Penularan melalui udara merupakan faktor penting dalam pandemi ini, terutama di ruang ramai dengan ventilasi yang buruk. (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)
Penularan melalui udara merupakan faktor penting dalam pandemi ini, terutama di ruang ramai dengan ventilasi yang buruk. (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)

239 Ahli Mengklaim Covid-19 Ditularkan melalui Udara

Rona covid-19
Sunnaholomi Halakrispen • 08 Juli 2020 13:56
Jakarta: Kasus penularan covid-19 (new coronavirus) semakin banyak, bahkan ditemukan korban di seluruh dunia, baik di restoran, kantor, pasar, dan mal. Sehingga, menguatkan apa yang telah dikatakan banyak ilmuwan, yakni virus itu tetap hidup di udara dalam ruangan (airborne).
 
Jika penularan melalui udara merupakan faktor penting dalam pandemi ini, terutama di ruang ramai dengan ventilasi yang buruk, konsekuensi untuk penahanan akan menjadi signifikan. Masker mungkin diperlukan di dalam ruangan, bahkan dalam pengaturan jarak sosial.
 
Dikutip dari Forbes India, petugas kesehatan mungkin membutuhkan masker N95 yang menyaring, bahkan untuk menghindari tetesan pernapasan terkecil saat mereka merawat pasien covid-19. Sistem ventilasi di sekolah, panti jompo, tempat tinggal, dan sektor bisnis, mungkin perlu meminimalkan sirkulasi udara dan menambahkan filter baru yang kuat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) telah lama berpendapat bahwa coronavirus menular melalui tetesan pernapasan besar (droplet), yang dikeluarkan oleh orang yang terinfeksi batuk dan bersin, kemudian jatuh dengan cepat ke lantai. Namun dalam surat terbuka kepada WHO, 239 ilmuwan di 32 negara telah menguraikan bukti yang menunjukkan bahwa, partikel yang lebih kecil dapat menginfeksi manusia.
 
Para peneliti pun berencana untuk menerbitkan surat mereka dalam jurnal ilmiah. Bahkan dalam pembaruan teranyar pada coronavirus, yang dirilis 29 Juni 2020, di mana WHO mengatakan penularan virus melalui udara hanya dimungkinkan setelah prosedur medis yang menghasilkan aerosol, atau tetesan yang lebih kecil dari 5 mikron. (Satu mikron sama dengan 1 juta meter.)
 
Menurut WHO, ventilasi yang tepat dan masker N95 hanya menjadi perhatian dalam kondisi tersebut. Sebaliknya, pedoman pengendalian infeksi, sebelum dan selama pandemi ini, telah banyak mempromosikan pentingnya mencuci tangan sebagai strategi pencegahan utama. Meskipun ada bukti terbatas untuk penularan virus dari permukaan.
 
Pimpinan Teknis Pengendalian Infeksi WHO, Dr. Benedetta Allegranzi, mengatakan bukti bahwa virus yang menyebar melalui udara tidak meyakinkan. Terutama dalam beberapa bulan terakhir.
 
"Kami telah menyatakan beberapa kali bahwa kami menganggap transmisi udara mungkin, tetapi tentu saja tidak didukung oleh bukti yang kuat atau bahkan jelas," ujarnya.
 
Tetapi, wawancara dengan hampir 20 ilmuwan, termasuk belasan konsultan WHO dan beberapa anggota komite, menyusun panduan yang tidak sesuai dengan sains. Tidak jelas tentang apakah virus dibawa tinggi-tinggi oleh tetesan besar melalui udara setelah bersin, atau oleh embusan tetesan yang jauh lebih kecil yang dapat meluncur ke udara.
 
Untuk itu para ahli menegaskan, virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit covid-19 ini ditularkan melalui udara dan dapat menginfeksi orang ketika dihirup.
 
"Saya benar-benar frustrasi tentang masalah aliran udara dan ukuran partikel, tentu saja," tutur Mary-Louise McLaws, Anggota Komite dan Ahli Epidemiologi di Universitas New South Wales di Sydney.
 
"Jika kita mulai meninjau kembali aliran udara, kita harus siap untuk mengubah banyak hal yang kita lakukan. Saya pikir itu ide yang bagus, ide yang sangat bagus, tetapi itu akan menyebabkan getaran besar melalui masyarakat pengontrol infeksi," tambahnya.
 
Pada awal April 2020, sekelompok 36 pakar tentang kualitas udara dan aerosol mendesak WHO untuk mempertimbangkan bukti yang berkembang tentang penularan new coronavirus melalui udara. Agensi menanggapi segera, memanggil Lidia Morawska, Pemimpin Kelompok dan Konsultan WHO lama, untuk mengatur pertemuan.
 
Tetapi, diskusi tersebut didominasi oleh beberapa ahli yang merupakan pendukung setia gerakan cuci tangan dan merasa itu harus ditekankan pada aerosol. Saran dari komite pun tetap tidak berubah.
 
Lantaran demikian, Morawska dan yang lainnya menunjuk beberapa insiden yang mengindikasikan penularan virus melalui udara, terutama di ruang tertutup yang berventilasi buruk. Mereka mengatakan, WHO membuat perbedaan buatan antara aerosol kecil dan tetesan yang lebih besar, meskipun orang yang terinfeksi menghasilkan keduanya.
 
"Kami sudah tahu sejak 1946 bahwa batuk dan berbicara menghasilkan aerosol," papar Linsey Marr selaku Ahli Penularan Virus Melalui Udara di Virginia Tech.
 
Para ilmuwan memang belum dapat menumbuhkan coronavirus dari aerosol di laboratorium, tetapi itu bukan berarti aerosol tidak infektif. Menurut Linsey Marr, sebagian besar sampel dalam percobaan tersebut berasal dari kamar rumah sakit dengan aliran udara yang baik yang akan melemahkan tingkat virus.
 
"Di sebagian besar bangunan, nilai tukar udara biasanya jauh lebih rendah, memungkinkan virus menumpuk di udara dan menimbulkan risiko yang lebih besar," jelasnya.
 

(FIR)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif