Ilustrasi.
Ilustrasi.

Serangan Siber Perlambat Transformasi Digital di Asia Pasifik

Teknologi microsoft cyber security
Cahyandaru Kuncorojati • 04 Desember 2018 15:18
Jakarta: Microsoft bersama firma riset Frost & Sullivan mengungkap fakta bahwa meskipun jasa keuangan merupakan industri yang sangat diatur, lebih dari setengah setengah (56 persen) organisasi yang disurvei telah mengalami insiden keamanan (26 persen) atau tidak yakin mereka pernah karena mereka belum melakukan pemeriksaan (27 persen).
 
Selain itu, terungkap juga bahwa sepanjang tahun lalu, setiap serangan siber telah mengakibatkan kerugian ekonomi bagi perusahaan jasa keuangan besar di Asia Pasifik sekitar USD7,9 juta (Rp112 miliar) baik secara langsung maupun tidak.
 
Tiga dari lima organisasi telah mengalami kehilangan pekerjaan akibat peristiwa keamanan siber. Untuk perusahaan jasa keuangan berukuran menengah, rata-rata kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh peristiwa keamanan siber sebesar USD32.000 (Rp457 juta) per organisasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seluruh fakta tersebut dipaparlkan dalam penelitian "Memahami Lanskap Ancaman Keamanan Siber di Asia Pasifik: Mengamankan Perusahaan Modern di Dunia Digital" di Mei 2018.
 
Penelitian ini bertujuan menyediakan wawasan tentang kerugian ekonomi akibat kebocoran keamanan siber untuk para pengambil keputusan di bidang bisnis dan TI pada sektor jasa keuangan. Ini juga untuk menolong pengidentifikasian berbagai celah pada strategi keamanan siber mereka.
 
Penelitian awal melibatkan survei terhadap 1.300 pengambil keputusan bisnis dan TI yang berkisar antara organisasi berukuran menengah (250 hingga 499 pegawai) hingga organisasi besar ( kurang dari 500 pegawai), dan 12 persen dari responden berasal dari industri jasa keuangan.
 
Faktanya, ancaman serangan siber ternyata juga turut menjadi faktor yang memperlambat rencana perusahaan jasa keuangan melakukan transformasi digital meskipun mereka sudah melihat keunggulan dari jasa digital kepada pelanggan.
 
Tiga dari lima (63 persen) para pemimpin bisnis dan TI di sektor jasa keuangan telah mengindikasikan bahwa rasa takut terhadap serangan siber telah menggagalkan rencana transformasi digital organisasi mereka.
 
Meskipun keamanan siber dapat ditingkatkan melalui proses transformasi digital, mayoritas responden (40 persen) dari jasa keuangan industri melihat strategi keamanan siber mereka hanya sebagai sarana untuk menjaga organisasi mereka melawan serangan siber.
 
Hanya satu dari empat (25 persen) yang melihat keamanan siber sebagai keuntungan bisnis dan sebuah penentu transformasi digital. Temuan lainnya hanya 28 persen perusahaan jasa keuangan yang telah menjadi korban serangan siber yang mempertimbangkan untuk membangun strategi keamanan siber sebelum memulai sebuah proyek transformasi digital.
 
Menariknya hasil survei juga mengungkap mengungkap bahwa perusahaan jasa keuangan dengan kurang dari 10 solusi keamanan siber lebih cepat pulih dari insiden siber daripada yang memiliki 26 hingga 50 solusi keamanan siber.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif