Pasien yang terkena virus cacar monyet.(Foto: CDC Public Health Image Library)
Pasien yang terkena virus cacar monyet.(Foto: CDC Public Health Image Library)

Virus Monkeypox pada Manusia Ditemukan Sejak 1970

Rona Cacar Monyet
Anda Nurlaila • 06 Juli 2019 11:37
Virus cacar langka Monkeypox atau cacar monyet ditemukan sejak 1970. Bahkan Nigeria sempat mengalami wabah monkeypox sejak 1978. 
 
 
Jakarta:  Seorang pria Nigeria berusia 38 tahun yang memasuki Singapura terdeteksi positif terjangkit virus cacar langka Monkeypox atau cacar monyet.  
 
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), monkeypox adalah penyakit yang disebabkan virus langka. Virus ini hidup pada hewan, termasuk primata dan hewan pengerat, tetapi kadang-kadang bisa menular dari hewan ke manusia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baik monkeypox maupun cacar berasal dari keluarga poxvirus yang disebut orthopoxvirus. Kasus mokeypox pertama yang diketahui terjadi di provinsi Equaire Zaire atau Kongo. Sejak 1970, kasus monkeypox pada manusia telah dilaporkan di 10 negara Afrika, termasuk Pantai Gading, Liberia, Nigeria, dan Sierra Leone. Pada 2017, Nigeria mengalami wabah monkeypox pertama sejak 1978, dengan 172 kasus.
 
Awalnya cacar monyet terbatas pada hutan hujan di Afrika tengah dan barat. Pada 2003, beberapa orang diidentifikasi di Amerika Serikat bagian barat menderita demam, ruam, gejala pernapasan, dan limfadenopati. Ini terjadi setelah terpapar anjing yang terinfeksi virus monkeypox. 
 
Pada wabah AS 2003, impor hewan tanpa gejala menularkan virus patogen ke hewan setempat. Usai masa inkubasi rata-rata 12 hari, hewan itu menjadi sakit dan mampu menularkan patogen kepada manusia mengalami kontak dengan hewan. 
 
Penularan
 
Meskipun monkeypox dan cacar punya gejala sama, monkeypox tidak sama bahayanya dengan cacar: Tingkat kematian akibat monkeypox antara 1 persen dan 10 persen. Sebaliknya, cacar memiliki tingkat kematian sekitar 30 persen.
 
Orang yang terinfeksi monkeypox bisa menyebarkan penyakit ke orang lain, sebagian besar lewat percikan ludah yang keluar ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Tapi biasanya virus ini tak bisa bertahan lama, kecuali terjadi kontak dalam jangka waktu panjang dengan penderita.
 
Orang juga bisa tertular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi kulit yang terinfeksi. Penularan lainnya melalui ontak tidak langsung dengan pakaian yang terkontaminasi.
 
Tanda dan gejala
 
Masa inkubasi monkeypox biasanya dari 6 hingga 16 hari. Tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Infeksi terjadi dalam dua tahap:
 
Invasi, pada 0-5 hari ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati atau pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang intens (kekurangan energi). 
 
Periode selanjutnya adalah erupsi atau lesi kulit dalam 1-3 hari setelah munculnya demam. Ruam muncul di wajah dan menyebar di tempat lain di tubuh seperti telapak tangan dan telapak kaki. Lesi  juga dapat ditemukan di membran mukosa mulut, genitalia dan kelopak mata, serta kornea (bola mata).
 
Diagnosis
 
Diagnosis yang dipertimbangkan termasuk akibat penyakit ruam lain, seperti cacar, cacar air, campak, infeksi kulit akibat bakteri, kudis, sifilis, dan alergi terkait obat. Monkeypox hanya dapat didiagnosis secara pasti di laboratorium di mana virus dapat diidentifikasi dengan sejumlah tes berbeda.
 
Pengobatan dan vaksin
 
Tidak ada perawatan khusus atau vaksin untuk infeksi monkeypox, tetapi wabah dapat dikendalikan. Vaksinasi terhadap cacar telah terbukti 85 persen efektif mencegah monkeypox di masa lalu. Namun vaksin tidak lagi tersedia setelah dihentikan setelah pemberantasan cacar global.  Vaksinasi cacar kemungkinan akan membantu meringankan gejala. 
 
Pencegahan
 
Mengurangi risiko infeksi pada orang
 
Kontak dengan pasien adalah faktor risiko paling signifikan untuk infeksi virus monkeypox. Karena tidak ada vaksin cacar monyet, satu-satunya cara untuk mengurangi infeksi pada orang adalah dengan meningkatkan kesadaran tentang faktor risiko. Beberapa yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko adalah:
 
Mengurangi risiko penularan dari hewan ke manusia 
 
Hindari kontak dengan tikus dan primata.  Membatasi paparan langsung terhadap darah dan daging, serta memasaknya secara menyeluruh sebelum dikonsumsi. Gunakan sarung tangan dan pelindung lainsaat menangani hewan yang sakit atau jaringannya yang terinfeksi, dan selama prosedur pemotongan.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif