Valve tak akan Sensor Game yang Masuk ke Steam

Ellavie Ichlasa Amalia 07 Juni 2018 13:23 WIB
games
Valve tak akan Sensor Game yang Masuk ke Steam
Valve mengumumkan bahwa mereka tidak akan menyensor game di Steam.
Jakarta: Dengan perkiraan pendapatan sekitar USD4,3 miliar (Rp60 triliun) per tahun, Steam adalah toko digital untuk game PC terbesar di dunia. Hari ini, Valve menyebutkan bahwa mereka tidak akan menyensor game yang akan dijual melalui Steam. 

Dalam sebuah blog post, Erik Johnson dari Valve menjelaskan bahwa hanya ada dua tipe konten yang akan ditolak masuk Steam, yaitu konten yang dianggap ilegal atau konten yang memang dibuat hanya untuk merusuh. 

Menurut CNET, peraturan tersebut masih memungkinkan Valve untuk menolak game tentang penembakan di sekolah yang sempat muncul di Steam minggu lalu.


Ketika Valve menolak game yang dinamai Active Shooter tersebut, mereka mengatakan bahwa developer game adalah "troll", dan menyebutkan bahwa sang developer "memiliki sejarah penipuan konsumen, merilis konten dengan hak cipta dan memanipulasi review pengguna."

Dengan peraturan baru ini, game dengan konten seksual eksplisit, seperti game visual novel yang sempat dikabarkan akan dihapus dari Steam, boleh dijual melalui Steam. 

Melalui blog post, Johnson menjelaskan bahwa alasan Valve memutuskan untuk tidak melakukan penyensoran adalah karena memilih game bukanlah hal yang mudah. Valve merasa, mereka akan bisa membuat lebih banyak orang puas jika mereka tidak berusaha menyensor game yang dirilis di Steam. 

Valve pernah mendapatkan protes karena melarang game-game tertentu muncul di Steam atas dasar adanya konten seksual eksplisit dan pada saat yang sama membiarkan game populer seperti The Witcher 3, meski game itu juga mengandung adegan seksual yang eksplisit. 

Daripada menyensor konten, Valve berencana untuk membuat tool baru untuk membiarkan penggunanya memfilter konten yang tampil.

"Melalui pendekatan ini, kami bisa fokus untuk tidak mengatur konten apa yang boleh masuk Steam tapi lebih ke memberikan kendali pada pengguna untuk mengatur konten apa yang ingin mereka lihat," tulis Johnson. 



(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.