1,6 terabyte data dan 6 juta riwayat pertandingan ke dalam HANA Cloud.
  • Steve menggambarkan AI sebagai stat buff atau ramuan peningkat kemampuan.
Singapura: Dalam dunia esports profesional, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat jari seorang atlet menekan tombol di atas panggung turnamen. Di balik layar, terdapat pertempuran analisis strategi yang konstan terhadap apa yang dikenal di dunia game sebagai Meta.
 
Konsep inilah yang menjadi sorotan utama pemaparan Co-Chief Executive Officer Team Liquid, Steve Arhancet, dalam ajang SAP Now AI Tour Southeast Asia 2026 di Singapura. Menurut pemimpin tim esports terbesar di dunia tersebut, konsep meta tak lagi istilah dalam video game. Ini adalah pelajaran kepemimpinan bisnis yang sangat krusial bagi para jajaran direksi perusahaan di era disrupsi digital.
 

Apa itu Meta dan Mengapa Bisnis Harus Peduli?

Steve menjelaskan bahwa meta—ringkasan dari dinamika cara terbaik untuk memenangkan permainan berdasarkan seluruh variabel yang tersedia—adalah jantung dari kompetisi game modern. Berbeda dengan olahraga tradisional atau catur yang aturan dasarnya bertahan selama ratusan tahun, variabel dalam gim berubah secara drastis setiap dua hingga empat minggu sekali melalui pembaruan sistem.
 
"Bayangkan jika dalam catur, mereka tiba-tiba mengubah permainannya dengan menambahkan dua ratu, bukan hanya satu, atau menambahkan 20 petak baru di papan permainan. Hal itu akan mengubah total cara menganalisis, bersiap, dan menentukan siapa pemenangnya," ujar Steve memberi analogi.

Bagi Steve, dinamika pasar yang dihadapi oleh para pemimpin perusahaan saat ini memiliki kemiripan dengan perubahan meta di dunia game. Meta dalam bisnis adalah lanskap industri yang terus bergerak: fluktuasi harga, gangguan rantai pasokan, pergeseran perilaku konsumen, hingga munculnya regulasi baru.
 
Tugas utama pimpinan organisasi adalah memahami pergeseran meta bisnis tersebut dan menemukan cara beradaptasi lebih cepat dibanding para pesaing.
 

Menghapus Budaya Keputusan Berbasis HiPPO

Salah satu poin kepemimpinan terpenting yang dibagikan Steve adalah bagaimana data dan kecerdasan buatan (AI) mampu merombak budaya pengambilan keputusan. Sebelum adanya analisis AI yang terintegrasi, keputusan strategi sering kali diambil berdasarkan persepsi subjektif atau fenomena yang dikenal sebagai HiPPO (Highest Paid Person's Opinion—keputusan yang hanya didasari opini pimpinan bergaji tertinggi).
 
Bersama SAP, Team Liquid mengumpulkan lebih dari 1,6 terabyte data dan 6 juta riwayat pertandingan ke dalam HANA Cloud, serta memanfaatkan agen kecerdasan buatan untuk menganalisis taktik hingga rekaman suara komunikasi antar-pemain.
 
Hasilnya adalah pergeseran budaya secara menyeluruh. Keputusan tidak lagi didasari oleh firasat (gut feeling), melainkan fakta berbasis data konkret. Ini berdampak terhadap atlet dan tim operasional jauh lebih mudah menerima perubahan taktik ketika melihat fakta angka di depan mereka. Sehingga, tim mampu memprediksi taktik rahasia lawan minggu sebelum pertandingan besar berlangsung.
 

AI Sebagai Stat Buff Sumber Daya Manusia

Meski AI mampu mengolah data masif dan menemukan korelasi strategi secara otomatis, Steve menegaskan bahwa AI tidak hadir untuk menggantikan pertimbangan (judgment) manusia dalam momen-momen krusial.
 
Tujuan utama mengadopsi AI adalah "membeli kembali jam kerja manusia" (buy back human hours) dengan mengotomatiskan proses persiapan yang rumit. Dengan begitu, tim dapat berfokus pada pengambilan keputusan strategis di bawah tekanan tinggi.
 
Dalam istilah video game, Steve menggambarkan AI sebagai stat buff atau ramuan peningkat kemampuan yang diberikan kepada para karyawan agar perusahaan memiliki benteng pertahanan yang kuat.
 
"Di industri apa pun tempat kita bersaing, data adalah cara melihat papan permainan. Namun manusia—seperti yang selalu terjadi—adalah alasan bagaimana kita akan memenangkan permainan tersebut," tutup Steve.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA