Port Factory (Sumber: Goldpact Goblins)
Port Factory (Sumber: Goldpact Goblins)

Port Factory Resmi Meluncur, Biaya Porting Game Disesuaikan Potensi Pasar

Mohamad Mamduh • 21 Oktober 2026 10:06
Ringkasnya gini..
  • Port Factory resmi diperkenalkan pada 20 Oktober 2026 dengan model porting game berdasarkan potensi pasar.
  • Empat game telah selesai dikerjakan, termasuk Tingus Goose, Bulb Boy Anthology, 1998: The Toll Keeper Story, dan Grim Trials.
  • Port Factory menyediakan layanan porting konsol, optimasi performa, integrasi SDK, pengujian, dan persiapan sertifikasi.

Jakarta: Port Factory resmi diperkenalkan pada 20 Oktober 2026 sebagai studio porting game yang mengutamakan potensi pasar dalam menentukan biaya dan strategi pengembangan. Perusahaan ini didirikan oleh empat veteran industri game yang memiliki pengalaman di Sega, Atari, Bandai Namco, dan Neon Doctrine.

Berbasis di kawasan Asia-Pasifik, Port Factory berfokus membantu pengembang dan penerbit membawa game mereka ke berbagai konsol, termasuk PlayStation, Xbox, dan Nintendo Switch. Sebelum mengumumkan kehadirannya secara resmi, studio ini telah menyelesaikan empat proyek porting yang kini sudah tersedia dan dapat dimainkan.

Pendekatan yang diusung Port Factory berangkat dari pertanyaan sederhana: mengapa game seharga USD5 harus mendapatkan penawaran biaya porting yang sama dengan game seharga USD30? Pertanyaan tersebut menjadi dasar model bisnis perusahaan dalam menyesuaikan biaya pengerjaan dengan peluang komersial setiap game.


Port Factory Utamakan Potensi Pasar

Berbeda dari pendekatan konvensional yang langsung memulai proses dengan audit teknis, Port Factory terlebih dahulu mengevaluasi karakteristik game. Beberapa aspek yang diperhitungkan meliputi target audiens, genre, harga jual, serta performa penjualan dan jangkauan pasar yang sudah dimiliki.

Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk memperkirakan peluang sebuah game di masing-masing platform konsol. Setelah itu, tim akan melakukan peninjauan teknis standar dan menyusun rencana porting yang memungkinkan game menjangkau sebanyak mungkin platform dengan biaya yang sesuai dengan potensi pasarnya.

Scott Millard, salah satu pendiri Port Factory, menjelaskan bahwa tujuan perusahaan bukan sekadar menawarkan layanan porting dengan harga tertinggi.

“Tujuannya bukan menjual porting termahal yang bisa kami tawarkan kepada pengembang. Kami ingin menemukan jalur menuju PlayStation, Xbox, dan Nintendo yang memiliki peluang realistis untuk menghasilkan keuntungan secara komersial,” ujar Millard.

Port Factory menegaskan bahwa pendekatan tersebut bukan berarti perusahaan hanya ingin bersaing sebagai penyedia jasa porting murah. Sebaliknya, setiap proyek akan direncanakan berdasarkan kondisi dan kebutuhan komersial game yang bersangkutan.

Game independen berskala kecil, misalnya, tidak seharusnya dinilai menggunakan tolok ukur yang sama dengan game premium yang telah mencatatkan ratusan ribu penjualan di PC. Begitu pula dengan game yang memiliki basis pemain kuat di satu konsol, yang mungkin membutuhkan strategi peluncuran berbeda dibandingkan game dengan peluang setara di berbagai ekosistem konsol.

Strategi yang diterapkan dapat berupa peluncuran serentak di sejumlah platform, memprioritaskan konsol tertentu terlebih dahulu, atau memperluas distribusi setelah potensi pasar terbukti. Dalam kondisi tertentu, Port Factory juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa sebuah game belum memiliki alasan komersial yang cukup kuat untuk diporting.

Artur Mikołajczyk, pendiri Bulbware sekaligus anggota tim pendiri Port Factory, menekankan pentingnya mempertimbangkan aspek bisnis sebelum memutuskan proses porting.

“Porting memang merupakan pekerjaan rekayasa teknis, tetapi keputusan untuk melakukan porting sebuah game adalah keputusan bisnis,” kata Mikołajczyk.

Ia menambahkan bahwa pengembang independen biasanya memahami ketika perhitungan biaya dan potensi pendapatan tidak lagi masuk akal. Karena itu, diskusi dengan klien perlu dimulai dari pertimbangan mengenai apa yang dapat dijalankan secara berkelanjutan bagi game maupun studio pengembangnya.


Empat Game Sudah Selesai Dikerjakan

Sebelum diperkenalkan kepada publik, Port Factory telah memulai operasionalnya pada awal 2026 dan menyelesaikan empat proyek porting. Daftar game tersebut mencakup:

  • Tingus Goose untuk PlayStation 5, Xbox, dan Nintendo Switch.

