Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, mengatakan orang yang tidak siap menghadapi kenormalan baru cenderung memiliki sejumlah kondisi psikologi. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, mengatakan orang yang tidak siap menghadapi kenormalan baru cenderung memiliki sejumlah kondisi psikologi. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Apa yang Terjadi Jika Tidak Siap dengan Kenormalan Baru?

Rona psikologi kesehatan mental New Normal Kenormalan Baru
Sunnaholomi Halakrispen • 03 Juni 2020 07:00
Jakarta: Kenormalan baru (new normal) atau menerima kondisi wabah covid-19 sembari tetap menjalankan aktivitas di luar rumah dengan syarat, akan diterapkan di Indonesia. Namun, apa yang terjadi jika tidak siap dengan penerapan tersebut?
 
Menurut Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Jovita Maria Ferliana, M.Psi, Psikolog, orang yang tidak siap menghadapi kenormalan baru cenderung memiliki sejumlah kondisi psikologi. Di antaranya, adanya gangguan kepribadian atau kecemasan, borderline personality, maupun bipolar personality.
 
"Kalau enggak siap, tipe orang kan berbeda-beda. Ada yang enggak siap lalu cemas. Cemas ini ada yang justru dia terpuruk atau justru agresif. Ada serangan agresi ke luar maupun ke dalam dirinya sendiri," ujar Jovita kepada Medcom.id.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia memaparkan bahwa serangan agresi ke luar ialah ketika terjadi penjarahan. Selain itu, agresi massal atau bisa juga melontarkan kalimat menyindir baik dengan sarkasme maupun secara langsung dengan kasar. Kalimat kebencian itu kerap kali disampaikan di sosial media, yang ditujukan ke pemerintah atau pihak tertentu.
 
"Bahkan bisa ngajak massa untuk meramaikan atau ikut mendorong dia berbuat hal-hal sarkasme itu. Sebetulnya orang-orang ini adalah orang yang tidak percaya pada keputusan pemerintah. Mereka enggak percaya bisa jadi karena dia orang yang melihat data, misalnya 'katanya bisa tapi kok sekarang angka pasien covid-19 semakin tinggi'," imbuhnya.
 
Apa yang Terjadi Jika Tidak Siap dengan Kenormalan Baru?
(Orang-orang yang tidak siap dengan kenormalan baru atau new normal akan merugikan diri sendiri ataupun lingkungan sekitar mereka. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
 
Dengan kata lain, mereka adalah orang yang selalu merujuk pada data namun tidak sesuai dengan kenyataan.
 
Bisa juga karena mereka terhasut oleh orang lain di sekitarnya. Penyebab lainnya, mereka termasuk orang yang sangat parno, jadi serangannya agresi di media sosial ke pemerintah maupun tenaga kesehatan.
 
"Ada juga serangan agresi ke dirinya sendiri. Contohnya, kasus kekerasan di rumah tangga karena dia takut atau cemas tapi dilampiaskan ke istri atau anak. Kalau kita lihat angka kekerasan di rumah tangga itu meningkat pada saat tiga bulan ini," paparnya.
 
Kemudian, berpengaruh pasa angka perceraian. Meskipun belum sampai pada tahap kasus perceraian, akan tetapi kasus pengajuan perceraian menjadi tinggi. 
 
Adanya juga orang yang depresi dan mengalami gangguan yang dirasakan dalam dirinya. Selain itu, beberapa orang menyakiti dirinya atau bahkan sampai ingin mengakhiri hidupnya. 
 
Orang dengan tipe tersebut berpikir akan sia-sia melakukan upaya apapun, tentang percuma hidup karena pasti akan terkena covid-19 juga. Mereka tidak siap menghadapi kenormalan baru. 
 
"Kalau enggak siap secara daily life, itu dia akan tidak mencapai suatu kemajuan. Karena harusnya punya usaha baru tapi dia tetap enggak mau bergerak ke arah itu, sehingga secara finansial dia enggak akan terjamin," imbuhnya.
 
Kemudian, juga menjadi orang yang diam di tempat dan tidak mau bergerak ke depan. Istilahnya, kata Jovita, orang-orang yang tidak siap ini akan merugikan diri sendiri ataupun lingkungan sekitar mereka.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif