Berbeda dengan latar era Sengoku yang menjadi pondasi trilogi orisinal Nobunaga, Onimusha: Way of the Sword memajukan timeline ke awal periode Edo. Kota Kyoto yang semestinya menikmati era baru perdamaian di bawah hegemoni keshogunan Tokugawa justru terjerembap ke dalam kehancuran supernatural akibat merebaknya kabut kutukan berkekuatan jahat yang disebut Malice.
Pemain mengendalikan sang pendekar legendaris Miyamoto Musashi yang tiba di ibu kota kuno tersebut demi membuktikan kemampuannya sebagai ahli pedang tak tertandingi. Namun, nasibnya berputar tragis. Usai bertarung melawan master dojo Yoshioka Seijuro, Musashi disergap dan tewas di tangan kawanan iblis Genma yang bangkit dari neraka.

Saat terbangun di dasar dunia bawah, Musashi dihadang oleh sosok misterius berjuluk The Man in White yang menanamkan Oni Gauntlet secara paksa pada lengannya sebelum mengembalikannya ke dunia fana. Kutukan ini bersifat permanen, melepas sarung tangan pusaka tersebut berarti kematian seketika bagi Musashi.
Daya tarik utama narasi game ini berakar pada pergulatan filosofis Musashi. Sebagai seorang purist dalam ilmu pedang, Musashi memandang kekuatan supranatural gauntlet iblis sebagai jalan pintas curang yang menodai kehormatan seni bela dirinya. Dinamika ini kian tajam berkat kehadiran rival abadinya, Sasaki Ganryu. Dibangkitkan dengan sarung tangan serupa, Ganryu justru tenggelam dalam megalomania dan membantai manusia fana demi menyerap jiwa mereka demi kekuasaan mutlak.
Pencarian Musashi membawanya bertemu dengan tokoh-tokoh berbobot mitologis dan historis. Ia bersekutu dengan Ono no Takamura, birokrat era Heian yang abadi dan bertugas menjaga gerbang neraka di Kuil Rokudo Chinno-ji, serta muridnya, Izumo no Okuni, pionir tarian kabuki. Misteri semakin terkuak ketika roh yang bersemayam di dalam gauntlet Musashi bangkit: Shizuka Gozen. Shizuka membongkar fakta kelam bahwa dalang di balik invasi Genma adalah mantan suaminya sendiri, sang panglima perang legendaris Minamoto no Yoshitsune yang berusaha menelan jiwa-jiwa terkuat demi menjadi dewa penguasa.

Karakterisasi Musashi terasa hidup berkat keberhasilan Capcom mengamankan lisensi resmi penampilan fisik mendiang aktor legendaris Toshiro Mifune dari Mifune Productions. Mengadaptasi postur, tatapan mata yang tajam, hingga gestur khas Mifune dari film-film klasik Akira Kurosawa, model karakter Musashi menghadirkan karisma sinematik luar biasa.
Soal gameplay, Onimiusha: Way of the Sword memilih jalan berani dengan menolak pakem klon soulslike yang menjamur. Musashi tidak dibebani oleh konsumsi stamina ketika mengayunkan pedang, menghindar, ataupun berlari. Keputusan ini memberikan kontrol responsif dan kelincahan instan. Input pemain diterjemahkan seketika ke layar tanpa penundaan artifisial.

Meskipun Musashi sangat lincah, pertarungan tetap berjalan penuh perhitungan. Kunci kemenangan bertumpu pada pembacaan ritme musuh, defleksi proyektil, dan penggunaan sistem tangkisan terarah.
Dengan menahan tangkisan pada momentum yang tepat, Musashi dapat membelokkan keseimbangan musuh dan membanting mereka ke arah dinding atau kawanan Genma lainnya. Pemain juga dapat mengambil kuda-kuda omni-guard untuk menahan serangan dari segala arah atau memanfaatkan objek lingkungan, seperti menendang meja pasar sebagai perisai darurat.
Tebasan pedang dibagi antara tebasan satu tangan yang cepat dan tebasan dua tangan berdaya rusak tinggi yang meremukkan pertahanan lawan. Ketika meteran postur musuh terkuras habis melalui tekanan beruntun dan defleksi sempurna, eksekusi Break Issen terbuka lebar. Tebasan mematikan ini memotong tubuh Genma secara akurat mengikuti sudut dan lintasan tebasan pedang pemain. Pada pertempuran melawan boss, Break Issen tidak memicu kelelahan instan, melainkan memberi dilema taktis antara menghasilkan kerusakan kolosal atau memanen cadangan jiwa dalam jumlah besar.

Siklus penyerapan jiwa ini menciptakan ketegangan konstan. Musashi harus menyerap jiwa yang melayang secara manual, menghadapkannya pada risiko diserang musuh jika salah memperhitungkan waktu. Penggunaan Oni Armaments, enam senjata sekunder berkekuatan dahsyat yang dipicu oleh jiwa biru, memberikan bonus pemulihan karena setiap serangan senjata ini langsung memunculkan jiwa kuning, menghasilkan siklus serangan ofensif berisiko tinggi tetapi berdampak besar.
Onimusha: Way of the Sword meninggalkan format kamera statis di masa lalu demi menghadirkan lingkungan tiga dimensi yang saling terhubung di area Kyoto Timur. Wilayah kota pada awalnya terkunci oleh kabut tebal Malice. Melalui pembersihan dan pembasmian penguasa Genma lokal, Musashi membebaskan distrik-distrik kota, memungkinkan penduduk sipil kembali beraktivitas serta membuka jalur pintas baru.

Struktur semi-terbuka ini diselingi oleh level linear dengan tata panggung spektakuler. Area lereng peziarah Kiyomizu-zaka hingga panggung kayu raksasa Kuil Kiyomizu-dera dirancang dengan akurasi arsitektur feudal autentik hasil riset langsung tim pengembang bersama staf kuil. Selain itu, misi pendakian Gunung Oe di waktu senja menghadirkan atmosfer mencekam, memaksa pemain menghindari gelindingan kayu raksasa sembari menembus benteng pertahanan musuh.
Secara visual, Capcom mengusung konsep filosofi kintsugi—seni tradisional Jepang memperbaiki tembikar pecah menggunakan pernis emas. Motif retakan emas bercahaya ini diaplikasikan dengan artistik pada luka di tubuh Musashi, bilah katana yang tergores, hingga sambungan arsitektur kuil yang diperbaiki oleh energi Oni, memberikan identitas artistik yang khas dan puitis.
Meski kualitas pertarungannya berada di kasta tertinggi game aksi modern, Way of the Sword tidak sepenuhnya lepas dari kekurangan desain.

Kelemahan paling mencolok terletak pada tempo permainan di zona hub semi-terbuka Kyoto. Transisi antara misi utama sinematik yang mendebarkan seringkali terhambat oleh kewajiban membersihkan distrik kota dan menyelesaikan misi sampingan demi mengumpulkan jiwa merah untuk peningkatan perlengkapan. Ini terkadang memberi kesan pengisi waktu yang mengendurkan tensi narasi.
Selain itu, kendala teknis minor muncul pada sistem kamera orang ketiga. Dalam arena pertarungan tertutup, seperti interior ruangan kuil yang sempit, kamera dinamis terkadang tersangkut di balik pilar kayu atau sudut dinding ketika Musashi bermanuver menghindari serangan boss yang bertempo cepat.
| PLATFORM: | PS5, PC, Xbox X/S, Nintendo Switch 2 |
| DEVELOPER: | Capcom |
| PUBLISHER: | Capcom |
| TANGGAL RILIS: | 3 September 2026 |
| GENRE: | Action-Adventure |
Kesimpulan
Onimusha: Way of the Sword menegaskan bahwa Capcom telah menemukan formula emas dalam merevitalisasi katalog klasik mereka. Game ini adalah surat cinta bagi sinema samurai klasik sekaligus bukti nyata bahwa pertarungan berpedang yang menuntut disiplin tinggi tidak harus mengorbankan kelincahan gerak.
Bagi para penggemar lama maupun pendatang baru yang mendambakan aksi pedang berkelas tinggi, Onimusha: Way of the Sword adalah game yang tidak boleh dilewatkan.
9.9
Onimusha: Way of the Sword
Plus
- Tekni Parry, Deflect, dan Issen sangat mantap
- Unsur historis ikonik
- Side quest tidak membosankan
- Upgrade skill tidak sulit
- Pertarungan boss spektakuler
- Cocok untuk gamer baru
Minus
- Desain semi open-world agak terbatas
- Sudut kamera di beberapa tempat terbatas