  • Bulb Boy Anthology untuk PlayStation 5 dan Xbox.

  • 1998: The Toll Keeper Story untuk PlayStation 5.

  • Grim Trials untuk Nintendo Switch.

Keempat proyek tersebut menjadi bagian dari pengujian alur kerja Port Factory sebelum perusahaan mengumumkan model bisnisnya secara resmi. Melalui pengerjaan langsung, tim dapat menguji proses produksi sekaligus menangani berbagai persoalan teknis dan persyaratan platform yang muncul selama pengembangan.

Millard mengatakan bahwa perusahaan ingin memperkenalkan diri dengan hasil kerja nyata, bukan sekadar rencana yang belum terealisasi.

Menurutnya, industri game sudah memiliki cukup banyak perusahaan yang mengumumkan rencana besar, tetapi tidak semuanya berhasil menjalankannya. Oleh sebab itu, Port Factory memilih menunggu hingga memiliki proyek yang benar-benar selesai sebelum mengumumkan kehadirannya.

Di balik operasionalnya, perusahaan ini didukung empat pendiri dari latar belakang berbeda yang tersebar di empat negara Asia-Pasifik.

Scott Millard yang berbasis di Korea Selatan merupakan pendiri penerbit independen Dark Product. Ia memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang penerbitan dan komersial, termasuk bekerja di Sega, Atari, dan Bandai Namco. Pengalamannya juga mencakup proses membawa game PC independen ke konsol.

Sementara itu, Iain Garner yang berbasis di Taiwan dan Vladislav Tsopljak yang berbasis di Singapura merupakan pendiri perusahaan layanan pengembang Goldpact Goblins serta mantan pendiri Neon Doctrine. Keduanya memiliki pengalaman dalam produksi, penerbitan, pengembangan bisnis, hingga strategi pemasaran dan peluncuran game independen.

Artur Mikołajczyk yang berbasis di Sydney, Australia, mendirikan Bulbware. Berbeda dari anggota lainnya yang memiliki pengalaman kuat dalam penerbitan dan bisnis, Mikołajczyk membawa perspektif pengembang yang terlibat langsung dalam perancangan, pembuatan, hingga peluncuran game.

Iain Garner menilai pengalaman para pendiri dari berbagai sisi industri membantu mereka memahami kebutuhan pengembang secara lebih menyeluruh.

“Seorang pengembang independen yang sukses mungkin mengetahui bahwa ada audiens yang menunggu game mereka hadir di konsol. Namun, hal itu tidak otomatis berarti proposal porting konvensional merupakan pilihan yang tepat untuk game tersebut. Model komersialnya harus sesuai dengan proyek, bukan sebaliknya,” ujar Garner.


Perluas Dukungan dari Asia-Pasifik

Port Factory membangun operasionalnya dengan jaringan di Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan Australia. Kehadiran di berbagai negara tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan mendukung pengembang lokal sekaligus menjangkau mitra internasional yang ingin membawa game mereka ke lebih banyak platform.

Vladislav Tsopljak mengatakan bahwa Asia selama ini kerap dipandang sebagai pasar yang perlu dimasuki oleh perusahaan game internasional. Namun, menurutnya, kawasan tersebut kini juga menjadi sumber pengembang, penerbit, dan peluang bisnis yang terus berkembang.

Ia menjelaskan bahwa Port Factory dibangun langsung dari kawasan Asia-Pasifik untuk mendukung pengembang lokal maupun pelaku industri internasional yang ingin memperluas jangkauan bisnisnya.

Dalam jangka panjang, Port Factory ingin membangun alur kerja porting yang dapat diterapkan secara berulang agar pengembang dan penerbit bisa menghadirkan game mereka ke lebih banyak platform dengan proses yang lebih efisien.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, perusahaan menyediakan layanan porting konsol PlayStation, Xbox, dan Nintendo, serta rekayasa perangkat lunak untuk Unity dan Unreal Engine. Dukungan untuk mesin game lainnya juga tersedia melalui mitra spesialis.

Layanan Port Factory turut mencakup optimasi performa dan penggunaan memori, integrasi SDK dan fitur platform, dukungan kontroler serta fungsi khusus konsol, pengujian kualitas dan fungsionalitas, persiapan kepatuhan dan sertifikasi, bantuan proses pengajuan game, hingga pengembangan bersama dan layanan rekayasa perangkat lunak secara umum.

Dengan kombinasi pengalaman teknis dan pendekatan komersial, Port Factory menargetkan proses porting yang tidak hanya memungkinkan sebuah game berjalan di konsol, tetapi juga mempertimbangkan kelayakan biaya serta peluang keberhasilannya di pasar.

Informasi lebih lanjut mengenai perusahaan dan layanannya dapat ditelusuri melalui kanal resmi Port Factory.

(Zalsabila Natasya)



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA