Terdapat 10 wilayah yang memiliki jumlah kematian tertinggi akibat DBD, berdasarkan laporan yang diterima Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. (Ilustrasi/antara/Enis E)
Terdapat 10 wilayah yang memiliki jumlah kematian tertinggi akibat DBD, berdasarkan laporan yang diterima Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. (Ilustrasi/antara/Enis E)

Kematian Akibat DBD Mencapai 459 Kasus

Rona demam berdarah
Sunnaholomi Halakrispen • 11 Juli 2020 10:03
Jakarta: Pandemi covid-19 (new coronavirus) masih terjadi, namun kasus akibat demam berdarah dengue (DBD) juga harus diperhatikan. Sebab, kasus kematian akibat DBD mencapai 459 per 8 Juli 2020.
 
Terdapat 10 wilayah yang memiliki jumlah kematian tertinggi akibat DBD, berdasarkan laporan yang diterima Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Provinsi Jawa Barat menjadi urutan pertama, dengan angka kematian sebanyak 92 orang. 
 
Kemudian, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 56 kasus kematian, Jatim 53, Jateng 42, Lampung 22, Sulawesi Selatan 19, Riau 19, Bali 18, Banten 16, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebanyak 13 kasus meninggal dunia akibat DBD.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apabila jumlah tersebut dibandingkan dengan angka kematian pada tiga tahun terakhir, tahun ini lebih tinggi dibandingkan kasus kematian Bulan Januari-Juli 2017 dan 2018. Pada tahun 2017, angkanya hanya mencapai 243 dan sebanyak 158 kasus kematian akibat DBD di tahun 2018.
 
Sedangkan, jika dibandingkan dengan periode Januari-Juli 2019, angka kasus kematian tahun ini lebih rendah. Sebab, pada tahun 2019 terdapat 751 orang meninggal dunia akibat DBD.
 
"Angka kematian di 2017 kasus kematian lebih tinggi daripada 2018, kalau angka kesakitan 2017 jauh lebih rendah dibanding 2019. Angka kematian 2019 masih tinggi dibanding 2020," ujar Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid dalam webinar Kewaspadaan Menghadapi Flu Babi.
 
Ia menjelaskan, biasanya di bulan Juli tidak ditemukan kasus baru, tetapi pihaknya masih mendapatkan laporan kasus DBD di beberapa daerah. Hal tersebut pun menjadi gambaran bahwa perlu kewaspadaan terhadap DBD, khususnya karena tahun ini bersamaan dengan munculnya kasus covid-19.
 
"Kalau kita lihat 2020 ini Provinsi Jawa Barat, Bali, dan Jawa Timur, yang kita ketahui Jawa Timur permasalahan covid-19 besar, sehingga kewaspadaan kita bersama supaya fasyankes tidak dapat double burden akibat covid-19 dan demam berdarah," tuturnya.
 
"Prinsipnya kita sosialisasikan setiap orang jadi Jumantik (Juru Pemantu Jentik) di rumah masing-masing, dan memastikan rumah kita tidak ada sarang nyamuk," pungkas dr. Nadia.
 

 
(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif