Ayam ingkung merupakan kuliner sakral, umumnya disajikan pada prosesi tertentu sebagai uba rampe (perlengkapan), seperti acara wiwita Dusun Cancangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Arthurio Oktavianus)
Ayam ingkung merupakan kuliner sakral, umumnya disajikan pada prosesi tertentu sebagai uba rampe (perlengkapan), seperti acara wiwita Dusun Cancangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Arthurio Oktavianus)

Ayam Ingkung, Kuliner Sakral Tradisi Jawa

Rona kuliner yogyakarta
Arthurio Oktavianus Arthadiputra • 13 Juli 2020 15:00
Yogyakarta: Ayam kampung yang sudah dipotong, dibentuk dengan sayap diikat di atas kepala seperti telapak tangan yang bertemu saat berdoa dan kaki yang ditekuk terikat seperti saat bersimpuh. Dimasak dengan bumbu-bumbu, menjadi ayam ingkung, yang disajikan saat prosesi tertentu.
 
Adalah Mbah Suratinah, warga Dusun Cancangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, yang bertugas memasak ayam ingkung untuk prosesi wiwitan (memotong padi sebelum panen dilakukan petani).
 
Tangannya yang termakan usia, dengan cekatan memasak ayam ingkung di dapur dengan tungku kayu. Mulai dari mengupas bumbu, menumbuk hingga halus dan merebus ayam kampung dalam rebusan bumbu mendidih.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tak sebentar, proses memasak ayam ingkung cukup memakan banyak waktu. Kesabaran dan teliti menjadi syarat utama agar ayam ingkung yang dimasak bisa menyerap semua bumbu yang direbus.

Sakral

Ayam ingkung merupakan kuliner tradisional khas Jawa berbahan dasar ayam kampung yang dimasak secara utuh. Kuliner ini termasuk sakral, umumnya disajikan pada prosesi tertentu seperti upacara keagamaan, wujud rasa syukur (selamatan), peringatan hari besar dan kematian dalam tradisi Jawa.
 
Menurut Dewi (2011) dalam Jurnal Masyarakat Pernaskahan Nusantara, Kearifan Lokal “Makanan Tradisional” : Rekonstruksi Naskah Jawa dan Fungsinya dalam Masyarakat, istilah ayam ingkung disebutkan dalam karya sastra lama, Serat Centhini II.
 
Ayam Ingkung, Kuliner Sakral Tradisi Jawa
(Ayam ingkung yang dimasak berbentuk kaki bersimpuh dan tangan yang bersujud menggambarkan berserah diri kepada Tuhan dan memohon ampunan. Foto: Arthurio Oktavianus)
 
Dalam sastra tersebut dibahas mengenai iwak phitik (daging ayam) yang diolah menjadi opor, ingkung dan sebagainya. Termasuk dijadikan sebagai uba rampe (perlengkapan) sesaji dalam prosesi adat di tanah Jawa.
 
Taylor (2003) dalam Jati (2014), Nutrition and Food Science: Local wisdom behind Tumpeng as an icon of Indonesia, ayam ingkung diprediksi sudah ada sejak kerajaan Jawa dipengaruhi oleh agama Hindu. Hingga saat ini, ayam ingkung menjadi syarat utama dalam prosesi sakral di kehidupan masyarakat Jawa. 

Filosofi 

Sebagai syarat utama dalam prosesi adat Jawa, ayam ingkung mengandung nilai filosofis yang sangat mendalam. Suwardi dalam jurnal Sinkretisme dan Simbolisme Tradisi Selamatan Kematian di Desa Purwosari, Kulon Progo, ingkung berasal dari kata ingsun (aku) dan manekung (berdoa penuh khidmat).
 
Wujud ayam ingkung dibentuk dengan kaki bersimpuh dan tangan yang bersujud menggambarkan berserah diri kepada Tuhan dan memohon ampunan.
 
Menurut Yanto (2015), Simbol-simbol Lingual dalam Tutran “Ujub Genduren” Siklus Hidup Masyarakat Seneporejo, kepala ayam ingkung yang menoleh ke belakang adalah simbol manusia selalu ingat akan apa yang sudah dijalani untuk bersyukur terhadap apa yang telah dimiliki. 
 
Shelia Windya Sari dalam jurnal Pergeseran Nilai-nilai Religius Kenduri Dalam Tradisi Jawa oleh Masyarakat Perkotaan, ayam ingkung dimaknai agar manusia bisa berperilaku seperti ayam. 
 
Seekor ayam jika diberi makan tidaklah langsung dimakan. Namun, dipilih dahulu yang baik dan buruk. Dengan demikian, manusia diharapkan mampu memilah mana hal baik yang harus dilakukan dan mana hal buruk yang harus di tinggalkan. 
 

(TIN)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif