Antusiasme gamer ternyata lumayan besar, dengan terjual menembus angka lebih dari 300.000 kopi hanya dalam 72 jam pertama. Game ini juga sempat menduduki peringkat kedua dalam daftar game terlaris di Steam dengan jumlah pemain aktif bersamaan (concurrent players) mencapai puncaknya di angka 27.099 pada masa peluncuran awal. Sebagai sekuel, game ini menawarkan alternatif petualangan yang segar dan taktis di tengah maraknya dominasi game live-service modern. Berikut review Titan Quest II oleh Medcom.id.

Melawan Takdir Nemesis
Dari segi cerita, Titan Quest II mengambil pendekatan yang lebih personal dan dramatis dibandingkan game pertamanya. Jika pada game pendahulu pemain memulai perjalanan sebagai pahlawan anonim tanpa latar belakang yang jelas, kali ini kita berperan sebagai anak terpilih yang dibesarkan di bawah bayang-bayang ramalan kuno.Musuh utamanya adalah Nemesis, sang Dewi Retribusi. Nemesis dikisahkan bertindak di luar kendali dengan merusak Benang Takdir (Threads of Fate) milik para Moirai demi menghukum dewa-dewa Olimpus lainnya serta melenyapkan siapa pun yang berani menentangnya, termasuk kita. Kisah dimulai dengan hancurnya tempat latihan rahasia akibat serangan mendadak dari Nemesis, yang merenggut nyawa mentor. Dari sini, kita terpaksa melarikan diri untuk mencari kekuatan, merajut kembali benang takdir, mencari sekutu di antara dewa-dewa yang tersisa, dan menghentikan kerusakan takdir dunia.

Struktur kampanye cerita ini didesain dalam beberapa chapters linier yang kaya akan eksplorasi dunia terbuka. Pengembang membagi aktivitas petualangan ke dalam tiga kategori tugas demi memastikan kedalaman penceritaan. Selain misi utama yang akan fokus ke takdir, ada misi sampingan yang tetap menyisipkan unsur mitologi, mulai dari menyelamatkan NPC hingga melawan berbagai macam bos yang menantang. Progres pemain membawa kita melintasi lanskap Yunani Kuno yang kontras, mulai dari pesisir pantai berpasir yang indah, melewati Northern Beaches, dataran tinggi Arkadian Plains, hingga rimba belantara tak terjamah.
Soal grafis, detail visual Yunani Kuno pada Titan Quest II digambarkan dengan warna-warni yang cerah, pencahayaan dramatis, serta atmosfer mitologi yang sangat kental dan memanjakan mata. Ditambah lagi, kepuasan menjelajah sangat terasa karena game ini tidak memaksakan penanda quest otomatis di peta. Kita lebih diajak untuk menemukan berbagai hal baru secara alami. Satu hal yang menjadi kekurangannya adalah beberapa animasi yang cenderung monoton, yang bakal kita bahas lebih jauh pada bagian gameplaynya.

Gameplay Dual-Mastery
Gameplay Titan Quest II menghidupkan kembali sistem Dual-Mastery. Pemain dapat memilih satu Mastery utama di awal permainan dan nantinya menggabungkannya dengan Mastery kedua untuk menciptakan kelas hybrid yang unik. Saya mencoba menciptakan karakter dengan Earth Mastery yang memanipulasi kekuatan api dan batu.Kemudian Master kedua mengambil Forge yang terinspirasi dari dewa Hephaestus, berfokus pada kontrol taktis menggunakan perangkap mekanis, kemampuan menarik musuh, serta pemanggilan Automaton. Hasilnya adalah sebuah karakter yang bisa mengeluarkan serangan sihir api, bumi, dan di saat yang sama mampu memanggil Automaton yang dapat membantu membalikkan kondisi pertarungan.

Sistem statistik karakter dibagi menjadi empat atribut utama: Might, Agility, Knowledge, dan Vigor, yang secara langsung memengaruhi atribut sekunder seperti Fitness, Resolve, dan Cunning. Atribut ini juga menjadi prasyarat penting sebelum karakter dapat menggunakan jenis armor atau senjata tertentu. Tidak ada batasan atau keharusan dalam menentukan atribut, kita bisa saja menciptakan karakter dengan kemampuan serangan magic yang kuat, tetapi sekaligus memiliki daya tahan tinggi layaknya petarung jarak dekat.
Sebagai game Action-RPG, Titan Quest II mengajak pemain untuk melakukan grinding dalam meningkatkan level. Oleh karena itu, musuh dalam dunia permainan pada umumnya akan respawn setiap kali melanjutkan save game. Sistem looting juga dibuat tanpa henti, memberikan kesempatan pemain untuk mendapatkan item atau senjata dengan tingkat Epic yang biasanya memiliki kemampuan tambahan. Selain itu, looting juga merupakan jalan utama pemain mendapatkan uang dalam permainan.

Sayangnya, dalam pertarungan jarak dekat, tidak ada sensasi atau efek yang sangat terasa, termasuk saat melawan bos yang mampu memberikan daya serang kuat dalam satu kali pukulan. Ditambah lagi, antarmuka inventaris terasa kaku dan tidak ada perbedaan yang menonjol dari seri pertamanya.
Satu hal yang berbeda pada seri pertamanya, health dan mana potion tidak dihitung satuan. Masing-masing potion akan terisi secara otomatis pada periode atau kondisi tertentu, dan potion ini dapat diganti dengan versi lain yang kita temukan sepanjan permainan. Ditambah dengan kemampuan dodge yang memiliki batasan waktu, kita diajak untuk berpikir lebih cermat saat menghadapi bos atau musuh dalam jumlah besar.

Kesimpulan
Titan Quest II membuktikan dirinya sebagai penerus yang sangat layak. Grimlore Games berhasil mempertahankan fondasi orisinal yang dicintai penggemar sembari menyuntikkan inovasi modern seperti Forge Mastery dan eksplorasi yang handcrafted. Untungnya juga, cerita yang tersedia tidak berhubungan pada seri pertama, sehingga cocok juga untuk gamer baru yang ingin memperlajari dunia mitologi Yunani dengan cara yang seru.Meskipun ada beberapa kekurangan, rasa penasaran untuk melakukan grinding tanpa henti dan cerita yang menarik tetap menjadi dua alasan utama saya menghabiskan waktu 20 jam dengan game ini.
| PLATFORM: | PS5, PC, Xbox Series X/S |
| DEVELOPER: | Grimlore Games |
| PUBLISHER: | THQ Nordic |
| TANGGAL RILIS: | 1 Agustus 2025 |
| GENRE: | Action-RPG |
9.4
Titan Quest II
Plus
- Konsep dual-mastery kembali lagi
- Cerita tetap spesial
- Sistem eksplorasi menarik
- Pilihan quest banyak
Minus
- Antarmuka inventory yang kaku
- Serangan jarak dekat tidak punya sensasi yang sesuai
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda