Tim Wolves merayakan gelar juara Call of Duty Mobile 2025 usai kembali menaklukkan Q9 di partai final. (Foto: wolves.co)
Tim Wolves merayakan gelar juara Call of Duty Mobile 2025 usai kembali menaklukkan Q9 di partai final. (Foto: wolves.co)

Kontras Wolves: Tim Sepak Bola Degradasi, Divisi Esports Tembus Final Dunia

Mohamad Mamduh • 23 April 2026 20:48
Ringkasnya gini..
  • Wolverhampton Wanderers resmi terdegradasi dari kasta tertinggi Liga Inggris setelah performa tim terus merosot sepanjang musim.
  • Suporter menuding pemilik klub, Fosun Group, terlalu berfokus pada pengembangan divisi esports di China hingga menelantarkan kebutuhan teknis tim sepak bola.
  • Meski divisi esports meraih prestasi global dan memecahkan rekor dunia, krisis di Molineux Stadium memicu protes keras hingga berujung pada pergantian pucuk pimpinan manajemen.
Jakarta: Wolverhampton Wanderers harus menelan pil pahit setelah dipastikan terlempar dari persaingan Premier League musim ini. Kemerosotan klub berjuluk Wolves tersebut memicu kemarahan suporter yang menilai pemilik klub, Fosun Group, lebih memprioritaskan ekspansi bisnis esports dibandingkan prestasi di atas lapangan hijau.
 
Gelombang protes suporter terus mengalir di sekitar Molineux Stadium. Para pendukung merasa dijadikan "sapi perah" oleh manajemen setelah adanya kenaikan harga tiket kandang, sementara fasilitas stadion dinilai minim perbaikan. Kondisi tim yang tidak kompetitif hingga akhirnya terdegradasi menjadi puncak frustrasi fans terhadap Fosun Group.
 
Mantan Presiden Komisaris Wolves, Jeff Shi, menjadi sasaran kritik utama. Berdasarkan laporan The Athletic, Shi menganggap sektor esports jauh lebih menguntungkan secara bisnis bagi Fosun dibandingkan dengan industri sepak bola. Tekanan masif dari suporter akhirnya memaksa Jeff Shi menanggalkan jabatannya pada Desember lalu, yang kemudian digantikan oleh Nathan Shi.
 

Kontradiksi Prestasi di Dunia Esports

Di saat tim sepak bola terpuruk, divisi Wolves Esports justru menunjukkan taringnya di kancah global, terutama di pasar China. Salah satu pencapaian paling mencolok adalah keberhasilan tim Honor of Kings Wolves menembus Grand Final King Pro League 2025.

Laga final tersebut mencatatkan rekor dunia Guinness setelah dipadati 62.000 penonton di Stadion Bird’s Nest, Beijing. Tiket pertandingan pun ludes hanya dalam 12 detik. Kontrasnya prestasi antara karakter virtual dan hasil pertandingan di lapangan nyata membuat suporter merasa identitas emosional klub telah bergeser menjadi sekadar investasi cerdas namun dingin.
 

Visi Bisnis di Tengah Krisis Identitas

CEO baru Wolves, Nathan Shi, menegaskan bahwa operasional esports berjalan sebagai entitas terpisah dan tidak menggunakan sumber daya teknis tim sepak bola. Namun, publik tetap melihat adanya paralel dengan kasus Schalke 04 di Jerman, yang menjual slot tim esports mereka senilai 26,5 juta euro untuk menyelamatkan finansial klub pasca-degradasi.
 
Dikutip melalui The Observer, nilai pasar Esports yang diprediksi mencapai USD7,5 miliar (sekitar Rp130 triliun) pada 2030 adalah peluang yang terlalu besar untuk dilewatkan. Namun, bagi para loyalis Wolves, kemenangan di dunia digital tetap tidak mampu menggantikan euforia gol di menit akhir pertandingan sepak bola yang nyata.
 
(Ahmad Raul)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA