Ada beberapa kesalahpahaman mengenai sembelit atau konstipasi pada anak. Berikut informasinya. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Ada beberapa kesalahpahaman mengenai sembelit atau konstipasi pada anak. Berikut informasinya. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Empat Mitos Seputar Konstipasi pada Anak

Rona kesehatan pencernaan
Anda Nurlaila • 10 Juni 2019 17:56
Ahli urologi pediatrik di Fakultas Kedokteran Universitas Wake Forest Steven Hodges mengatakan kebanyakan anak atau orang tua mengalami sembelit dari waktu ke waktu, dan tidak selalu serius. Tapi bila dibiarkan, seiring waktu rektum yang memanjang menyebabkan kotoran sulit didorong keluar atau pada anak sering buang air tak terkendali.
 

 
Jakarta:
Salah satu penyebab sakit perut yang paling umum pada anak disebabkan konstipasi. Banyak pemikiran yang keliru mengenai sembelit sehingga memengaruhi perawatan pada balita dan anak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ahli urologi pediatrik di Fakultas Kedokteran Universitas Wake Forest Steven Hodges mengatakan, orang tua sering kali tidak tahu bahwa anak mengalami sembelit. Atau menganggap sembelit hanya masalah kecil dan dapat diatasi dengan asupan buah dan sayut lebih banyak.
 
Mengutip Parents, ada beberapa kesalahpahaman mengenai sembelit atau konstipasi pada anak:

1. Mitos: Sembelit bukan masalah besar

Kebanyakan orang mengalami sembelit dari waktu ke waktu, dan tidak selalu serius. Tapi sembelit dapat menjadi kronis termasuk pada anak. Saat mengalami sembelit kronis, dubur anak penuh tinja yang keras dan besar.
 
Selain tidak nyaman, rektum akan membesar dan menekan kandung kemih. Pada gilirannya anak akan lebih sering buang kecil dan mengompol bahkan di siang hari.
 
Bila dibiarkan, seiring waktu rektum yang memanjang menyebabkan kotoran sulit didorong keluar atau anak sering buang air tak terkendali. "Sembelit kronis juga merupakan penyebab utama infeksi saluran kemih berulang pada anak perempuan," tambah Hodges.
 
Empat Mitos Seputar Konstipasi pada Anak
(Ahli urologi pediatrik di Fakultas Kedokteran Universitas Wake Forest Steven Hodges mengatakan kebanyakan anak atau orang tua mengalami sembelit dari waktu ke waktu, dan tidak selalu serius. Tapi bila dibiarkan, seiring waktu rektum yang memanjang menyebabkan kotoran sulit didorong keluar. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

2. Mitos: Orang tua tahu kapan anak sembelit

Banyak orang tua tidak menyadari anak mengalami konstipasi bahkan mungkin sedang mengalami konstipasi kronis serius.
 
"Hasil rontgen pasien dengan keluhan mengompol dan tidak dapat mengendalikan BAB 90 persen terbukti mengalami sembelit parah. Hanya lima persen orang tua yang menyadarinya," kata Hodges.
 
Bahkan banyak dokter anak juga tidak menyadarinya. Jika anak jarang buang air besar dan mengeluh sakit perut, ini mungkin pertanda ia mengalami konstipasi.

3. Mitos: Anak-anak yang buang air setiap hari tidak sembelit

Bahkan anak-anak yang buang air setiap hari bisa sembelit karena saat buang air tidak mengosongkan usus besar mereka. "Ternyata, ukuran dan konsistensi lebih penting daripada frekuensi," kata Hodges. Ia menyatakan kotoran yang berbentuk pelet atau berukuran besar dan keras adalah tanda seseorang mengalami sembelit.

4. Mitos: Makan lebih banyak serat meringankan sembelit

Secara alami serat menjaga sistem pencernaan lebih lancar. Tetapi diet anak saat ini yang penuh dengan makanan olahan sedikit sekali mengandung serat.
 
Ekstra serat dalam makanan juga tidak selalu dapat memperbaiki sembelit. "Saat anak mengalami sembelit berkepanjangan yang menyebabkan ketidaknyamanan, perbaikan pola makan tidak cukup," kata Hodges.
 
Bagi anak dengan konstipasi kronis, pemberian pencahar osmotik harian seperti Miralax atau lactulose membantu meringankan sembelit. Hodges merekomendasikan kombinasi obat pencahar dengan enema bagi anak yang mengalami insiden.
 
Bicarakan dengan dokter spesialis anak jika anak memperlihatkan gejala-gejala konstipasi. Anda bisa mengunjungi beberapa rumah sakit seperti RSCM - Kencana, Rumah Sakit Asri, atau Rumah Sakit Mitra Internasional. Atau konsultasikan dengan dokter di pusat layanan terdekat dari rumah Anda.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif