Jakarta: Seorang pria berumur 28 tahun ditembak mati oleh polisi Wichita setelah masuk laporan palsu tentang penyanderaan.
Dalam sebuah konferensi pers, kepolisian Wichita menyebutkan bahwa telepon tersebut ditujukan untuk memanggil anggota SWAT, sebuah tindakan yang dikenal dengan nama "swatting".
Tampaknya, tindakan ini dapat dikaitkan dengan pertengkaran antara dua pemain Call of Duty, meski polisi tidak mengonfirmasi hal tersebut.
Deputy Police Chief Troy Livington berkata bahwa pihak kepolisian mendapatkan laporan tentang situasi penyanderaan. Dalam panggilan tersebut, sang penelpon berkata bahwa ayahnya telah ditembak di bagian kepala dan tidak bernafas dan dia tengah menyandera anggota keluarganya dengan pistol. Dia juga mengklaim telah menyiramkan bensin ke rumahnya.
"Saya mungkin akan membakar rumah ini, membakar semuanya," kata sang penelepon, seperti yang dikutip dari Kotaku.
Ketika polisi tiba di tempat kejadian, seorang pria membuka pintu rumah dan ditembak mati oleh seorang polisi. Pria tersebut memang mendengarkan perintah yang diberikan, tapi menurut pernyataan resmi departemen kepolisian, dia kemudian mencoba meraih sesuatu di ikat pinggangnya, mendorong sang polisi untuk menembaknya. Kemudian, diketahui bahwa pria itu ternyata tidak memegang senjata.
Polisi yang menembak kini mengambil cuti administratif, sesuai dengan regulasi departemen kepolisian.
Tampaknya, orang-orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini adalah dua pemain Call of Duty yang bertaruh Rp20 ribu dalam sebuah pertandingan, menurut screenshot cuitan di Twitter yang dibagikan oleh komunitas Call of Duty.
Setelah pertandingan berakhir, dua orang di tim yang kalah mulai bertengkar. Pemain pertama, "Miruhcle" kemudian mengirimkan sebuah alamat ke pemain kedua "Baperizer", mendorong mereka untuk melakukan swatting.
Pemain kedua itu kemudian mengirimkan alamat ke pihak ketiga yang memang dikenal karena bisa melakukan swatting. Namun, ternyata, alamat yang diberikan ternyata bukan alamat dari kedua pemain tersebut. Alamat itu adalah milik seorang pria yang tidak ada kaitannya dengan kedua pemain itu.
Swatting adalah kegiatan melaporkan kejahatan palsu ke polisi lokal dengan harapan tim SWAT akan memaksa masuk ke rumah seseorang. Polisi mengonfirmasi bahwa mereka percaya, panggilan telepon ini memang tindakan swatting.
Mereka juga berkata, mereka akan bekerja sama dengan rekan federal untuk mencari tahu orang yang bertanggung jawab atas hal ini.
Cuitan kedua pemain tak lagi bisa ditemukan, baik karena mereka menghapusnya atau karena Twitter menangguhkannya. Namun, sebuah cuitan dari salah satu pemain masih tersebar. "Saya tidak membunuh siapapun karena saya tidak menembakkan pistol dan saya bukan anggota SWAT," tulis salah satu pemain.
Kepolisian Wichita belum memberikan nama dari tersangka, tapi Livington berkata bahwa penyelidikan ini memiliki petunjuk menjanjikan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan