Hal ini disampaikan oleh Hans Jargnow, Director of Clubs, National Teams & Player Relations EF, dalam wawancara bersama Medcom.id. Ia menegaskan bahwa pemilihan mitra tidak hanya mempertimbangkan popularitas, tetapi juga kekuatan ekosistem dan kesiapan jangka panjang.
PB ESI Dinilai Penuhi Banyak Aspek
Hans menjelaskan, EF memiliki sejumlah kriteria dalam menentukan mitra nasional, terutama yang berkaitan dengan kesiapan ekosistem dan dukungan terhadap pengembangan pemain.
“Kriteria utama dalam memilih mitra nasional kami mencakup posisi mereka dalam ekosistem, kemampuan operasional, kapabilitas operasional, jangkauan komunitas, keselarasan dengan kebutuhan publisher, serta rencana mereka dalam menggerakkan dukungan komunitas lokal terhadap tim nasional,” ujar Hans.
Selain itu, EF juga mempertimbangkan aspek legitimasi dan dukungan institusional di masing-masing negara.
“Kami membutuhkan mitra yang memiliki legitimasi institusional, pengakuan dari pemerintah, serta jangkauan yang kuat dalam ekosistem kompetitif di negaranya. PB ESI memiliki seluruh aspek tersebut,” lanjutnya.
Sistem Kualifikasi Dibuat Lebih Merata
Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas menjadi tantangan tersendiri dalam menjaring talenta esports. Namun, EF memastikan sistem kualifikasi dirancang agar lebih inklusif.
“Hal ini tentu menjadi tantangan bagi negara seperti Indonesia, yang terdiri dari ribuan pulau, jutaan pemain, serta tingkat infrastruktur yang beragam. Oleh karena itu, melalui program Road to EWC tahun ini, kami menggelar lebih dari 230 event kualifikasi secara global guna membuka akses partisipasi di berbagai level,” jelas Hans.
EF juga bekerja sama dengan mitra lokal agar proses kualifikasi tidak hanya terpusat di kota-kota besar.
Tantangan Menyatukan Federasi Global
Dalam skala global, menyelaraskan berbagai federasi nasional juga menjadi tantangan tersendiri. Setiap negara memiliki kondisi dan tingkat kesiapan yang berbeda.
“Tidak semua federasi berada pada titik awal yang sama. Ada yang siap bergerak cepat, sementara yang lain masih memerlukan waktu untuk membangun infrastruktur dan momentum,” kata Hans.
Meski demikian, EF berupaya membangun sistem yang tetap konsisten secara global, namun fleksibel untuk mengakomodasi perbedaan tersebut.
Keberhasilan Tak Hanya Soal Hasil Pertandingan
EF menilai keberhasilan kemitraan nasional tidak hanya diukur dari prestasi di kompetisi, tetapi juga dari dampak terhadap ekosistem esports secara keseluruhan.
“Hasil di dalam pertandingan memang penting, namun pada tahap ini, hasil bukanlah faktor utamanya. Kami melihat bagaimana kemitraan tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekosistem secara keseluruhan,” ungkapnya.
Pendekatan ini mencakup peningkatan jumlah pemain kompetitif, keterlibatan komunitas, hingga peran organisasi dalam membangun sistem nasional.
Indonesia Punya Peran Besar di Ekosistem Global
Hans menilai Indonesia sebagai salah satu pasar esports paling penting di dunia, terutama dalam sektor mobile gaming.
“Indonesia merupakan salah satu pasar esports paling signifikan di dunia, dan menurut saya masih sangat kurang terwakili dalam percakapan global. Indonesia memiliki basis pemain yang sangat besar, budaya gaming yang berfokus pada mobile yang selaras dengan arah perkembangan industri, serta talenta kelas dunia yang nyata di berbagai judul game,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan berikutnya adalah membangun struktur yang memungkinkan talenta Indonesia tampil konsisten di level internasional.
ENC Hadirkan Nuansa Kompetisi Antarnegara
Menurut Hans, Esports Nations Cup menghadirkan pendekatan berbeda dibanding turnamen esports berbasis klub karena membawa semangat kompetisi antarnegara.
“Esports Nations Cup menghadirkan dimensi baru yang tidak dapat sepenuhnya diberikan oleh kompetisi antar klub. Ketika bertanding untuk negara, tingkat kepentingannya terasa berbeda bagi semua pihak yang terlibat,” jelasnya.
Ia juga menilai format ini dapat menciptakan narasi baru dalam esports, termasuk rivalitas antarnegara dan kebanggaan nasional seperti di ajang olahraga tradisional.
Melalui kolaborasi dengan PB ESI, EF berharap Indonesia dapat terus berkembang sebagai salah satu kekuatan utama esports dunia. Dengan pendekatan berbasis negara seperti ENC, ekosistem esports global diharapkan menjadi lebih inklusif, kompetitif, dan berkelanjutan.
(Sheva Asyraful Fali)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News