Gelar Indie Games Accelerator, Google Bawa Empat Developer Indonesia

Mohammad Mamduh 28 November 2018 20:41 WIB
googlegames
Gelar Indie Games Accelerator, Google Bawa Empat Developer Indonesia
Developer game Indonesia dalam Google Indie Games Accelerator 2018
Singapura: Untuk pertama kalinya di Asia Tenggara, Google menggelar Indie Games Accelerator 2018. Acara ini adalah wadah untuk mengakselerasi perkembangan developer game agar menciptakan game mobile terbaik.

Bukan kompetisi, Google Indie Games Accelerator 2018 fokus memberikan pelatihan kepada para pengembang game indie ini dari banyak aspek. Google Indie Games Accelerator 2018 pada dasarnya adalah mentoring kepada studio game yang terpilih.

Sama seperti Launchpad Accelerator yang sudah berjalan rutin untuk startup, acara ini menyaring, melatih, membangun, dan membimbing para studio game terpilih untuk bisa menciptakan karya dalam jangka panjang.


“Target kami adalah mempercepat langkah developer game ke pasar global,” kata Director, Business Development SEA, IN, & AU Google Play Kunal Soni, dalam presentasi kepada beberapa wartawan Asia Tenggara, Rabu, 28 November 2018.

Ia menyebutkan Google Indie Games Accelerator memiliki tiga pilar utama, yaitu Discovery, Mentorship, dan Recognition.

Discovery adalah tugas pertama Google dalam menjaring bakat-bakat studio game indie di Asia Tenggara, India, dan Pakistan. Mereka yang terpilih akan diundang Google untuk mengikuti pelatihan. Kemudian Mentorship sebagai tahap paling penting bagi Google.

Tim Google menyeleksi dengan memainkan banyak game, dan game ini harus memenuhi beberapa syarat.

“Dalam mentorship, kita bangun jaringan untuk mereka (developer indie). Undang para pemain industri yang terkenal untuk berbagi pengalaman. Begitu juga seterusnya, mereka ketika lulus nanti akan berbagi pengalaman kepada pengembang generasi baru,” lanjut Kunal.

Sementara pilar terakhir adalah Recognition. Ini berupa insentif untuk developer dalam berbagai bentuk, seperti reward. “Bentuknya bisa jangka pendek dan jangka panjang,” kata Kunal.

Ia melanjutkan, bentuk mentoring tidak hanya berupa teknis dalam membuat game. Ada kurikulumnya, developer game diarahkan agar bisa mengembangkan game mereka lebih jauh, menerapkan monetisasi, melakukan uji coba, dan menuntun mereka untuk berpikir layaknya perusahaan.

Semua keperluan dan fasilitas pendukung disediakan Google selama pelatihan.

Dari Indonesia, ada tiga developer yang terpilih ikut Google Indie Games Accelerator 2018. Mereka adalah Niji Games, Gaco Games, dan Everidea.

Niji Games membawa satu karya berjudul Jones: Single is Happines, yang sekarang berada di posisi 40 besar kategori game berbayar terbaik Google Play Games Indonesia.

Gaco Games punya Epic Conquest, game RPG yang juga punya unsur hack and slash. Everidea dengan gamenya yang saat ini masih dalam tahap pengembangan.

Kunal mengatakan bahwa ada 30 developer game terpilih yang ikut Google Indie Games Accelerator, dan mereka semua mengikuti sekitar 480 sesi pelatihan. Sesi pelatihan telah dimulai sejak akhir September.

Tidak ada pemenang, setelah lulus, semua peserta akan mendapatkan akses untuk berbagai fasilitas yang Google miliki dalam mengembangkan game mereka.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.