Pergeseran pola hidup ini terefleksi secara gamblang dalam lanskap data statistik nasional. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat tingkat penetrasi internet di Tanah Air telah menembus angka 81,72 persen pada tahun 2026, yang mencakup lebih dari 235,26 juta jiwa populasi. Internet dan gawai pintar tidak lagi berada di pinggiran aktivitas harian telah menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat.
Data survei APJII tahun 2026 merinci bahwa motivasi utama masyarakat Indonesia dalam mengakses dunia maya terbagi secara seimbang: 19,9 persen untuk komunikasi interaktif, 19,7 persen untuk mengakses konten hiburan digital, 19,6 persen untuk mencari informasi dan pendidikan, serta 18,7 persen untuk transaksi ekonomi dan pekerjaan harian.
Dengan 83,39 persen pengguna memilih smartphone sebagai perangkat utama, disusul laptop (11,42 persen) dan tablet (1,37 persen), konsep bekerja fleksibel (Work from Anywhere) dan belajar secara hybrid telah berakar kuat di tengah masyarakat.

Tiga Dekade Ritel Smart Lifestyle
Dalam momentum 30 Tahun Erajaya Group, perjalanan perusahaan yang didirikan sejak tahun 1996 ini adalah salah satu cermin evolusi adopsi teknologi di Indonesia. Berawal dari distributor dan importir perangkat telekomunikasi seluler sederhana, entitas bertiker saham ERAA ini bertransformasi menjadi pemain ritel pintar dan gaya hidup terbesar dengan jaringan lebih dari 2.200 gerai fisik yang membentang di Indonesia, Singapura, dan Malaysia.Langkah transformasi struktural Erajaya mengalami lompatan besar ketika mengumandangkan penataan portofolio bisnis ke dalam empat vertikal utama: Erajaya Digital, Erajaya Active Lifestyle (ERAL), Erajaya Food & Nourishment (EFN), dan Erajaya Beauty & Wellness (EBW). Reorientasi ini didasari pemahaman bahwa teknologi gawai tidak lagi berdiri sendiri. Ia telah teranyam erat dengan gaya hidup, kebugaran, dan interaksi sosial masyarakat urban.
Pendekatan ini menyatukan kenyamanan belanja daring melalui platform digital dengan pengalaman fisik di gerai luring. Konsumen kini dapat melakukan riset spesifikasi gadget secara online, lalu mendatangi toko fisik untuk menguji langsung unit produk (touch-and-try experience) sebelum memutuskan pembelian.
Melalui Erajaya Digital (Erafone, iBox, Xiaomi Store) dan Erajaya Active Lifestyle (Urban Republic, DJI, Garmin, IT), masyarakat mendapatkan akses mudah terhadap perangkat komputasi, kamera aksi, hingga ekosistem smart home yang menyokong produktivitas serta hobi kreatif mereka.
Salah satu perubahan paling menarik di kawasan perkotaan adalah berubahnya fungsi restoran dan kafe.
Tempat-tempat ini telah berevolusi menjadi apa yang disebut para sosiolog sebagai The Third Space (Ruang Ketiga). Ini adalah sebuah lingkungan sosial di luar rumah dan kantor atau sekolah. Ruang ketiga modern dituntut tidak hanya menyajikan hidangan berkualitas, tetapi juga menyediakan infrastruktur digital yang andal.
Seorang freelancer atau kreator konten dapat menghabiskan waktu beberapa jam di kafe untuk mengedit video dan mengunggahnya ke platform TikTok (yang diakses oleh 35,17 persen pengguna internet Indonesia) atau YouTube (23,76 persen), sembari menikmati minuman hangat dan berdiskusi dengan rekan seprofesi.
Pembentukan vertikal Erajaya Food & Nourishment (EFN) melalui jaringan Paris Baguette, Bacha Coffee, kedai teh Chagee, serta kemitraan strategis pembentukan PT Era Oriental Kopi (Oriental Kopi) merupakan bentuk antisipasi tajam terhadap kebutuhan ini. Erajaya tidak sekadar menjual alat kerja digital seperti tablet dan laptop, tetapi juga menyediakan serta mengelola ruang-ruang fisik tempat gawai tersebut digunakan secara aktif oleh masyarakat perkotaan.

Hub Gaya Hidup Digital Masa Depan
Sebagai wujud dari sintesis antara ritel teknologi, ruang terbuka, dan interaksi sosial tecermin pada pembangunan Erajaya Digital Complex di kawasan PIK 2, Jakarta. Berdiri di atas lahan seluas 2 hektar dengan konsep semi open-air, EDC dirancang sebagai center for digital lifestyle terbesar dan paling lengkap di Tanah Air.Berbeda dari pusat perbelanjaan konvensional yang tertutup, EDC menghadirkan gerai-gerai mandiri dari merek global yang terhubung melalui koridor terbuka. Pengunjung dapat menguji performa drone DJI di ruang terbuka, menjajal akurasi jam tangan pintar Garmin dalam kegiatan community run, mencoba ekosistem rumah pintar Immersive Tech (IT), hingga menikmati sajian F&B di lokasi yang sama.
"Erajaya Digital Complex kami hadirkan sebagai pusat gaya hidup digital dengan pengalaman one-stop shopping di dalam retail space yang terbesar dan terlengkap. Kami membawa toko dengan konsep terbaik dari merek-merek terkemuka dan terdepan di kelasnya," papar CEO Erajaya Digital, Joy Wahjudi saat peresmian Erajaya Digital Complex di PIK 2.

Pemerataan Akses dan Inklusi Digital
Kendati adopsi gaya hidup digital berkembang pesat di pusat-pusat metropolitan, tantangan kesenjangan akses internet antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Data APJII 2026 menunjukkan bahwa pengguna internet masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan tingkat penetrasi 85,95 persen dan menyumbang 58,24 persen dari total pengguna nasional, sementara wilayah Maluku dan Papua baru mencatatkan tingkat penetrasi 69,74 persen.Di sinilah peran strategis keberadaan jaringan distribusi nasional menjadi sangat vital. Kehadiran 42 pusat distribusi dan ribuan gerai Erajaya di luar Pulau Jawa berkontribusi dalam memangkas hambatan geografis.
Masyarakat di daerah mendapatkan kepastian akses terhadap perangkat teknologi orisinal bergaransi resmi, yang pada akhirnya meningkatkan literasi digital dan daya saing ekonomi lokal secara inklusif.
Menatap masa depan, ini bukti bahwa teknologi tidak lagi berdiri sebagai barang elektronik yang dingin. Teknologi adalah enabler budaya baru yang membuat masyarakat Indonesia bekerja lebih produktif, belajar lebih fleksibel, menikmati hiburan lebih imersif, serta merawat ruang interaksi sosial secara lebih bermakna.