Konferensi pers Diseminasi Praktik Baik Program Integrasi Zat Gizi Mikro di Provinsi Jawa Timur dan NTT. (Foto: Krispen/Medcom.id)
Konferensi pers Diseminasi Praktik Baik Program Integrasi Zat Gizi Mikro di Provinsi Jawa Timur dan NTT. (Foto: Krispen/Medcom.id)

Strategi Kemenkes Tekan Angka Stunting di Jawa Timur dan NTT

Rona stunting kemenkes
Sunnaholomi Halakrispen • 14 Januari 2020 15:26
Jakarta: Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih dihadapi di Indonesia. Kementerian Kesehatan mengaku masih melakukan upaya penurunan stunting, di antaranya 20 kabupaten di Jawa Timur dan Nusa Tenggata Barat (NTT).
 
Setidaknya, sekitar 211 ribu ibu hamil mendapatkan suplemen Tablet Tambah Darah (TTD) yang mengandung zat besi dan asam folat. Dokter Kirana Pritasari selaku Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa, pemerintah melalui Kemenkes dalam hal ini bekerja sama dengan Nutrition International.
 
"Proyek ini (Micronutrient Supplementation for Reducing Mortality and Morbidity atau MITRA) sudah berlangsung sejak 2015, sudah dilakukan evaluasi dan forum yang dimulai adalah diseminasi," ujar dr. Kirana Pritasari, MQIH, di Ruang Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia memaparkan bahwa program tersebut sangat penting bagi Indonesia, karena berkaitan dengan program prioritas yakni penanganan kasus stunting. Program MITRA didukung oleh Nutrition International yang pendanaannya dari pemerintah Australia melalui Departemen Luar Negeri dan Perdagangan/DFAT dan Kanada.
 
"Selain 20 kabupaten di Jatim dan NTT juga mengundang 34 provinsi yang lain, sehingga diharapkan inovasi yang dilakukan oleh 20 kabupaten ini bisa dipelajari oleh provinsi yang lain dan mereka adopsi walaupun ada kemungkinan mereka harus menyesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing," paparnya.
 
Program zat gizi mikro terintegrasi tersebut diterapkan dalam meningkatkan akses ke layanan kesehatan bagi ibu hamil. Selain itu, membangun kesadaran tentang pencegahan stunting, khususnya pencegahan kekurangan gizi mikro melalui strategi intervensi perubahan perilaku.
 
"Kita pahami bersama upaya penguatan zat gizi mikro merupakan bagian dari kegiatan spesifik untuk menurunkan stunting. Kami ingin mendiskusikan cara meningkatkan kegiatan inovatif ini ke kabupaten lain, terutama untuk kabupaten dengan prevalensi stunting yang tinggi," tutur dr. Kirana.
 
Sementara itu, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, ditunjukkan bahwa prevalensi balita underweight sebesar 17,7 persen. Stunting sejumlah 30,8 persen, Wasting sebanyak 10,2 persen, dan obesitas pada balita sejumlah 8 persen.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif