Singapura: IBM memproyeksikan bahwa contoh nyata dari Quantum Advantage — kondisi ketika mesin kuantum mampu menyelesaikan permasalahan nyata secara lebih unggul dibandingkan komputer klasik terkuat di bumi — akan terbukti secara terbuka sebelum akhir tahun 2026 ini.
Pernyataan mendasar tersebut mengemuka dalam sesi diskusi panel mendalam pada ajang IBM Think Singapore 2026. Berbeda dengan klaim supremasi kuantum terdahulu yang sering kali terisolasi pada eksperimen teoritis akademis, pencapaian Quantum Advantage yang dikejar tahun ini berfokus pada validasi komputasi yang memiliki nilai praktis dan dapat diverifikasi ulang secara ilmiah.
Dalam perkembangannya, persaingan antara arsitektur kuantum dan metode komputasi klasik berlangsung sangat ketat. Para peneliti dan ilmuwan dari berbagai belahan dunia secara aktif mengadu hasil komputasi terbaik yang diperoleh dari komputer kuantum dengan algoritma terbaik yang dijalankan pada superkomputer konvensional.
Proses adu performa ini tidak lagi dilakukan di balik pintu tertutup, tetapi transparan melalui platform pemantau publik bernama Quantum Advantage Tracker yang dapat diakses secara terbuka di internet. Melalui tracker ini, komunitas sains dunia memantau perlombaan yang menyerupai kompetisi sengit antarmetode secara langsung.
"Saya pikir kita akan melihat beberapa contohnya sebelum akhir tahun ini. Sejauh ini, komputer kuantum hampir melewati metode klasik. Sebenarnya pada beberapa titik, mereka telah mengalahkannya secara substansial, tapi kemudian ada kemajuan untuk metode klasik," ujar Oliver Dial, IBM Fellow & VP for Quantum Systems.
Salah satu tantangan terbesar dalam membuktikan keunggulan kuantum ini terletak pada kriteria verifikasi. Oliver menjelaskan bahwa untuk mengonfirmasi keunggulan sebuah mesin kuantum, para ahli harus merancang masalah komputasi kompleks yang tidak hanya sangat berat bagi superkomputer klasik, tetapi hasilnya tetap dapat diverifikasi kebenarannya secara presisi.
Sebagai bagian dari batu pijakan penting menuju aplikasi praktis, IBM menyoroti lompatan besar yang dicapai melalui algoritma baru yang disebut Sample-based Quantum Diagonalization (SQD). Algoritma ini dirancang khusus untuk menangani salah satu hambatan terbesar dalam ilmu kimia komputasi: simulasi molekul kompleks.
Secara klasik, memetakan ruang elektron dalam molekul besar sangat sulit karena rumitnya korelasi antar-elektron. Melalui penerapan SQD, kolaborasi antara IBM dan Cleveland Clinic berhasil mematahkan rekor sebelumnya dengan melakukan simulasi atas molekul protein yang terdiri dari lebih dari 12.000 atom, lengkap dengan ikatan ligand dan molekul air di sekitarnya.
"Cleveland Clinic telah bekerja dengan kami pada SQD menyimulasi protein, dan salah satu pengumuman baru-baru ini adalah simulasi yang sukses dari molekul 12.000, sedikit di atas 12.000 atom molekul, itu adalah protein yang terikat pada ligand lengkap dengan air di sekitarnya menggunakan SQD. Hasil dari itu adalah sekitar 200 kali lebih akurat daripada simulasi molekul berbasis kuantum sebelumnya, jadi ini adalah hasil yang sangat menyenangkan bagi kami," ungkap Oliver.
Hasil simulasi protein tersebut mencatatkan tingkat akurasi sekitar 200 kali lebih tinggi dibandingkan simulasi kuantum sentris mana pun yang pernah dilakukan sebelumnya, memberikan dampak besar bagi percepatan penemuan obat (drug discovery) dan desain material canggih.
Meskipun terobosan simulasi SQD belum dikategorikan sebagai Quantum Advantage absolut karena metode klasik terbaik masih mampu menandingi skalanya saat ini, Oliver Dial menegaskan keyakinannya bahwa pendekatan kuantum akan jauh lebih efektif ketika dihadapkan pada molekul yang kian kompleks.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan