Pemandangan hijau berupa persawahan penduduk dan pepohonan yang bisa dilihat saat mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran di Desa Ngelanggeran, Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto: Arthurio Oktavianus)
Pemandangan hijau berupa persawahan penduduk dan pepohonan yang bisa dilihat saat mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran di Desa Ngelanggeran, Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto: Arthurio Oktavianus)

Mendaki Ngelanggeran, Gunung Api Purba Jutaan Tahun

Rona wisata yogyakarta Didi Kempot Ngelanggeran
Arthurio Oktavianus Arthadiputra • 03 Juni 2020 22:20
Yogyakarta: Setelah tertidur beberapa waktu, geliat pariwisata akan memulai babak “new normal” yang pastinya akan membuka lembaran baru pelaku pariwisata Indonesia, tak terkecuali di Yogyakarta. Satu destinasi wisata yang patut untuk dikunjungi para traveller kala new normal di kota pelajar ini adalah gunung api purba Nglanggeran.
 
Lokasi Gunung Nglanggeran berada di Desa Ngelanggeran, Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta. Jarak dari Kota Yogyakarta sekitar 27 kilometer, dengan waktu tempuh menggunakan kendaraan bermotor sekitar satu jam perjalanan.
 
Merupakan sisa gunung api jutaan tahun lalu, Gunung Nglanggeran memberikan pemandangan alam yang mempesona. Bongkahan batu besar dan lapisan sedimen penyusun tanah masih bisa dilihat sepanjang perjalanan mendaki puncak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam data penelitian, Gunung Nglanggeran merupakan gunung api dasar laut yang muncul ke permukaan daratan sekitar 70 juta tahun lalu, yang meletus dan kini menyisakan ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut. 
 
Mendaki Ngelanggeran, Gunung Api Purba Jutaan Tahun
(Song Gudel yang akan ditemukan pendaki berupa , lorong beratap bongkahan batu besar. Foto: Arthurio Oktavianus)

Trekking 

Selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi covid-19, wisata gunung api purba Nglanggeran ditutup total oleh pengelola. Namun, masih bisa dijelajahi melalui paket wisata digital, melalui Virtual Tour Desa Wisata Nglanggeran. 
 
Satu aktivitas yang ditampilkan dalam paket wisata digital adalah melakukan trekking Gunung Nglanggeran. Jalur trekking ini kemungkinan akan kembali dibuka dengan penerapan new normal atau saat kenormalan baru, agar lebih aman untuk Anda dan desa wisata.
 
Trekking ke Gunung Nglanggeran membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam, dengan melintasi beberapa jalur menanjak. Sehingga, kondisi prima Anda saat mendaki menjadi keharusan utama. 
 
Awal tanjakan setelah melewati pendopo Joglo Kalisongo, Anda akan melewati Song Gudel, lorong beratap bongkahan batu besar. Selanjutnya akan melewati Lorong Sumpitan yang sempit, hanya cukup untuk dilalui satu orang. Ada dua lorong sumpitan yang harus dilewati Anda dengan hati-hati.
 
Titik apik berikutnya adalah Gunung Bagong, berupa tanah lapang yang bisa melihat gugusan batuan cadas dan tumbuhan hijau. Titik ini bisa menjadi lokasi untuk rehat sejenak, sebelum menuntaskan setengah perjalanan lagi menuju puncak.
 
Perjalanan akhir pendakian adalah Gunung Gedhe, puncak yang menjadi titik tertinggi gunung api purba, yang bisa melihat panorama alam nan hijau dari ketinggian. Selain trekking, Anda juga bisa melakukan outbond, piknik, panjat tebing dan berkemah.
 
Mendaki Ngelanggeran, Gunung Api Purba Jutaan Tahun
(Lorong Sumpitan yang harus dilewati pendaki secara hati-hati karena sempit dan hanya cukup untuk satu orang. Foto: Arthurio Oktavianus)

Nglanggeran sebuah legenda

Menurut cerita masyarakat setempat, nama Nglanggeran berasal dari kata nglanggar, yang dalam Bahasa Jawa berarti melanggar. Legenda berkembang, Gunung Nglanggeran merupakan tempat menghukum warga desa yang ceroboh telah merusak wayang.
 
Warga percaya, Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyai Ongko Wijoyo dan tokoh pewayangan Punokawan. Bahkan, pernah ditemukan arca mirip Ken Dedes di antara bebatuan andesit yang terbentuk dari aktivitas gunung api purba.
 
Selain legenda, pesona Gunung Nglanggeran juga menjadi lirik lagu buah karya The Godfather of Broken Heart, Didi Kempot. Sepenggal lirik “Banyu Langit” bagian akhir chorus, tersemat Gunung Nglanggeran dalam lagunya.
 
Lirik yang berbunyi “Ademe gunung merapi purbo, melu krungu swaramu ngomongke opo. Ademe gunung merapi purbo, sing ning Nglanggeran, Wonosari, Yogyakarta.” 
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif