Ilustrasi: Akamai
Ilustrasi: Akamai

Ancaman Phishing dan Penyalahgunaan Merek Meningkat di Sektor Keuangan APJ

Mohamad Mamduh • 21 November 2024 19:09
Jakarta: Digitalisasi sektor keuangan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ) berkembang pesat, tetapi ancaman siber seperti phishing dan penyalahgunaan merek juga turut mengikuti, menempatkan lembaga keuangan di wilayah ini pada risiko tinggi.
 
Laporan terbaru Akamai State of the Internet (SOTI) mengungkapkan bahwa sektor ini menjadi target utama serangan siber, termasuk distributed denial-of-service (DDoS) dan phishing, akibat kombinasi tingkat digitalisasi yang tinggi dan kurangnya kesadaran akan risiko.
 
Laporan bertajuk Navigating the Rising Tide: Attack Trends in Financial Services menunjukkan bahwa 68% domain palsu di sektor keuangan di kawasan ini didominasi oleh serangan phishing. Sementara itu, penyalahgunaan merek menyumbang 24% dari insiden keamanan yang dilaporkan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan keamanan digital di APJ.

Phishing adalah salah satu metode serangan paling sederhana namun paling efektif untuk mencuri data sensitif, seperti kredensial perbankan dan informasi pribadi. Di kawasan APJ, digitalisasi yang cepat dalam sektor perbankan telah mempermudah penyerang untuk menargetkan konsumen yang kurang sadar akan ancaman siber.
 
Menurut laporan Akamai, median skor ancaman phishing di kawasan APJ adalah yang tertinggi di dunia. Layanan keuangan yang tersedia secara online, ditambah dengan penggunaan media sosial secara aktif oleh lembaga keuangan, telah menciptakan lingkungan yang subur bagi serangan semacam ini.
 
Phishing biasanya dilakukan melalui domain palsu yang dirancang menyerupai situs resmi lembaga keuangan. Penyerang menggunakan situs ini untuk menipu konsumen agar memberikan informasi sensitif. Sayangnya, rendahnya kesadaran konsumen terhadap ancaman ini membuat mereka lebih rentan terhadap pencurian data.
 
Mengapa APJ Menjadi Target Utama?
Kawasan APJ memiliki tingkat digitalisasi yang tinggi, tetapi langkah-langkah keamanan sibernya masih tertinggal dibandingkan dengan wilayah lain seperti Eropa. Laporan tersebut mencatat bahwa fragmentasi dalam infrastruktur teknologi dan perbedaan tingkat pengembangan ekonomi di kawasan ini telah menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh pelaku serangan.
 
Selain itu, peningkatan adopsi API (Application Programming Interface) dalam layanan keuangan menjadi faktor tambahan. API yang tidak terdokumentasi atau shadow API sering kali tidak terdeteksi oleh tim keamanan, sehingga menjadi target empuk bagi penyerang untuk mencuri data atau melewati kontrol autentikasi.
 
Sementara sektor keuangan di APJ terus berkembang dengan memanfaatkan teknologi digital, pendekatan keamanan tradisional tidak cukup untuk melindungi dari ancaman canggih seperti phishing dan eksploitasi API.
 
Selain phishing, penyalahgunaan merek juga menjadi tantangan besar bagi lembaga keuangan di APJ. Serangan ini sering kali melibatkan penggunaan logo atau elemen visual merek terkenal untuk menciptakan situs web atau email palsu yang tampak sah.
 
Menurut data Akamai, 36% dari semua situs mencurigakan yang dipantau di dunia berasal dari sektor layanan keuangan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sektor perdagangan, yang hanya menyumbang 26%. Penyalahgunaan merek tidak hanya mencuri informasi konsumen tetapi juga merusak reputasi lembaga keuangan, mengurangi kepercayaan pelanggan, dan memengaruhi loyalitas jangka panjang.
 
Dampak Ekonomi dan Reputasi
Serangan phishing dan penyalahgunaan merek tidak hanya berdampak pada individu tetapi juga pada stabilitas ekonomi. Data yang dicuri dapat digunakan untuk melakukan penipuan skala besar, mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan bagi lembaga keuangan.
 
Selain itu, keberhasilan serangan dapat mengurangi kepercayaan pelanggan terhadap kemampuan lembaga keuangan untuk melindungi data mereka. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya pelanggan dan menurunkan citra merek di pasar yang semakin kompetitif.
 
Steve Winterfeld, Advisory CISO di Akamai, menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang ancaman ini. “Kejahatan siber merupakan ancaman yang signifikan terhadap sektor layanan keuangan karena menyebabkan gangguan yang meluas dan kerugian ekonomi yang serius,” ujarnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA