Facebook mengatakan video siaran langsung serangan Selandia Baru ditonton 400 kali. (Photo by JOEL SAGET / AFP)
Facebook mengatakan video siaran langsung serangan Selandia Baru ditonton 400 kali. (Photo by JOEL SAGET / AFP)

Tak Ada yang Laporkan Video Siaran Langsung Selandia Baru di Facebook

Teknologi media sosial facebook
Ellavie Ichlasa Amalia • 19 Maret 2019 17:39
Jakarta:Vice President dan Deputy General Counsel Facebook, Chris Sonderby mengumumkan bahwa video siaran langsung penembakan massal di Selandia Baru ditonton sebanyak 200 kali, dan tidak ada satupun penonton video itu yang melaporkan video tersebut.
 
Sementara jumlah total view dari video itu, termasuk view dalam siaran langsung, mencapai 4.000 sebelum video tersebut dihapus oleh Facebook. Video itu pertama kali dilaporkan 29 menit setelah video itu mulai disiarkan atau 12 menit setelah video berakhir, menurut laporan TechCrunch.
 
Sonderby mengatakan, sebuah tautan ke video salinan diunggah ke 8chan, forum internet yang memiliki peran penting dalam penyebaran video ini secara online. Facebook tidak sadar akan hal ini ketika tautan video salinan itu muncul di 8chan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penembakan massal ini memang didesain untuk memaksimalkan perhatian masyarakat di media sosial. Sebelum penembakan, sang pelaku, seorang pria berkulit putih berumur 28 tahun, membuat manifesto anti-muslim.
 
Sonderby mengatakan, akun pribadi sang terduga teroris telah dihapus dari Facebook dan INstagram. Selain itu, mereka juga terus berusaha untuk menghapus akun yang meniru akun dari sang pelaku penembakan.
 
Facebook mengatakan, mereka telah menghapus 1,5 juta video dalam waktu 24 jam sejak penembakan terjadi, termasuk 1,2 juta video yang dihapus ketika diunggah, sehingga tidak ada orang yang bisa menontonnya. Itu berarti, ada 300 ribu video yang terunggah dan bisa ditonton oleh para pengguna.
 
Keputusan Facebook untuk mengumumkan hal ini menunjukkan bahwa mereka bersedia membagikan informasi tentang usaha mereka untuk mengatasi penyebaran video brutal ini.
 
Namun, ini tidak menghentikan kritik yang ditujukan pada Facebook terkait peran mereka untuk menyebarkan video kekerasan dan ideologi berbahaya, terutama sejak mereka meluncurkan Facebook Live tiga tahun lalu.
 
Salah satu kritik yang ditujukan pada Facebook mempertanyakan keputusan Facebook untuk menggantungkan diri pada laporan pengguna meski mereka telah memiliki berbagai peralatan canggih seperti AI dan machine learning.
 
Mereka juga mempertanyakan mengapa Facebook tidak bisa menghapus video yang melanggar peraturan dengan lebih cepat, terutama ketika terjaid krisis.
 
Sonderby juga mengatakan, mereka telah menganalisa video asli di Facebook Live untuk membantu mereka mendeteksi dan menghapus video serupa dari Facebook dan Instagram.
 
Mereka juga membagikan 800 video terkait penembakan ini dengan para anggota Global Internet Forum to Counter Terrorism (GIFCT).
 
"Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya kerja sama antar pelaku industri terkait bagaimana teroris dan ekstrimis beroperasi di dunia online," katanya.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif