Chairul Saleh, Deputi Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, saat membuka ASEAN Innovation Business Platform (AIBP) Conference & Exhibition ke-54 di Jakarta, 26 Agustus 2026.
Chairul Saleh, Deputi Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, saat membuka ASEAN Innovation Business Platform (AIBP) Conference & Exhibition ke-54 di Jakarta, 26 Agustus 2026.

AI Harus Tingkatkan Produktivitas, Bukan Sekadar Gantikan Pekerjaan

Cahyandaru Kuncorojati • 26 Agustus 2026 19:22
Ringkasnya gini..
  • Pemerintah mendorong AI dipakai untuk meningkatkan produktivitas pekerja.
  • Perusahaan diminta mengutamakan reskilling dan upskilling saat AI mengambil alih tugas repetitif.
  • Pesan ini disampaikan Chairul Saleh di AIBP Conference & Exhibition ke-54.
Jakarta: Pemerintah mendorong perusahaan di Indonesia memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai ekonomi baru, bukan sekadar mengurangi jumlah tenaga kerja.
 
Pesan tersebut disampaikan Chairul Saleh, Deputi Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, saat membuka ASEAN Innovation Business Platform (AIBP) Conference & Exhibition ke-54 di Jakarta, 26 Agustus 2026.
 
Chairul mengatakan perubahan akibat AI membuat perusahaan perlu memikirkan kembali cara meningkatkan efisiensi tanpa mengabaikan pekerja yang terdampak.

"Ketika AI mengambil alih pekerjaan yang repetitif, jangan menjadikan PHK massal sebagai jalan pintas menuju efisiensi," ujarnya.
 
Sebagai gantinya, perusahaan diminta mengarahkan investasi pada reskilling dan upskilling, sekaligus memperhatikan kesehatan mental serta kemampuan pekerja untuk beradaptasi.
 

AI Dinilai Bisa Menjadi Ancaman dan Peluang

AI Harus Tingkatkan Produktivitas, Bukan Sekadar Gantikan Pekerjaan
 
Menurut Chairul, Indonesia kini berada pada titik penting dalam transformasi digital. Pemerintah memandang AI bukan sekadar tren teknologi masa depan, tetapi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru dan game changer strategis.
 
Bahkan, pemerintah memperkirakan adopsi AI secara luas berpotensi meningkatkan output ekonomi nasional hingga 15 persen pada 2035.
 
Namun, Chairul menilai dampak AI terhadap dunia kerja tidak sesederhana teknologi menggantikan manusia.
 
“Teknologi bisa menjadi ancaman ketika pekerjaan tergantikan lebih cepat daripada kemampuan pekerja untuk beradaptasi. Tetapi teknologi juga bisa menjadi peluang besar untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan bentuk pekerjaan baru, dan memperluas akses terhadap kesempatan ekonomi," jelasnya.
 
Karena itu, ukuran keberhasilan transformasi digital tidak seharusnya berhenti pada penghematan biaya tenaga kerja.
 
Pemerintah juga meminta perusahaan menerapkan pendekatan human-centric transformation dalam mengadopsi AI. Salah satu prinsip yang ditekankan adalah memastikan manusia tetap memegang kendali atas keputusan penting.
 
"Pastikan manusia tetap menjadi pengambil keputusan utama. Hindari sistem black box yang diskriminatif dan patuhi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi," ungkapnya.
 
Chairul juga mengingatkan perusahaan agar memperhatikan risiko yang muncul ketika AI digunakan semakin luas dalam proses bisnis.
 
Menurutnya, tantangan utama bukan hanya bagaimana membuat algoritma semakin canggih, melainkan memastikan orang yang menggunakan teknologi tersebut memiliki kemampuan yang memadai.
 
"Masa depan ekonomi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan algoritma, tetapi oleh kebijaksanaan kita dalam membina orang-orang yang mengendalikan algoritma tersebut," sambungnya.
 

21,7 Persen Pekerja Indonesia Terpapar GenAI

Kebutuhan meningkatkan kompetensi semakin relevan karena adopsi generative AI (GenAI) mulai memengaruhi struktur pekerjaan.
 
Chairul menyebut sekitar 21,7 persen pekerja Indonesia berada dalam pekerjaan yang terpapar GenAI. Di tingkat ASEAN, paparan setidaknya pada tingkat moderat mencapai 22,9 persen pekerjaan atau hampir 80 juta pekerja.
 
Pemerintah menjalankan sejumlah program, termasuk ILIP-ALTI Indonesia dan AI Talent Factory, untuk menghasilkan talenta digital siap kerja. Namun, menurut Chairul, upaya pemerintah akan memiliki dampak yang lebih kecil tanpa keterlibatan aktif sektor swasta.
 
Perusahaan pun didorong tidak berhenti pada penggunaan AI untuk otomatisasi. Pemerintah ingin AI dimanfaatkan untuk memperkuat supply chain melalui data analytics, meningkatkan produktivitas UMKM, serta menciptakan produk dan layanan baru yang memberi manfaat lebih luas.
 
Bagi Chairul, pada akhirnya transformasi berbasis AI harus membuat manusia lebih mampu bekerja dan menciptakan nilai.
 
"Saya percaya keberhasilan transformasi digital dan AI tidak boleh hanya diukur dari pengurangan biaya tenaga kerja. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah teknologi meningkatkan kemampuan manusia dan menciptakan nilai yang lebih besar bagi Indonesia?" ucapnya.
 
Pesan tersebut menjadi salah satu topik menarik dalam AIBP Conference & Exhibition ke-54, yang berlangsung selama dua hari pada 26-27 Agustus 2026 di Jakarta. Pemerintah ingin transformasi AI berjalan seiring dengan pembangunan ekosistem tenaga kerja yang adaptif, inklusif, dan kompetitif secara global.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA