Huawei. (AP)
Huawei. (AP)

Negara yang Blokir Huawei Bakal Ketinggalan 5G

Teknologi
Cahyandaru Kuncorojati • 02 Januari 2019 10:30
Jakarta: Sebelumnya Rotating Chairman sekaligus CEO Huawei, Eric Xu menyatakan bahwa Amerika Serikat dan beberapa negara lain yang memblokir bisnis solusi infrastruktur jaringan 5G akan mengalami kegagalan untuk menggelar jaringan 5G di 2019 atau 2020.
 
Kini beredar informasi bahwa kecaman petinggi Huawei tersebut tampaknya benar dan sesuai dengan kondisi bisnis operator telekomunikasi di berbagai negara. Dikutip dari Asia Times,negara-negara yang memblokir Huawei bakal kesulitan menggelar 5G.
 
Dilaporkan Amerika Serikat tidak ada pesaing bisnis penyedia solusi infrastruktur 5G yang bisa menjadi alternatif pilihan operator telekomunikasi di negara tersebut selain Huawei. Pesaing Huawei dalam bisnis ini yaitu Nokia dan Ericsson dikabarkan belum bisa diharapkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nokia dan Ericsson masih tertinggal setidaknya setahun dibandingkan teknologi 5G milik Huawei. Sementara di Korea Selatan, ada Samsung yang tengah baru memulai menyediakan solusi 5G, sehingga diprediksi akan berada di belakang Huawei maupun Nokia dan Ericsson.
 
Dukungan pemerintah Tiongkok yang menyubsidi Huawei disebut sebagai dukungan bagi Huawei untuk menyediakan teknologi solusi infrastruktur jaringan 5G dengan harga yang lebih terjangkau sehingga diadopsi oleh banyak negara mengalahkan Nokia dan Ericsson.
 
Namun salah satu pejabat ekskutif Inggris, kabarnya menyatakan bahwa aksi blokir atau boikot Huawei yang dipelopori oleh Amerika Serikat akan menyulitkan negara tersebut.
 
"Salah satu petinggi di operator Inggris menuturkan bahwa Huawei bisa menyediakan produk yang membutuhkan waktu setahun lagi bagi Nokia dan Ericsson untuk menciptakannya," ungkap sumber yang dirahasiakan identitasnya.
 
"Mereka telah mengatakan kepada pihak pemerintah yang berencana melarang produk Huawei bahwa apabila mereka memblokir Huawei maka peluncuran 5G di Inggris bisa mundur sembilan bulan," jelas sumber yang tidak disebutkan identitasnya," tambahnya.
 
Nokia dan Ericsson juga cemas apabila pasar di Tiongkok akan turut memblokir produk mereka.
 
Disebutkan bahwa sekitar 15.000 tenaga kerja Nokia ada di Tiongkok. Angka tersebut dua kali lipat lebih besar dari jumlah tenaga kerja di Finlandia, basis utama Nokia. Sementara Ericsson tercatat memiliki 12.000 tenaga kerja di kawasan Tiongkok dan sekitarnya.
 
Kabar baik bagi Huawei, beberapa negara di Eropa seperti Inggris dan Jerman masih percaya bahwa Huawei tidak menjadi mata-mata Tiongkok lewat solusi infrastruktur jaringan 5G. Sementara Prancis kini tengah menimbang apakah mereka juga akan memblokir Huawei seperti Amerika Serikat.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif