Di balik jawaban yang muncul dalam hitungan detik, ada ribuan chip di data center yang bekerja menjalankan operasi komputasi dan menghasilkan panas. Karena itu, air menjadi salah satu bagian penting dalam sistem pendinginan infrastruktur AI.
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Agustino Zulys, menjelaskan bahwa kebutuhan air pada data center AI berkaitan dengan proses menjaga temperatur chip agar tetap aman saat bekerja.
“Betul datacenter AI butuh air bersih. Tapi bukan untuk diminum, melainkan untuk mendinginkan agar otaknya tidak kepanasan,” ujar pria yang akrab disapa Prof Zulys di akun TikTok miliknya.
Menurut Prof Zulys, ketika pengguna memberikan perintah kepada AI, respons yang terlihat sederhana sebenarnya merupakan hasil pemrosesan oleh banyak chip di data center. Chip tersebut menjalankan miliaran operasi yang membutuhkan listrik sekaligus menghasilkan panas.
Ia menggunakan analogi sederhana untuk menggambarkan proses tersebut. Semakin berat komputasi yang dilakukan, semakin besar pula panas yang dihasilkan perangkat.
“AI itu seperti mahasiswa mau ujian. Makin berat mikirnya, makin panas kepalanya,” katanya.
Kenapa Data Center AI Membutuhkan Air?
Panas dari chip harus segera dikendalikan agar perangkat tidak mengalami kerusakan. Prof Zulys menjelaskan bahwa air digunakan dalam proses tersebut karena memiliki kapasitas panas yang tinggi sehingga efektif membantu membawa panas keluar dari sistem.Namun, kebutuhan tersebut memiliki konsekuensi tersendiri. Air yang digunakan untuk sistem pendinginan, menurut Agustino, harus bersih dan tidak dapat sembarangan mengambil air dari sungai, danau, maupun laut karena berpotensi merusak chip.
Persoalan tersebut menjadi semakin besar ketika penggunaan AI berlangsung dalam skala masif. Prof Zulys mengutip studi dari UC Riverside dan Colorado yang memperkirakan model AI seperti GPT-3 menggunakan sekitar setengah liter air untuk menghasilkan 50 respons, atau sekitar 50 mililiter untuk satu jawaban.
Angka tersebut terlihat kecil jika hanya dikaitkan dengan satu permintaan. Namun, skalanya berubah ketika AI digunakan oleh ribuan atau bahkan jutaan orang secara bersamaan.
Prof Zulys menyebut sebuah data center berkapasitas 100 megawatt dapat menggunakan sekitar 2 juta liter air per hari. Jumlah tersebut ia analogikan setara dengan kebutuhan sekitar 6.500 rumah tangga.
Artinya, persoalan konsumsi air AI tidak semata-mata berada di level satu chatbot atau satu kali kueri. Beban sebenarnya muncul ketika aktivitas komputasi dikumpulkan dalam infrastruktur data center berkapasitas besar.
Bukan Berhenti Menggunakan AI
Menurut Prof Zulys, kebutuhan air tersebut bukan berarti penggunaan AI harus dihentikan. Solusinya justru perlu diarahkan pada bagaimana infrastruktur data center mengelola sumber daya secara lebih efisien.Salah satu pendekatan yang ia usulkan adalah menggunakan sistem pendinginan dengan siklus tertutup dan air daur ulang. Lokasi pembangunan data center juga perlu mempertimbangkan daya dukung air di wilayah tersebut.
“Buat metode siklus pendinginan tertutup, air daur ulang, dan bangun datacenter di lokasi yang daya dukung airnya memadai. Jangan di lingkungan penduduk. Terjadi persaingan konsumsi air,” tuturnya.
Pengguna AI juga memiliki ruang untuk mengurangi beban tersebut. Prof Zulys menyarankan agar AI digunakan sesuai kebutuhan, termasuk menghindari kueri yang tidak diperlukan dan tidak menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI.
“Kalau bisa, kita kerjakan sendiri saja. Toh, kita masih bisa hidup tanpa AI, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa air,” ujarnya.
Pesan tersebut menempatkan persoalan konsumsi air AI dalam konteks yang lebih luas. Kemajuan teknologi memang meningkatkan kemampuan komputasi, tetapi infrastruktur yang menopangnya tetap membutuhkan sumber daya fisik.
Bagi Prof Zulys, batas tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tetap perlu berjalan dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. “Sehebat-hebatnya teknologi manusia, tetap ada batasnya,” tandasnya.