Situasi tersebut bahkan memengaruhi proses produksi Steam Machine, hingga perusahaan harus berjuang mengamankan stok komponen sebelum perangkat tersebut resmi dipasarkan.
Pernyataan ini menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai kondisi rantai pasok industri PC saat ini. Berbeda dengan konsumen yang baru merasakan kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir, Valve mengaku telah menghadapi masalah tersebut jauh lebih awal karena berhubungan langsung dengan pemasok komponen.
Valve Akui Sulit Mendapatkan Pasokan RAM dan SSD
Dikutip dari laporan situs PC Gamer, dalam sebuah wawancara dengan Pierre-Loup Griffais, salah satu perwakilan Valve yang menangani Steam Machine, menjelaskan bahwa kondisi pasar memori dan penyimpanan kini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.Menurutnya, komponen yang sebelumnya tergolong mudah diperoleh kini justru menjadi barang yang sangat diperebutkan.
"Dulu komponen seperti ini bisa dibeli dengan harga normal. Sekarang kami harus bernegosiasi sangat keras hanya untuk mendapatkan beberapa ribu unit, sementara masih banyak perusahaan lain yang mengantre lebih dulu," ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya harga yang semakin mahal, tetapi juga terbatasnya ketersediaan komponen di tingkat produsen.
Griffais mengungkapkan Valve mulai merasakan tekanan pasokan sekitar delapan bulan hingga satu tahun sebelum lonjakan harga RAM dan SSD mulai dirasakan konsumen di pasar ritel.
Hal itu terjadi karena Valve membeli komponen langsung dari pemasok yang nantinya akan digunakan dalam proses produksi perangkat.
Dengan posisi tersebut, perusahaan dapat melihat perubahan kondisi rantai pasok lebih awal dibanding pasar umum.
Ia menyebut pasar memori dan penyimpanan saat ini berada dalam situasi yang tidak biasa sehingga membuat produsen harus mengubah strategi pengadaan komponen agar produksi tetap berjalan.
Steam Machine Nyaris Gagal Diluncurkan
Krisis pasokan tersebut juga berdampak langsung terhadap Steam Machine. Valve mengaku sempat menghadapi ketidakpastian mengenai ketersediaan stok perangkat pada awal tahun. Bahkan perusahaan belum yakin dapat memproduksi Steam Machine dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi jadwal peluncuran.Meski akhirnya berhasil mengamankan pasokan komponen, proses tersebut tidak berjalan mudah. Valve menyebut mereka harus bekerja keras untuk memastikan perangkat tetap bisa masuk ke pasar sesuai rencana.
Selain memengaruhi produksi, terbatasnya pasokan RAM dan SSD juga berkontribusi terhadap kenaikan harga Steam Machine.
Perangkat tersebut akhirnya meluncur dengan banderol USD1.049 atau sekitar Rp18 jutaan menggunakan kurs hari ini, 1 Juli 2026. Harga tersebut dinilai cukup tinggi, terutama karena secara psikologis banyak produk elektronik berusaha mempertahankan harga di bawah angka USD1.000.
Valve diyakini sebenarnya ingin memasarkan Steam Machine dengan harga yang lebih rendah. Namun, kondisi pasar komponen membuat perusahaan tidak memiliki banyak pilihan.
Krisis Komponen Diperkirakan Belum Berakhir
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda pasar RAM dan SSD akan kembali normal dalam waktu dekat.Keterbatasan pasokan diperkirakan masih akan memberikan tekanan terhadap harga berbagai perangkat elektronik, mulai dari PC gaming, laptop, handheld gaming, hingga konsol.
Bagi konsumen, kondisi tersebut berarti harga perangkat baru kemungkinan tetap bertahan di level tinggi selama pasokan komponen inti belum kembali stabil.
Sementara bagi produsen, tantangannya bukan hanya menjaga harga tetap kompetitif, tetapi juga memastikan pasokan komponen tersedia agar proses produksi tidak terganggu.
Jika Anda berencana membeli PC gaming, laptop, atau perangkat berbasis SSD dalam waktu dekat, sebaiknya pantau perkembangan harga dan stok di pasar. Kondisi industri saat ini menunjukkan bahwa ketersediaan komponen sama pentingnya dengan harga, sehingga waktu pembelian dapat memengaruhi nilai yang Anda peroleh.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda