Kisah tersebut pertama kali muncul dari pengguna After-Cartoonist-196 di subreddit berbahasa Jerman PCBaumeister. Ia mengaku membeli sebuah CPU bekas pada 21 September, sementara pemilik sebelumnya disebut mendapatkan ban Valorant pada 12 Agustus.
Jika kronologi tersebut benar, terdapat kemungkinan masa hukuman perangkat keras dari pemilik lama masih berlangsung ketika CPU berpindah tangan. Namun, Phillip Koskinas, pimpinan anticheat Riot, membantah sejumlah bagian penting dari cerita tersebut, dikutip dari laporan PC Gamer.
Riot Sebut Hardware Ban Valorant Maksimal Empat Bulan
Koskinas mengatakan melalui media sosial bahwa dirinya tidak menemukan tiket dukungan Riot yang sesuai dengan detail kasus yang disampaikan pemain tersebut. Ia menyebut cerita itu sebagai sesuatu yang “cukup tidak mungkin”.Menurut Koskinas, hardware ban yang diterapkan Riot memiliki durasi maksimum empat bulan. Riot juga disebut wajib memberikan informasi mengenai sisa durasi hukuman ketika merespons tiket dukungan terkait ban tersebut.
Artinya, jika ban terhadap pemilik sebelumnya memang dimulai pada 12 Agustus, masa empat bulannya baru berakhir sekitar pertengahan Desember. Dalam skenario tersebut, CPU yang dibeli pada 21 September memang masih berada dalam periode ketika ban tersebut seharusnya berlaku.
Ada satu bagian lain dari klaim pemain yang secara tegas dibantah Koskinas. Ia menyangkal bahwa komponen PC lain akan otomatis masuk daftar hitam ketika sebuah sistem terdeteksi menggunakan komponen yang terkena hardware ban.
Dengan kata lain, menurut penjelasan pimpinan anticheat Riot tersebut, sebuah komponen yang terkena hukuman tidak kemudian “menularkan” status ban kepada seluruh hardware lain di komputer.
Apakah CPU Bekas Bisa Membawa Ban Valorant?
Kasus ini menjadi menarik karena dua klaim berbeda perlu dipisahkan. Klaim bahwa seluruh komponen PC dapat ikut terkena ban telah dibantah langsung oleh Koskinas.Namun, kemungkinan seorang pengguna membeli komponen yang masih terkait dengan periode hardware ban pemilik sebelumnya belum sepenuhnya gugur dari kronologi yang tersedia.
PC Gamer mencatat bahwa inti cerita mengenai pemain yang diduga mewarisi hardware ban masih dianggap masuk akal, meski situasinya kemungkinan tidak sedrastis gambaran awal.
Ada pula kemungkinan masalah komunikasi dalam proses dukungan pelanggan. PC Gamer menyebut Riot merupakan perusahaan besar dengan banyak divisi dan kontraktor eksternal, sehingga respons dukungan yang tidak tepat atau salah komunikasi secara teoritis dapat membuat kebijakan hardware ban dipahami secara keliru.
Namun, penting dicatat bahwa hal tersebut merupakan dugaan, bukan konfirmasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada kasus After-Cartoonist-196.
Kasus Ini Menyoroti Sisi Lain Anticheat
Kasus hardware ban tersebut memperlihatkan konsekuensi lain dari sistem anticheat modern. Untuk menghadapi kecurangan dalam game kompetitif, pengembang menggunakan metode deteksi yang semakin jauh menjangkau perangkat keras dan perangkat lunak pada PC pemain.Pendekatan tersebut memang ditujukan untuk membuat cheater lebih sulit menghindari hukuman hanya dengan mengganti akun atau konfigurasi perangkat. Namun, kasus seperti klaim pemain Valorant menunjukkan bahwa penerapan sistem semacam itu juga dapat menimbulkan kebingungan ketika sebuah perangkat berpindah tangan.
Bagi pembeli PC bekas, persoalannya menjadi lebih rumit karena sebuah komponen memiliki riwayat penggunaan yang tidak selalu diketahui.
Meski begitu, berdasarkan penjelasan Riot yang tersedia dalam kasus ini, tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa hardware ban pada satu komponen otomatis membuat seluruh komponen PC ikut diblokir.
Kasus tersebut masih menyisakan tanda tanya karena Riot belum mengonfirmasi detail spesifik yang dialami pemain tersebut. Yang sudah ditegaskan Koskinas adalah durasi hardware ban maksimal empat bulan dan bantahan terhadap klaim bahwa status ban dapat “menginfeksi” komponen PC lainnya.