Ilustrasi
Ilustrasi

Biometrik Bisa Pangkas Waktu Antrean Bandara Arab Saudi

Teknologi teknologi
Mohammad Mamduh • 04 Januari 2019 08:31
Jakarta: Sejak pemerintah Arab Saudi meminta Indonesia menerapkan sitem biometrik untuk calon Jemaah umrah dan Haji, pro kontra pun langsung merebak. Hal seperti ini biasa terjadi di manapun. Penerapan sebuah sistem atau aturan baru pada awalnya tidak selalu mulus.
 
Hal yang mungkin tidak banyak diketahui adalah bawah rekam biometrik sebagai persyaratan visa umroh sebenarnya sudah diterapkan di banyak negara seperti Pakistan dan Mesir.
 
Menurut pihak Arab Saudi, sistem biometrik akan memangkas waktu antrian saat para jemaah tiba di salah satu bandara di Arab Saudi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama ini, proses perekaman biometrik yang dilakukan di bandara Arab Saudi membuat antrian jemaah begitu panjang. Inilah yang menjadi penyebab pemerintah Arab Saudi memindahkan sistem perekaman biometrik ke negara asal jemaah.
 
Menurut pihak Arab Saudi, jika biometrik dilakukan di negara asal jemaah, antrean di bandara Arab Saudi bisa dicegah sehingga jemaah bisa masuk ke Arab Saudi lebih cepat, tanpa harus kelelahan saat antre di imigrasi.
 
Namun, apa saja kemudahan yang ditawarkan sistem biometrik ini untuk para jemaah? Saat ini, sistem biometrik yang dikenal merupakan proses perekaman data berdasarkan ciri-ciri yang ada di manusia.
 
Mulai dari memindai raut muka, retina mata, hingga sidik jari menjadi metode yang banyak dilakukan dalam proses perekaman dengan biometrik ini. Perekaman ciri-ciri yang ada di diri jemaah ini hanya memakan waktu tidak sampai 5 menit.
 
Bahkan, satu kloter yang biasanya berisi sekitar 1.300-1.500 jemaah bisa dilakukan proses perekaman biometrik hanya dalam waktu 4 jam.
 
Selain itu, didukung dengan aplikasi digital, proses perekaman bisa dijadwalkan terlebih dahulu dengan lebih pasti. Jemaah pun bisa berangkat dengan mengacu pada waktu yang telah ditentukan dalam aplikasi tersebut.
 
Dengan proses biometrik yang dilakukan di negara asal, menurut VFS Tasheel, pusat pelayanan visa Arab Saudi, pemerintahnya sudah bisa menilai apakah seseorang sudah memenuhi syarat untuk masuk ke negara mereka saat jemaah masih berada di negara asal.
 
"Dari sisi waktu sudah tentu bisa mempermudah Arab Saudi memverifikasi setiap jemaah yang datang. Bayangkan, dari tahun ke tahun, seorang jemaah bisa mengantri hingga 4-5 jam untuk antri di imigrasi Arab Saudi," menurutnya.
 
Padahal, jemaah ini baru saja melakukan perjalanan panjang hingga 10 jam dari Indonesia.
Jadi di tengah berbagai pro-kontra yang terjadi, penerapan aturan biometrik bertujuan untuk mempermudah mereka dari berbagai hal untuk masalah pengurusan visa dan mempercepat proses proses entry ke tanah suci.
 
Penerapan aturan rekam biometrik awalnya tentunya akan sedikit merepotkan. Pertama karena calon jamaah dan biro umroh belum terbiasa. Kedua, penyiapan sentra-sentra perekaman biometrik oleh VFS Tasheel di berbagai daerah, tidak bisa dilakukan dengan sistem kebut semalam.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif