Indie Games Accelerator 2018

Google: Potensi Besar dari Studio Game Asia Tenggara

Mohammad Mamduh 29 November 2018 11:27 WIB
googlegames
Google: Potensi Besar dari Studio Game Asia Tenggara
Davin Mclaughlin, Global Director Development Ecosystems, Google.
Singapura: Google melihat potensi yang sangat besar dari studio game indie asal Asia Tenggara. Hal ini mereka ungkapkan dalam acara Indie Games Accelerator.

Dalam sesi tanya jawab dengan beberapa wartawan, mereka menyebutkan banyak keunikan dari setiap negara di wilayah tersebut, sehingga cukup sulit jika disimpulkan secara umum.

Apabila dilihat secara pasar, Google menyebut Asia Tenggara punya populasi usia muda dengan jumlah yang sangat banyak. “Keberagaman kebudayaan juga sangat terlihat,” kata Davin Mclaughlin, Global Director Development Ecosystems, Google.


Hal menarik yang mereka lihat adalah populasi wilayah ini yang mayoritas menggunakan smartphone sebagai perangkat pertama, dan tidak sedikit yang hanya menggunakan smartphone. “ini seperti persimpangan antara pengguna muda dan mobile first.”

Penduduk Asia Tenggara juga mulai dinilai mempertimbangkan developer game sebagai salah satu jalan karir. Memang, pada awalnya, diakui ada halangan dari pihak orangtua, yang belum melihat game sebagai pekerjaan yang dapat menghasilkan uang.

“Saya menjelaskan kepada ibu, bahwa saya akan menjadi pembicara Indie Games Accelerator oleh Google. Baru kali ini saya melihat dukungan penuh darinya,” kata salah Kamina Vincent dari Mountain Games Studio.

Beberapa game yang dirilis studio game indie seringkali untuk negara tertentu. Dalam hal ini, lokalisasi atau menanamkan konten yang sesuai untuk pasar lokal menjadi salah satu aspek esensial.

Ada juga studio game yang sejak awal menargetkan pasar global. Caranya adalah dengan menghadirkan Bahasa Inggris untuk antarmuka game. Menariknya, gamer dari negara asal sering tidak mengetahui bahwa game yang mereka mainkan adalah karya dalam negeri.

Di sisi lain, Google juga mengakui bahwa pasar game mobile makin kompetitif. Dengan banyaknya game yang muncul di Google Play Store, konsumen juga akan dihadapi dengan banyak pilihan.

Dari sini, kualitas akan sangat menentukan. “Game itu boleh berbayar atau gratis. Hal yang utama adalah kualitasnya,” kata Director, Business Development SEA and India Google Play Kunal Soni.

Pasar yang semakin kompetitif ini tidak menutup kesempatan developer game. Ini karena Android yang besifat open-source. Ini membuat pasar tidak memiliki batasan. dengan begitu, permintaan game akan selalu ada.

Untuk genre, Google menyebut pilihannya sangat beragam di Asia Tenggara. Niji Games dari Indonesia punya game visual novel berjudul Jones: Single is Happines, sementara Cat Quest dari Gentlebros asal Singapura mengusung konsep RPG.

Google memang sadar bahwa potensi industri game terus tumbuh. Mengutip data dari Newzoo, Asia Tenggara punya populasi sekitar 626 juta jiwa, dengan jumlah gamer mencapai 187 juta orang.

Nilai pasar game online di Asia Tenggara sendiri bisa mencapai USD10 miliar pada tahun 2025. Nilai yang menggiurkan ini seharusnya juga bisa dirasakan manfaatnya oleh developer game indie.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.