Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jepang Ingin Batasi Durasi Penggunaan Ponsel dan Game

Teknologi teknologi games jepang
Cahyandaru Kuncorojati • 15 Januari 2020 20:44
Jakarta: Perang untuk menekan adiksi terhadap penggunaan smartphone dan bermain game yang memiliki dampak buruk terhadap penggunanya akan semakin luas. Sebelumnya, Tiongkok dikenal sebagai negara yang sudah memberlakukan kebijakan seperti itu secara masif.
 
Terbaru, Jepang juga berencana memberlakukan kebijakan serupa. Hal ini mengundang perhatian karena negara ini diketahui sebagai salah satu pusat industri game dunia yang hadir di berbagai platform termasuk smartphone.
 
Dikutip dari WCCF Tech, salah satu provinsi atau prefektur di Jepang berencana memberlakukan kebijakan tersebut di daerahnya. Kabar ini dilaporkan langsung oleh media lokal Asahi Shimbun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dilaporkan bahwa kebijakan yang diberlakukan oleh prefektur Kagawa, akan diberlakukan kepada warga berusia di bawah 18 tahun. Mirip dengan kebijakan di Tiongkok, mereka dilarang menggunakan smartphone selama 60 menit pada hari kerja dan 90 menit di akhir pekan maupun hari libur nasional.
 
Tambahan lainnya adalah mereka diimbau untuk menonaktifkan smartphone pada pukul 22.00 malam waktu setempat hingga pukul 08.00 pagi. Durasi ini masih sama seperti kebijakan yang diterapkan Tiongkok. Kebijakan tersebut juga akan berlaku untuk kegiatan bermain game.
 
Namun, pemerintah setempat dikabarkan belum menyiapkan regulasi mengenai sanksi atau cara untuk mengawasi jalannya kebijakan ini. Jadi bisa dibilang kebijakan ini masih dalam tahap awal.
 
Komunitas dan masyarakat juga diberikan kesempatan untuk memberikan komentar atas rancangan kebijakan ini. Pemerintah setempat sudah mengajukan rancangan tersebut ke pemerintah pusat pada 10 Januari 2020 dan bulan depan akan ditentukan apakah kebijakan ini disahkan atau ditolak.
 
Sejauh ini belum ada kabar mengenai respons dari gamer maupun pengguna smartphone di Jepang atas rencana kebijakan ini. Komentar dari developer game di Jepang juga belum terdengar mengingat di Tiongkok kebijakan seperti ini juga berlaku bagi pembuat game.
 
Di Tiongkok, pemerintah mewajibkan pembuat game harus memberlakukan pembatasan jam bermain game di layanan mereka. Apabila tidak melakukannya, developer game bisa mendapatkan sanksi atau denda dari pemerintah.
 
Misalnya, Tencent di tahun 2017 telah menanamkan sistem pembatasan durasi permainan bagi pengguna kalangan remaja dan anak-anak di beberapa game populer mereka. Sistem ini mewajibkan pemain memasukan angka identitas kependudukan yang terhubung ke database pemerintah.
 
Sistem yang terintegrasi tadi membuat gamer di Tiongkok tidak bisa mengelak atau memanipulasi data diri mereka untuk bisa bermain game di smartphone.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif