Berdasarkan laporan MP1st, game Assassin's Creed terbaru ini berlatar di Jerman pada era persidangan penyihir abad ke-16. Era kelam tersebut sengaja diangkat untuk menyajikan atmosfer permainan yang jauh lebih gelap dibanding pendahulunya.
Anika Adler dan Berburu Penyihir Abad Ke-16
Sumber dalam menyebutkan alur cerita game ini berfokus pada sang protagonis bernama Anika Adler. Karakter wanita bersikap tegas tersebut digambarkan harus berjuang bertahan hidup di tengah gelombang penganiayaan brutal akibat tuduhan praktik sihir.Informasi ini terkuak dari dokumen panggilan audisi pemeran (casting call) yang berlangsung sejak 2023 hingga pertengahan tahun ini. Meski demikian, nama-nama karakter dalam berkas tersebut kemungkinan besar masih bersifat sementara (placeholder) dan berpotensi berubah saat perilisan resmi.
Berikut daftar nama karakter yang muncul dalam berkas casting:
-Annika Adler (ditulis dengan kode nama "Petra")
-Konrad dan Brigitte (orang tua Annika)
-Mother Gertrud (Pemimpin Brotherhood)
-Bruno / Anton (nama samaran untuk karakter Wolfgang)
-Anna (protagonis era modern)
-Johanna, Theo, dan Erika
Salah satu karakter penunjang yang menarik perhatian adalah Mother Gertrud. Mantan tabib desa berusia 65 tahun ini dikisahkan hidupnya hancur setelah wabah penyakit tak tersembuhkan melanda desanya. Warga desa berbalik membencinya dan menuduhnya sebagai penyihir, meski ia tidak pernah dihukum secara resmi.
Koneksi Era Modern dan Abstergo
Selain latar sejarah, dokumen casting memberikan gambaran singkat mengenai alur cerita era modern (modern day). Karakter bernama Anna digambarkan sebagai wanita karier ambisius tanpa garis keturunan Jerman. Spesifikasi ini memicu spekulasi bahwa Anna berhubungan langsung dengan organisasi Abstergo atau menjadi bagian dari sistem Animus Hub di dalam game.Meski detail mengenai daftar karakter dan garis besar cerita ini telah beredar luas, pihak Ubisoft belum memberikan konfirmasi resmi. Seluruh informasi yang beredar saat ini masih berstatus rumor hingga pengumuman lanjutan dirilis.
(Nur Aldiansyah Amirulloh)