Kampanye Gerak Tak Terbatas dan Aplikasi Gerak 2.0 dari Rexona, di M-Bloc Live House, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Desember 2019. (Foto: Krispen/Medcom.id)
Kampanye Gerak Tak Terbatas dan Aplikasi Gerak 2.0 dari Rexona, di M-Bloc Live House, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Desember 2019. (Foto: Krispen/Medcom.id)

Kemenkes Imbau Masyarakat untuk Aktif Bergerak

Rona kemenkes
Sunnaholomi Halakrispen • 04 Desember 2019 19:48
Jakarta: Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2018, masyarakat Indonesia masih kurang melakukan aktivitas fisik. Padahal, kurangnya aktivitas fisik dapat memperbanyak risiko terkena beragam penyakit tidak menular.
 
Produktivitas manusia pun sehari-hari bisa semakin menurun. Bahkan, berdasarkan data WHO, pola hidup yang kurang aktif dinyatakan sebagai salah satu dari 10 penyebab kematian terbesar di dunia.
 
"Untuk itu, bergerak dengan aktif adalah hal yang penting dan mendasar untuk kita terapkan sehari-hari guna menunjang kesehatan dan produktivitas," ujar Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan RI, drg. Kartini Rustandi, dalam Kampanye Gerak Tak Terbatas dan Aplikasi Gerak 2.0 dari Rexona, di M-Bloc Live House, Jakarta Selatan, Rabu, 4 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Aktif bergerak juga sejalan dengan budaya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau Germas yang selama ini digadangkan Kemenkes. Seluruh masyarakat diajak untuk lebih aktif bergerak dalam menjalankan hidup sehat.
 
Lebih lanjut, Kartini memaparkan bahwa masyarakat diimbau untuk terus terpacu melakukan aktivitas fisik yang cukup. Sehingga tercipta Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, produktif, dan mampu berkontribusi maksimal dalam membangun bangsa. Hal tersebut sejalan dengan amanat Presiden Joko Widodo.
 
"Kemajuan zaman penyebabnya. Padahal bukan cuma kemudahan supaya tidak beraktivitas. Sekarang ada jam buat pacar, treatmill buat lari indoor. Kurang gerak kan membangun situasi diri sendiri," tutur Kartini.
 
Diri sendiri yang membuat tubuh terbatasi. Salah satu contohnya, kondisi kerja yang terlalu lama duduk dijadikan alasan untuk tidak bergerak aktif. Padahal, diri sendiri paham bagaimana manfaat baik dari bergerak.
 
"Hampir sama antara di kota dengan desa geraknya. Adik-adik main gadget duduk. Lain dengan zaman dahulu yang bisa main di luar, main petak umpet, benteng-bentengan, dan lain-lain," paparnya.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif