Jakarta: Bigetron by Vitality berhasil keluar sebagai juara FFWS SEA 2026 Fall setelah melewati Grand Finals yang penuh tekanan. Gelar tersebut ditentukan melalui Game 12 dengan format Champion Rush, ketika 11 tim masih memiliki peluang untuk mengamankan Booyah sekaligus menjadi juara Asia Tenggara.

Sumber: Media Garena ID
Di balik kemenangan tersebut, ada sejumlah keputusan penting yang diambil pelatih Christian Jonathan Pascoal atau Chrisjo. Mulai dari perubahan roster, pergantian pemain di pertandingan terakhir, hingga instruksi untuk mengubah cara bermain menjadi lebih berani, seluruh keputusan itu menjadi bagian dari perjalanan Bigetron menuju gelar juara.
Keputusan Chrisjo di Balik Game 12 Bigetron
Perjalanan Bigetron menuju Game 12 tidak berjalan mudah. Tim harus tampil tanpa Headstart Point setelah mendapatkan pengurangan 10 poin pada Point Rush Stage dan pemotongan lima persen hadiah akibat pelanggaran terkait pemanfaatan bug.
Situasi tersebut sempat memengaruhi kondisi emosional tim. Chrisjo mengakui bahwa Bigetron tidak sepenuhnya menerima keputusan tersebut karena mereka juga merasa menemukan indikasi bug dalam situasi lain yang kemudian dilaporkan, tetapi laporan tersebut tidak disetujui.
"Kami tidak bisa terus membawa kemarahan itu ke pertandingan. Pada akhirnya, kami tetap harus bermain dengan kondisi yang ada. Perasaan tidak setuju itu tetap ada, tetapi kami harus mengubahnya menjadi energi untuk membuktikan diri di dalam game," ujar Chrisjo.
Tekanan semakin terasa setelah Bigetron mencoba mengubah susunan pemain pada Game 11. Tiuszz diturunkan untuk menggantikan Kyongg karena Chrisjo membutuhkan pemain yang bisa bermain lebih dekat dengan Fellow.
Dari hasil latihan, Tiuszz dinilai memiliki kemampuan untuk menjalankan peran tersebut. Keduanya juga sudah mempunyai chemistry sejak bermain bersama di Academy. Namun, strategi tersebut belum menghasilkan performa yang diharapkan karena Bigetron harus tereliminasi lebih awal.
Setelah melakukan evaluasi di belakang panggung, Chrisjo kembali menurunkan Kyongg pada Game 12. Menurutnya, setelah melihat pertandingan dari luar, Kyongg kembali dengan pemahaman yang lebih jelas mengenai tugasnya.
Perubahan tersebut kemudian dilengkapi dengan instruksi yang berbeda. Chrisjo melihat permainan Bigetron sebelumnya terlalu lambat karena terlalu banyak mempertimbangkan zona dan rotasi.
"Pesanku sebelum Game 12 bukan soal map, bukan soal bagaimana melakukan rotasi, dan bukan soal bagaimana masuk ke zona. Aku meminta mereka meningkatkan insting mencari eliminasi," kata Chrisjo.
Bigetron pun diminta lebih berani mengambil pertarungan ketika melihat peluang. Chrisjo menekankan bahwa keberanian tersebut bukan berarti bermain agresif tanpa perhitungan, melainkan tidak terlalu lama ragu ketika kesempatan untuk menyerang sudah tersedia.
"Yang paling penting adalah keberanian mengambil keputusan. Berani bergerak berbeda dengan berani melakukan rotasi tanpa tujuan. Yang aku maksud adalah berani ketika ada kesempatan mengambil fight," ujarnya.
Instruksi tersebut terlihat pada fase akhir Game 12. Dari empat tim yang masih bertahan, Bigetron menjadi salah satu tim yang paling aktif bergerak dan memberikan tekanan. Mereka terus memanfaatkan Gloo Wall serta mencari celah untuk mendekati lawan.
Komunikasi pemain juga dibuat lebih sederhana agar keputusan dapat diambil dengan cepat. Menurut Chrisjo, para pemain tidak lagi terlalu lama mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan langsung merespons situasi yang ada.
Hasilnya, Bigetron mampu melewati RRQ Kazu, GOW, hingga AG.AL International sebelum mengamankan Booyah yang memastikan gelar FFWS SEA 2026 Fall.
Cara Chrisjo Merakit Bigetron dari Perbedaan
Keputusan pada Game 12 sebenarnya merupakan bagian dari proses panjang Chrisjo dalam membangun roster Bigetron. Sejak bergabung pada Agustus 2023, ia telah melewati fase sulit bersama tim, termasuk ketika Bigetron harus turun ke jalur bawah setelah finis di posisi ke-12 FFWS ID Spring 2024.
Bigetron kemudian bangkit melalui turnamen komunitas, FFNS, hingga akhirnya kembali ke panggung FFWS SEA. Pengalaman tersebut membuat Surabaya memiliki arti khusus bagi Chrisjo karena tim sebelumnya juga pernah gagal ketika tampil di kota tersebut.
"Surabaya juga selalu ada dalam pikiran saya sebagai sebuah redemption. Kami pernah gagal di sini. Saat mendapatkan kesempatan kedua, kami tidak mau gagal lagi," tuturnya.
Untuk membentuk roster yang mampu bersaing memperebutkan gelar, Chrisjo juga harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Ia mengaku keputusan melepas beberapa pemain sebelumnya merupakan keputusan yang datang langsung darinya.
Menurut Chrisjo, roster lama sebenarnya masih mempunyai kemampuan untuk lolos ke Grand Finals dan turnamen global. Namun, ia merasa Bigetron membutuhkan komposisi pemain dengan kemampuan berbeda jika ingin mengejar gelar juara.
"Saya membutuhkan pemain yang bisa membantu tim ini menjadi juara. Saya sudah mencoba mengidentifikasi apa yang kami butuhkan. Dari sana, perombakan dilakukan," jelasnya.
Salah satu perubahan tersebut terlihat dari kehadiran Fellow. Chrisjo mencari pemain yang mampu mengambil ruang dan mempercepat keputusan ketika berada di garis depan.
Ia menilai permainan yang terlalu lama mempertimbangkan berbagai skenario dapat memberikan kesempatan bagi lawan untuk lebih dulu mengunci pergerakan Bigetron. Karena itu, Fellow mendapatkan arahan untuk tidak terlalu lama berpikir ketika melihat peluang di depan.
"‘Tidak usah terlalu lama berpikir. Apa yang terlihat di depan, tabrak dan tembak.’ Kami membutuhkan pemain yang bisa mempercepat keputusan," kata Chrisjo.
Pendekatan Chrisjo terhadap pergantian pemain juga dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya yang dekat dengan olahraga. Ayahnya merupakan mantan atlet sekaligus pelatih voli, sedangkan anggota keluarganya yang lain juga memiliki pengalaman di olahraga seperti badminton dan basket.
Dari voli, Chrisjo belajar bahwa setiap pemain memiliki fungsi berbeda. Pergantian pemain tidak selalu berarti pemain sebelumnya tampil buruk, melainkan bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dalam pertandingan.
"Saya cukup sering memainkan pemain cadangan dan mengubah susunan tim karena melihat prinsip rotasi dalam voli. Ada pemain yang dibutuhkan untuk bertahan, ada yang masuk untuk menyerang, dan ada yang dibutuhkan dalam kondisi tertentu," ujarnya.
Prinsip tersebut juga terlihat dari hubungannya dengan kapten Bigetron, Kojaa. Keduanya tidak selalu memiliki pandangan strategi yang sama. Chrisjo mengakui perbedaan pendapat di antara mereka cukup sering terjadi.
Meski demikian, keduanya tetap berusaha mencapai keputusan bersama sebelum pertandingan. Ketika diskusi mulai memanas, mereka memilih berhenti sejenak dan kembali berbicara setelah suasana lebih tenang.
Menurut Chrisjo, struktur tanggung jawab yang jelas juga penting dalam menentukan keputusan akhir. Ketika waktunya pelatih mengambil alih, keputusan harus segera dibuat agar pemain tidak terus berada dalam keraguan.
"Pada titik tertentu saya harus mengatakan, ‘Sudah, mainkan ini.’ Setelah keputusan dibuat, kami tidak boleh terus ragu," ujar Chrisjo.
Bagi Chrisjo, keberhasilan Bigetron tidak hanya berasal dari strategi dalam pertandingan. Ia juga menekankan pentingnya fleksibilitas pemain, komunikasi, kedisiplinan, serta kemampuan setiap anggota tim untuk memahami peran masing-masing.
Setelah menjadi juara Asia Tenggara, Chrisjo menegaskan bahwa pekerjaan Bigetron belum selesai. Tim masih harus mempersiapkan diri menghadapi turnamen global dengan roster yang ada, sementara evaluasi terhadap pemain dan perkembangan Academy tetap berjalan.
Pada akhirnya, gelar FFWS SEA 2026 Fall menjadi hasil dari rangkaian keputusan yang dibangun jauh sebelum Game 12. Dari perubahan roster, eksperimen pergantian pemain, perdebatan strategi, hingga instruksi untuk lebih berani mengambil fight, seluruhnya menjadi bagian dari cara Chrisjo membentuk Bigetron menjadi tim yang mampu beradaptasi dalam situasi sulit.
(Zalsabila Natasya)